
Mendapat sapaan hangat dari orang yang tidak dikenal, membuat wanita itu memperhatikan Clarissa dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Memandangi setiap inci tubuh sang sekretaris tanpa ada yang terlewatkan.
Kulit putih, bersih bagai porselen dengan hidung mancung, mata almond dan bulu mata lentik serta senyuman manis membuat sekretaris Sean tampak begitu memukau. Timbul rasa tidak percaya diri kala memandangi paras cantik anak angkat Alvin Smith, sebab wanita yang kini berstatuskan sebagai seorang sekretaris di perusahaan Anderson Grup nyaris mendekati kata sempurna walau di dunia ini tidak ada yang sempurna selain Sang Pencipta.
Merasa kecantikannya tersaingi, wanita yang berdiri dari jarak lima langkah di depan Clarissa mengepalkan telapak tangan dengan suara gemelutuk gigi terdengar nyaring di telinga. Gejolak emosi mendidih hingga ke ubun-ubun. Seandainya saja seseorang meletakkan sebuah panci di atas kepala wanita itu, sudah dapat dipastikan air mendidih hanya dqlam hitungan detik saja.
Menghunuskan tatapan tajam ke arah Clarissa sambil bertanya, "Siapa, kamu! Kenapa bisa ada di dalam rumah ini!" Nada suara meninggi hingga seluruh jendela di bangunan megah itu bergoyang akibat lengkingan suara dari wanita yang tak lain adalah ... Karina. "Lalu, siapa yang mengizinkanmu duduk di sofa ini!"
Semakin lama menatap wajah Clarissa, rasa iri, dengki dan ketidaksukaan pada sang sekretaris terpancar jelas di sorot mata Karin. Terlebih, melihat senyuman penuh arti yang diberikan oleh wanita bermata almond membuat nyonya muda Anderson tampak semakin geram.
Alih-alih menghentikan senyuman di sudut bibir, Clarissa semakin menaikkan kedua sudut bibir ke atas. Ia berikan senyuman termanis yang dimiliki khusus kepada Karina, istri kedua sang bos.
"Perkenalkan, nama saya adalah Clarissa. Kedatangan saya ke sini atas perintah dari Tuan Sean Anderson. Beliau meminta saya datang ke mansion ini untuk mengambil beberapa berkas penting terkait proyek pembangunan rumah sakit di kota M," tutur Clarissa.
"Proyek penting? Di kota M?" tanya Karin mengulang kembali beberapa penggalan kalimat yang diucapkan oleh Clarissa.
Wanita bermata almond menganggukan kepala cepat. "Benar. Hari ini saya dan beliau akan pergi bersama selama tiga hari ke depan. Namun, tidak menutup kemungkinan kami extend beberapa hari hingga segala urusan di sana selesai."
"Apa? Jadi ... k-kamu dan dia akan pergi bersama. Begitu?" tanya Karina lagi. Mata wanita itu terbelalak sempurna. Rahang terbuka lebar karena terlalu terkejut akan informasi yang didengar olehnya barusan.
Bagaimana Karina tidak terkejut, Sean sama sekali tak memberitahu padanya jikalau pria itu hendak pergi ke luar kota selama beberapa hari. Padahal, status dia di rumah itu adalah nyonya muda Anderson sekaligus istri sah Sean. Namun, Sean seakan tak pernah menganggapnya ada.
Clarissa memperhatikan perubahan air muka Karina serta gerak gerik wanita di hadapannya. Terlihat jelas kilatan emosi dalam diri istri kedua Sean.
Dada bergerak kembang kempis, rahang menonjol ke luar membuat Clarissa sangat yakin jikalau Karina tengah menahan amarah dalam dirinya. Maka ... kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh sang sekretaris.
"Ehm ... memangnya Tuan Sean tidak memberitahu Nyonya perihal ini?" tanyanya sambil memicingkan mata. Sengaja memberikan pertanyaan tersebut untuk memprovokasi Karina. Ada misi tersendiri kenapa dirinya mencoba mengadu domba pasangan suami istri itu. Apalagi kalau bukan misi ... balas dendam.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan begitu, lantas membuat Karin gelagapan. Bola mata wanita itu tidak fokus, bergerak ke sana kemari tak tentu arah.
"Tentu saja memberitahuku!" sergah Karin cepat. "Sean itu sangat mencintaiku. Jadi, apa pun yang terjadi dengannya dia pasti memberitahuku sebelumnya. Tadi ... aku hanya lupa saja hingga tidak ingat kalau hari ini dia pergi dinas keluar kota."
