Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Breaking News


__ADS_3

"Breaking news untuk hari ini, pewaris tunggal Anderson Grup akan menggelar resepsi pernikahan yang sangat meriah bersama dengan seorang wanita cantik yang merupakan sekretarisnya di perusahaan. Kabarnya, mereka telah menikah siri sejak dua bulan lalu dan kini mereka tengah menanti kehadiran bayi mungil dalam keluarga Anderson."


Suara penyiar berita di televisi membuat Karin yang sedang menikmati makan siangnya langsung menghentikan sejenak kegiatannya. Bola mata wanita itu melebar sempurna, rahang terbuka lebar dan dagunya hampir saja terlepas. Kelopak mata mantan istri Sean tak berkedip saat wajah Sean dan Clarissa muncul di televisi. Wajah sepasang suami istri itu sumringan, semburat kebahagiaan terpancar di sorot mata masing-masing. Karin benar-benar terpana karena tak menduga kalau rencananya untuk menghancurkan rumah tangga mereka sia-sia.


"Sialan! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Bukankah aku sudah memberikan bukti bahwa Jal*ng itu telah selingkuh di belakang Sean? Lalu, kenapa sekarang hubungan mereka malah baik-baik saja! Aargh! Sialan. Benar sial!" pekik Karin seraya melemparkan gelas serta piring yang ada di ata meja makan sehingga terdengar suara pecahan menggema memenuhi penjuru ruangan.


"I-itu ... berita itu pasti halusinasiku saja. Sean tidak mungkin menggelar resepsi pernikahan seperti yang diberitakan barusan." Kepala Karin menggeleng, bola matanya tidak fokus, bergerak ke sana kemari. "Ya, aku yakin saat ini Sean dan Clarissa sedang bertengkar hebat. Mereka saling menghina satu sama lain. Lalu, Sean menampar Clarissa dan mengusir wanita itu dari kediaman Anderson."


Karin meracau tidak jelas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal hingga membuat rambutnya yang panjang menjadi berantakan. Ia masih belum percaya atas apa yang baru saja diberitakan di televisi.


Di saat Karin masih sibuk dengan pikirannya sendiri, di luar sana terdengar suara bel pintu berbunyi. Seorang asisten rumah tangga bergegas membuka pintu tanpa ingin mengganggu sang majikan.


"Nyonya Karin ... di depan a-ada ...."


"Enyah kamu dari hadapanku! Aku tidak mau bertemu dengan siapa pun!" hardik Karin sebelum asisten rumah tangga menyelesaikan kalimatnya.


"Tapi, Nyonya. Di depan ...." Asisten rumah tangga Karin menggantung ucapannya seolah takut untuk berbicara. Tatapan mata Karin begitu tajam, membuat wanita paruh baya itu merinding setengah mati. "Ada p-polisi, Nyonya."


Mata Karin membulat sempurna ketika mendengar asisten rumah tangganya mengatakan bahwa ada polisi datang ke apartemen. Ia semakin dibuat terkejut kala melihat dua orang pria berseraham coklat berdiri di belakang tubuh bik Sarinah.

__ADS_1


"M-mau apa kalian ke mari? Siapa yang memberikan izin kalian masuk ke apartemenku?" tanya Karin tergagap. Detak jantung wanita itu tak beraturan disertai keringat dingin yang mulai muncul ke permukaan.


"Kami membawa surat penangkapan atas nama Karin Larasati atas tuduhan penganiayaan terhadap Nona Xena Anderson, pembunuhan dan juga percobaan pembunuhan terhadap Nona Jenia." Lalu, salah satu polisi itu menyerahkan surat sebagai bukti kepada Karin.


Dengan tangan gemetar, Karin menerima lembaran surat tersebut kemudian membacanya. "I-ini ... tidak mungkin. Jeni? Bukannya dia sudah meninggal?" Dalam hati bertanya-tanya kenapa polisi bisa menangkapnya atas tuduhan percobaan pembunuhan sedangkan kejadian itu telah berlangsung lima tahun yang lalu. Selain itu, saat kejadian tidak ada saksi dan bukti yang akan memberatkannya.


