
Usai menerima pesan berupa video serta foto kebersamaan suami dan anaknya, Karin segera menyusun strategi untuk dapat memiliki Sean sepenuhnya. Bermodalkan pengalaman di masa lalu, ia berniat menjebak sang suami dengan cara licik yang pernah dilakukan kepada teman dari sepupunya.
"Saat waktunya tiba, akan kugunakan tanganku sendiri untuk mengusirmu dari rumah ini, Sean. Sekalipun kamu bersujud di kakiku, tetapi hatiku tak akan goyah. Sudah sekian lama kamu membuatku menderita dan kini giliranku memberi balasan atas apa yang pernah kamu lakukan kepadaku selama ini. Aku bersumpah!" ujar Karin sambil memandang sinis pada beberapa slide foto yang ada di telepon genggam miliknya.
***
"Loh, Tuan, jalanan ini 'kan bukan menuju kantor." Clarissa berseru dari kursi belakang. Wanita itu tengah memangku Xena yang sedang tertidur lelap. Entah karena terlalu lelah habis pentas di hadapan orang banyak atau memang karena dia kekenyangan sehabis menikmati semua hidangan lezat dari restoran milik sahabat dari sang mommy.
Wanita bermata almond yang duduk di kursi penumpang, mengamati jalanan sekitar dari dalam mobil. Kendaraan roda empat milik sang bos melaju memecah jalanan ibu kota, tetapi bukan ke arah gedung milik perusahaan Anderson Grup melainkan menuju sebuah mall terbesar yang ada di kawasan Jakarta Selatan.
Sean melirik sekilas ke arah Clarissa dari kaca spion yang ada di tengah mobil, lalu kembali menatap jalanan di depan sana. Dengan suara dingin ia menjawab, "Jalanan ini memang bukan menuju kantor melainkan ke sebuah tempat rahasia yang tidak bisa saya beritahu."
Alis Clarissa mengerut sambil terus memperhatikan kemahiran Sean kala melajukan kendaraan roda empat milik keluarga Anderson. "Memangnya kita akan pergi ke mana, Tuan? Kenapa saya merasa Anda tengah menyembunyikan sesuatu." Sekretaris itu kembali bertanya. Ia penasaran sebetulnya Sean hendak membawa wanita itu ke mana.
"Cerewet kamu!" tegur Sean. "Sudah, lebih baik kamu duduk yang manis dan tolong jaga Xena. Jangan sampai dia terjatuh karena kelalaianmu menjaganya."
Clarissa mencebikkan bibir hingga bibir ranum itu maju beberapa centi ke depan. Kendati demikian, ia menuruti perintah sang CEO. Duduk manis di kursi belakang sambil mengusap lembut puncak kepala putri dari atasannya. Senyuman tipis terlukis di bibir kala melihat gadis kecil itu tersenyum dalam tidur.
Kini, Sean dan Clarissa sudah berada di sebuah butik milik kenalan Anita. Butik dua lantai tersebut menjual aneka ragam pakaian pria dan wanita serta anak-anak.
"Kenapa kita ke sini, Tuan?" tanya Clarissa kebingungan. Sepasang mata almond memindai seisi ruangan dua lantai tersebut.
__ADS_1
Sean menjawab dengan nada kesal. "Tentu saja membeli pakaian, Nona Clarissa! Memangnya kamu pikir, saya mengajakmu ke sini untuk apa selain untuk membeli pakaian. Seluruh pakaian di butik ini didesain oleh desainer terkenal dengan kain terbaik kualitas nomor satu," paparnya dengan air muka penuh kekesalan di wajah rupawan.
"Loh, saya 'kan tidak meminta Anda mengantarkan ke butik. Lalu, kenapa tiba-tiba Tuan mengajak saya ke sini," sewot Clarissa. Sedikit kesal atas sikap Sean yang seenak jidat membawanya berbelanja padahal dia sedang tidak ingin membeli sesuatu.
Rahang Sean mengeras dengan kedua tangan mengepal di samping badang hingga memperlihatkan otot halus di punggung tangan. Ingin rasanya pria itu berteriak kencang di hadapan Clarissa, tetapi entah kenapa suara tuan muda Anderson tercekat bagai sebongkah kaktus mengganjal di tenggorokan. Setiap kali melihat wanita itu, timbul rasa tidak tega bila harus memarahi sekretarisnya. Lantas, ia hanya dapat menghela napas kasar sambil mencoba menguasai diri.