Wanita yang selalu tampil modis dengan segala barang branded membungkus tubuh tersenyum dibuat-buat. Berusaha keras menutupi keretakan mahligai rumah tangganya dengan Sean yang terjalin tanpa adanya rasa cinta di dalam hati sang sang lelaki.
Clarissa mengangguk-anggukan kepala. "Oh begitu rupanya. Saya pikir Tuan Sean tidak memberitahu Nyonya."
***
Sean melangkah keluar dari dalam kamar menuju ruang tamu. Usai berolahraga, pria kelahiran dua puluh tujuh tahun silam bergegas membersihkan diri dan bersiap pergi ke landasan pacu jet pribadi milik keluarga Anderson. Empat buah berkas penting berada di tangan kanan. Ia berniat memberikan berkaa tersebut kepada sekretaris pribadinya, Clarissa.
Melangkah dengan langkah kaki panjang, menuruni undakan anak tangga hingga mencapai lantai dasar. Sean bertanya pada seorang pelayan saat dirinya berpapasan di ruang keluarga. "Apakah sekretarisku sudah datang? Kamu sudah persilakan dia duduk dan menjamunya dengan baik, 'kan?"
Pelayan itu menganggukan kepala. "Sudah, Tuan. Kami sudah menuruti apa yang Anda perintahkan. Saat ini, Nona Clarissa sedang berada di ruang tamu. Dia ... sedang berbincang dengan Nyonya Karin," ucapnya lirih. Terlihat pelayan itu menundukan kepalanya tak berani menatap Sean karena tahu jika dirinya telah melakukan sebuah kesalahan.
"Shiit! Kenapa tidak memberitahuku sejak tadi heh! Bagaimana kalau Karin bertindak bodoh dan malah mencelakai sekretarisku!" sentak Sean dengan sorot mata berapi-api.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi--"
"Diam! Aku tidak butuh penjelasanmu!" sembur Sean. Ia kesal karena tak ada satu orang pelayan pun yang memberitahunya.
Tak ingin terjadi hal buruk menimpa Clarissa, pria itu berjalan setengah berlari menghampiri sekretarisnya. Suara derap langkah sepatu mahal milik tuan muda Anderson menggema seirama dengan detak jantung tak beraturan. Entah kenapa, ia begitu mencemaskan wanita itu. Khawatir Karin nekad melakukan sesuatu kepada sang sekretaris.
"Karin!" seru Sean dari jarak beberapa langkah di belakang dua wanita itu.
Clarissa dan Karin menoleh ke sumber suara. Menatap pria itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Sweetheart, rupanya kamu di sini. Aku pikir kamu--" Suara Karin menggantung di udara. Pupil mata melebar kala melihat telapak tangan Sean terangkat ke udara.
"Pelayan. Tolong siapkan sarapan. Aku ingin makan terlebih dulu sebelum berangkat. Siapkan juga satu kursi khusus untuk Nona Clarissa," titahnya pada pelayan wanita berpakaian biru navy dengan celemek berwarna putih.
"Baik, Tuan. Segera laksanakan!" ucap pelayan itu seraya menunduk hormat.
Untuk pertama kalinya, Clarissa sarapan bersama Sean beserta Xena di meja dan kursi yang sama. Tampak mata hazel gadis kecil berusia lima tahun berbinar bahagia.
"Tante, aku mau tambah ayam gorengnya lagi," kata Xena kepada Clarissa. Dia berubah menjadi gadis manja saat di dekat Clarissa.
Dengan senang hati Clarissa menuruti permintaan. Xena. Jemari tangan itu terulur ke depan, hendak meraih satu potong ayam goreng bagian paha bawah.
Sean melihat Clarissa kesulitan karena piring berisi ayam goreng cukup jauh dari jangkauan, lantas menyodorkan piring tersebut ke hadapan sekretarisnya.
"Terima kasih, Tuan," ucap Clarissa lembut.
Sedari tadi, Karin menyaksikan setiap gerak gerik dua insan manusia beda jenis kelamin itu. Sikap Xena pun begitu ramah terhadap Clarissa.
Mencengkeram gagang sendok dengan sangat erat. 'Sialan! Kenapa sikap Sean terhadap Clarissa begitu beda. Seperti ada sesuatu di antara mereka,' batin Karin. 'Lalu, Xena pun tampak begitu akrab dengan wanita itu. Gawat, kalau sampai suami dan anakku jatuh hati kepada wanita ini. Bisa-bisa aku didepak dari sini dan tak dapat menikmati seluruh harta kekayaan milik keluarga Anderson.'
Karin menggelengkan kepala. 'Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Pokoknya Sean harus menjadi milikku seutuhnya.'
.
.
.
__ADS_1