"Kalian berdua pasti salah orang. Aku tidak kenal siapa itu Jeni." Karin menyodorkan kembali lembara kertas tersebut lalu membuangnya begitu saja. "Sebaiknya kalian pergi dari sini. Aku lelah dan ingin istirahat."


Mantan istri Sean hendak meninggalkan ruangan itu, tapi salah satu pria berseragam coklat mencekal lengannya. "Anda bisa jelaskan di kantor polisi. Namun, saat ini sebaiknya Anda ikut kami." Tanpa basa basi, kedua polisi itu menggiring Karin keluar ruangan.


"Hei, apa-apa kalian! Sudah kukatakan, aku tidak bersalah. Aku tidak tahu siapa Jeni!" teriak Karin saat kedua polisi itu membawanya secara paksa.


***


"Baik, Jack, aku akan segera ke kantor polisi. Terima kasih atas bantuanmu," kata Clarissa seraya mematikan sambungan telepon. Ada senyum tipis terbit di sudut bibir wanita itu. Setelah sekian lama bersabar, menunggu waktu yang tepat menjebloskan Karin ke penjara akhirnya waktu itu pun tiba. Dengan tangannya sendiri dibantu Jack, ia berhasil membalas dendam atas kepergian sang papa dan calon anaknya yang masih berusia dua bulan.


Kini, sudah waktunya Clarissa melepaskan beban itu sebelum akhirnya hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya kelak. Namun, sebelum itu ia ingin bertemu Karin untuk terakhir kalinya.


"Sayang, kamu habis telepon siapa?" panggil Sean seraya memeluk Clarissa dari belakang. Meletakkan dagunya di pundak sang wanita.

__ADS_1


Tangan Clarissa terangkat ke atas, kemudian mengusap puncak kepala Sean dengan penuh kelembutan. "Aku habis menerima panggilan telepon dari Jack. Dia mengatakan bahwa Karin sudah masuk penjara." Wanita itu membalikan badan hingga tubuh mereka saling berhadapan. "Seandainya aku menemui Karin untuk terakhir kali, apakah boleh?"


Sean menangkup wajah Clarissa, kemudian menatap lekat iris coklat milik istrinya. "Boleh. Tapi kamu harus ditemani oleh Lori dan dua pengawal lainnya. Aku tidak mau terjadi hal buruk menimpamu dan calon bayi kita."


Clarissa tersenyum mendengar jawaban Sean. Wajah wanita itu disandarkan pada dada bidang suami tercinta. Ia bisa mendengar detak jantung sang lelaki dengan mata yang terpejam. Menahan desiran lembut kala mereka berdekatan.


"Terima kasih, Sayang. Aku merasa beruntung telah memilikimu. I love you, Sean Anderson," kata Clarissa lirih. Meskipun begitu, Sean masih dapat mendengar ungkapan cinta yang jarang sekali diucapkan dari bibir ranum berwarna merah muda.


"Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku sebagai kepala keluarga, menjaga dan memastikan keselamatan kalian semua." Usai mengucapkan kalimat tersebut, Sean semakin mengeratkan pelukan. Mendekap wanita itu seakan ia enggap melepaskannya walau hanya sedetik saja.


Tanpa disadari oleh mereka, sedari tadi ada dua pasang mata tengah memperhatikan sepasang suami istri itu. Kedua sudut mereka tertarik ke atas kala menyaksikan pemandangan di depan sana. Ada rasa haru dan bahagia membaur menjadi satu.


"Akhirnya putraku kembali menemukan kebahagiaannya setelah ditinggal pergi Sabrina," ucap Anita sembari mengusut buliran kristal di sudut mata. Dulu ia berpikir kalau Karin yang akan memberikan kebahagiaan kepada Sean. Namun, ternyata Karin malah memberikan neraka bagi anak serta cucunya.


David hanya tersenyum dan tertawa kecil mendengar perkataan Anita. Ia mengusap punggung istrinya dan berkata, "Kamu benar, Ma. Aku pun merasa bersyukur karena Sean tidak salah memilih istri. Dia dapat melihat wanita mana yang bisa dijadikan istri dan ibu terbaik bagi Xena. Sekarang kita tinggal mendo'akan mereka semoga rumah tangga anak dan menantu kita langgeng hingga maut memisahkan."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2