"Satu minggu yang akan datang Papa dan Mama melangsungkan wedding anniversary ke-27 tahun. Seluruh karyawan perusahaan diundang dan kamu sebagai sekretaris wajib mengenakan pakaian bagus agar tak membuat saya malu di hadapan para rekan bisnis, klien serta pemegang saham. Saya tidak mau mereka menggunjingkanmu karena tampil norak saat acara pesta berlangsung," papar Sean, menjelaskan kenapa dia membawa Clarissa pergi ke butik.
"Tapi, Tuan. Saya--" Belum usai Clarissa menyelesaikan kalimatnya, Sean sudah menjentikan sebelah tangannya ke udara hingga seorang wanita bergegas menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan." Seorang pramuniaga wanita berkata lembut sambil mengulas senyum di wajah.
"Baik, Tuan. Saya pasti memberikan yang terbaik untuk istri Anda." Senyum semakin mengembang di sudut bibir. Hati berbunga-bunga karena ia mendapat kesempatan melayani anak semata wayang David Anderson, seorang pebisnis sukses yang terkenal begitu royal dan humble meski dia adalah orang kaya yang harta kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan.
Mendengar pramuniaga toko menyebut Clarissa sebagai istrinya, wajah Sean malah merah merona bagai kepiting rebus. Tak ingin ada seseorang yang melihat ia tengah tersimpu malu seperti seorang remaja tanpa sengaja bertemu dengan pujaan hati di sekolah. Lantas, ia memalingkah wajah keluar jendela menatap pemandangan di sekitar.
Sementara Xena, gadis kecil itu terkikik mendengar perkataan sang pramuniaga. Meletakan telapak tangan di depan bibir berusaha meredam suara tawa agar tidak terdengar oleh Sean.
"Daddy, aku setuju kalau Tante Clarissa menjadi Mommy-ku. Aku lebih suka Tante Clarissa mengantikan Mommy Sabrina daripada Mama Karin," celetuk Xena ketika ia dan Sean duduk di kursi tunggu ruang VIP.
Seluruh pegawai tahu bahwa customer yang tengah datang ke butik bukanlah sembarang orang. Terlihat dari bros berbentuk sayap dengan bagian tengah bertuliskan huruf AG yang tertempel di bagian dada Sean. Bros tersebut merupakan identitas bagi seorang penerus perusahaan Anderson Grup dan salah satu customer penting dari Aira Boutique.
__ADS_1
Sean menutup majalah yang sedang ia baca, lalu meletakkannya di atas meja bulat terbuat dari kaca. Memicingkan mata ke arah Xena. "Menggantikan Mommy? Memangnya, kenapa kamu tidak menyukai Mama Karin. Bukankah Mama Karin menyayangi dengan sepenuh hati." Pria itu penasaran kenapa anak tercinta lebih menyukai wanita asing daripada ibu sambungnya sendiri yang telah lama berada di sisi gadis kecil itu.
Gadis bermata hazel membulatkan mata. Tampaknya dia telah salah ucap hingga membuat Sean curiga.
Teringat ancaman Karin beberapa hari lalu membuat Xena gugup bukan kepalang. Seketika tubuh gadis itu merinding kala mengingat hewan menjijikan yang sangat dibenci olehnya.
"Eum ... aku sayang kok kepada Mama. Tapi aku bosan selalu bermain dengan Mama Karin dan Mbak Imelda. Oleh karena itu, ingin punya Mama baru agar aku punya teman bermain baru." Xena terpaksa berbohong di hadapan Sean. Ia tidak mau jikalau Karin menghukumnya di gudang, tidur bersama kecoak hanya beralaskan kardus tanpa selimut menutupi tubuh.
Putra tunggal David Anderson beringsut mendekati tempat duduk Xena. Posisi ayah dan anak saling berhadapan. Ia mengampit ujung dagu dengan jari telunjuk dan ibu jari. "Xena, Sayang. Kalau kamu ada masalah, jangan dipendam, Nak. Katakan saja kepada Daddy, apa yang sebenarnya terjadi menimpamu. Daddy pasti menolong kamu."
Alih-alih menceritakan kejahatan Karin selama menjadi ibu sambung, Xena malah berusaha keras menutup rapat keburukan sang mama.
"Iya, Daddy. Aku pasti memberitahumu," ucap Xena sambil menarikan kedua sudut bibir ke atas. "Daddy tenang saja ya." Mengecup sebelah pipi kanan Sean penuh cinta. "I love you, Daddy."
I'm so sorry, Daddy. Aku tidak bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya kepadamu. Tuhan, maafkan aku karena telah membohongi Daddy.
.
.
.
__ADS_1