Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Hanya Sebatas Rekan Kerja


__ADS_3

Di saat Clarissa dan Sean tengah asyik menikmati hidangan yang disediakan oleh chef terkenal di restoran bintang lima, sepasang pria dan wanita sedang bergelung di bawah selimut tebal yang sama. Dua insan manusia itu baru saja menjalankan salah satu ibadah yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri, tetapi tidak bagi mereka. Karin dan kekasihnya itu melakukan hubungan intim tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah di antara keduanya.


"Bagaimana, apakah kamu berhasil menjerat pria itu?" tanya seorang pria yang biasa dipanggil Mister White.


Karin menggelengkan kepala lemah. "Tidak, Sayang. Malam itu di antara aku dan Sean tidak terjadi apa-apa," ucap wanita itu.


"Dasar bodoh! Kenapa bisa gagal, heh! Bukanlah aku sudah membelikanmu gaun malam serta parfum kesukaan Sabrina. Lantas, kenapa kamu tidak berhasil menjerat pria itu!" sembur Mister White dengan meninggikan nada suara. Ia kesal karena rencana yang telah disusun rapi berakhir sia-sia. Padahal, pria itu sangat berharap jika Karin dapat menjalankan tugasnya dengan baik.


Karin tersentak kaget ketika kekasih gelapnya itu membentak dirinya. Walaupun ini bukan kali pertama mister White meninggikan nada suara di hadapannya, tetapi tetap saja dia tidak terbiasa dengan tempramental pria itu.


Kepala menunduk ke bawah, mata tertutup, kedua genggaman tangan saling mencengkeram satu sama lain. Suara teriakan itu membuat Karin kehilangan keberaniannya untuk menatap wajah rupawan sang kekasih.


Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada satu orang pun berani membuka suara. Karin terlalu takut berkata, sedangkan mister White tengah dilanda emosi yang mencapai batas level tertinggi. Terlihat jelas dari wajah yang merah padam, kedua tangan mengepal sempurna hingga memperlihatkan otot-otot menonjol di punggung tangan.


"Apakah kamu tidak mengerahkan kecantikan serta pesonamu saat berdekatan dengan pria itu? Atau jangan-jangan, kamu memang tidak berniat kerjasama denganku untuk menyingkirkan suamimu itu!" tanya Mister White penuh selidik. Sedikit curiga, sebab hingga sekarang Karin tak mampu menaklukan hati Sean meski mereka telah lama menikah.


Refleks, Karin mendongakan kepala saat pria berwajah oriental di sebelahnya menuduh dirinya. "Kenapa kamu menuduhku? Aku sudah menuruti apa yang kamu perintahkan. Mengenakan gaun malam transparan warna merah menyala, memakai wewangian aroma kesukaan Sabrina pun telah kulakukan. Hanya saja, Sean memang tak pernah tergoda oleh bujuk rayuku. Pria itu teguh dengan pendiriannya hingga aku tidak mampu menggodanya."


Mister White berdecak kesal. "Alasan! Bilang saja kalau kamu memang sudah tidak sanggup lagi menjalankan misi yang kupercayakan kepadamu!"


Istri kedua Sean meraih lengan sang kekasih, kemudian ia tatap lekat iris coklat pria itu. "Aku masih sanggup menjalankan misi yang kamu berikan kepadaku, sungguh. Saat ini, aku hanya butuh tambahan waktu untuk bisa menjerat Sean dalam pesonaku. Jadi please, jangan bicara begitu lagi kepadaku. Aku tidak sanggup bila kamu terus menerus menuduhku," pinta Karin penuh harap. Mengerjapkan mata berkali-kali sambil memasang puppy eyes.


Akan tetapi, mister White masih bergeming. Ekspresi wajah pria itu masih menunjukan bahwa dia sedang kesal, sebab untuk kesekian kali, Karin gagal menjalankan perintahnya.

__ADS_1


Tidak ingin menyerah, Karin kembali melontarkan kalimat. "Sayang, aku janji lain kali rencana kita pasti berhasil. Cepat atau lambat Sean akan bertekuk lutut di bawahku dan dia bersedia melakukan apa pun untukku. Di saat itu tiba, kita manfaatkan kesempatan untuk merampas semua harta kekayaan keluarga Anderson."


"Setelah tujuan kita tercapai barulah membuang Sean beserta orang tua dan anaknya yang sangat menyebalkan itu ke jalanan. Aku sudah muak melihat sikap Gadis kecil sialan itu yang tak pernah hormat kepadaku. Dia, si Tua Bangka dan Sean tidak sekalipun menganggapku ada. Mereka memandangku sebelah mata," ujar Karin. Tampak jelas kilatan penuh emosi terpancar di bola mata wanita itu. Ia benar-benar muak dan ingin segera menyingkirkan para parasit itu dari kehidupannya.


Mister White menyingkirkan anak rambutnya yang menutupi sebagian wajah pria itu. Dia melirik sekilas ke arah Karin untuk melihat bagaimana ekspresi wajah wanita itu saat membicarakan hal yang sama. Pria bermata sipit dengan alis tebal yang melengkung indah di atas sepasang mata tajam mendapati sorot mata penuh kebencian terlukis jelas di bola mata sang kekasih.


Lantas, sudut bibir pria itu tertarik ke atas. "Baiklah, aku memberimu kesempatan sekali lagi. Gunakan dengan sebaik mungkin dan jangan pernah kecewakan aku lagi."


Karin mendongakan kepala dengan sangat perlahan. Sedikit demi sedikit netranya dapat menangkap wajah rupawan sang kekasih. "Aku janji tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini," ucap wanita itu lirih. Kemudian ia benamkan kepala di dada bidang Mister White. "Terima kasih, Sayang."


Mister White tersenyum tipis. 'Sean, tunggu pembalasanku,' katanya dalam hati.


***


Setelah selesai menyantap semua hidangan di atas meja, Sean dan Clarissa tidak langsung pulang ke hotel. Sang CEO memutuskan mengajak sekretarisnya pergi untuk menikmati suasana malam hari di kota M. Pria berdarah campuran Amerika Indonesia melajukan kendaraan roda empat yang disewa oleh Ibrahim untuk mengunjungi sebuah tempat yang belum pernah disinggahi sebelumnya.


"Kenapa diam saja?" tanya Sean memandang beberapa detik sebelum akhirnya dia menatap kembali pada jalan gelap yang berhias sedikit penerangan di sisi kanan dan kiri.


"Bukankah tadi Tuan sendiri yang meminta saya untuk tutup mulut. Lantas, kenapa sekarang Tuan malah bertanya padahal Anda sendiri sudah tahu jawabannya," cibir Clarissa. Wanita itu membenarkan posisi duduk hingga kini tubuhnya menyamping ke kanan. "Tuan tahu, sikap Anda saat ini terkesan labil. Seandainya saya adalah klien yang hendak menjalin kerjasama dengan Anderson Grup maka akan mundur saat itu juga, sebab sikap Tuan sangat tidak profesional."


"Setiap klien yang datang ke perusahaan berniat meminta bantuan Anda, tetapi jika sikap pemimpin perusahaan tidak konsisten bagaimana mereka percaya kalau Tuan adalah orang yang bisa dipercaya, mendatangkan keuntungan besar bagi mereka. Mereka pasti ragu akan sikap profesionalitas Anda, Tuan," ujar Clarissa panjang lebar.


Ketika di persimpangan jalan, lampu merah membuat kendaraan berhenti. Begitu pun dengan mobil yang ditumpangi oleh Sean. Wajah dingin tetapi mampu memikat hati para kaum Hawa menoleh ke kiri. "Sudah puas kamu bicara? Atau ... kamu masih ingin mengutarakan isi hatimu kepada saya?"

__ADS_1


"Sudah!" sahut Clarissa singkat.


Sean masih dalam posisi menoleh ke arah Clarissa. "Saya memang memintamu tutup mulut tadi. Namun, saat ini kasusnya berbeda. Kita sudah selesai makan dan semua hidangan telah habis tak tersisa. Jadi, kamu bebas berbicara apa pun selama tidak membuat kepala saya terasa sakit. Itu yang pertama."


"Yang kedua, saya bukanlah tipe pria labil. Jadi, tolong tarik kembali ucapanmu barusan. Saya tidak menyukainya. Terakhir, statusmu di perusahaan adalah seorang sekretaris bukan klien. Mengerti?"


Clarissa melipat kedua tangan di depan dada, memandangi wajah pria yang tengah kesal atas sikapnya beberapa saat lalu. "Oh ... jadi stasus saya hanyalah seorang sekretaris di mata Tuan? Saya pikir di antara kita ada hubungan spesial. Namun, ternyata hanya sebatas rekan kerja biasa." Wanita itu menganggukan kepala. "Tampaknya saya yang telah menyalahartikan kedekatan kita beberapa hari ini."


"Hah? Apa, maksudmu?" tanya Sean. Saking kagetnya sampai pria itu sedikit meninggikan nada suaranya.


Clarissa menghela napas panjang. Ia kembali membenarkan posisi duduk, menghadap ke depan. Pandangan mengarah lurus ke luar jendela. "Tidak ada maksud apa-apa. Sudah, lupakan saja. Anggap saya tidak pernah berkata apa pun!"


"Tapi ...." Sean menghentikan kalimatnya ketika terdengar bunyi klakson dari belakang mobil. Rupanya lampu lalu lintas telah berubah dari merah menjadi hijau.


Sean mulai kembali menekan pedal gas dan memandang jalan di depannya. Sepanjang jalan, tak ada satu orang pun yang berani membuka suara. Dua insan manusia itu tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Akan tetapi, saat kendaraan roda empat yang dikendarai oleh Sean nyaris tiba di tujuan. Suara dering telepon genggam milik Clarissa berbunyi, membuat sang empunya terlonjak kaget di tempatnya. Seulas senyuman terlukis di wajah kala melihat nomor seseorang tercantum di layar ponsel.


Sean yang kebetulan sedang menoleh ke arah kaca spion di sebelah kiri sedikit kesal melihat senyuman lebar di wajah Clarissa.


'Dasar sekretaris bodoh! Untuk apa dia tersenyum sedemikian lebar! Memangnya siapa yang menghubunginya hingga membuat wanita itu tampak berbinar bahagia!' gerutu Sean dalam hati. 'Wanita aneh! Sekretaris sinting!' Entah sudah berapa kali pria itu memaki Clarissa dalam hati, tetapi yang pasti saat ini ia merasakan seluruh tubuhnya terasa panas meski pendingin ruangan di dalam mobil telah dinyalakan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2