
Karin menyeringai sambil menghunuskan tatapan tajam ke arah Sean. "Cuma karena bukti palsu kamu tega menceraikanku, Sean? Ini tidak adil. Selama ini, aku mengurusi Xena dengan sepenuh hati, mencintai dan menyayangi dia seperti anakku sendiri. Tapi, inikah balasan atas semua kebaikan yang kuperbuat kepada anakmu? Kamu, lebih percaya sama sekretarismu itu daripada aku, istrimu sendiri. Benar-benar gila!"
Lantas, wanita itu berhambur mendekati Anita dan berlutut di depan mertuanya. Air mata terus mengalir membasahi wajah. Berperan sebagai istri tersakiti, ia mengerahkan kemampuan akting yang dimiliki.
"Ma, kumohon, percayalah padaku. Aku mana mungkin tega memperlakukan Xena sekejam itu. Mama tahu sendiri, 'kan bagaimana sayangnya aku sama Xena. Jadi, kumohon jangan percaya akan semua foto editan yang diberikan wanita itu!" Menatap tajam ke arah Clarissa, tetapi sudut bibir sebelah kanan tertarik ke atas seolah sedang mengejek sang sekretaris agar keributan besar terjadi di mansion tersebut. "Bisa saja 'kan, Ma, itu semua cuma rekayasa dia saja untuk merebut posisiku sebagai istri Sean."
Karin masih berusaha memprovokasi Anita, karena tahu kalau mertuanya itu mudah dihasut. Seandainya dia berhasil mendapat dukungan dari nyonya besar Anderson maka posisinya di rumah itu masih aman meski Sean telah menjatuhkan talak.
Clarissa menatap jijik akan sosok wanita di seberang sana. Modal wajah memelas, air mata palsu disertai pandainya lidah saat berkilah membuat orang awam yakin bahwa Karin berada di posisi lemah dan dia menjadi peran antogonis karena dituduh berniat merebut semua yang dimiliki oleh nyonya muda Anderson.
"Saya masih mempunyai bukti lain kalau Nyonya Anita masih belum percaya." Suara Clarissa kembali terdengar. Melihat Anita terdiam, ia yakin kalau ibu dari sang suami perlahan mulai termakan oleh bujuk rayu mulut berbisa Karin.
Lantas, Clarissa melangkah dengan anggun dan berdiri di samping Anita. "Ini adalah salah satu rekaman asli yang saya dapatkan saat Nyonya Karin melakukan tindakan kekerasan kepada Nona Xena. Nyonya besar bisa perhatikan baik-baik, siapa wanita yang sedang menarik lengan Nona Xena sampai cucu Anda menangis ketakutan."
Untuk saat ini, Clarissa hanya menyerahkan bukti kekerasan yang dilakukan Karin terhadap Xena, sedangkan bukti perselingkuhan wanita itu masih disimpan rapat. Bukannya tidak mau menunjukan kepada Anita ataupun Sean, tetapi ia menunggu waktu yang tepat membongkar semua kebusukan Karin. Seandainya Karin masih mengelak maka dia mengeluarkan senjata terakhir yang pasti wanita itu tidak bisa menyangkal lagi.
Hati terasa disayat-sayat pisau kala menyaksikan video tersebut. Suara tangisan Xena membuat tubuh Anita lemah. Cucu kesayangannya diperlakukan tidak baik oleh menantu pilihannya sendiri.
"Xena, cucuku," ucap Anita lirih. Sebelah tangan menyentuh dada yang terasa sesak sedangkan sebelah lagi menggenggam erat ponsel milik Clarissa.
Karin dibuat penasaran atas video yang diserahkan oleh Clarissa kepada Anita. Lantas, ia pun bangkit dan berdiri di samping sang mertua.
__ADS_1
Kedua tangan menutup mulut kala netra wanita itu melihat wajah si pelaku sedang membentak kasar sambil mencengkeram erat pundak lemah Xena. "Video itu editan! Aku tidak mungkin melakukannya kepada Xena!"
Jemari tangan Anita menekan tanda pause di layar ponsel, lalu pandangan mata beralih menatap Karin. "Kamu tega melakukan itu kepada cucuku, Karin!" ucapnya lirih dengan sorot mata penuh kekecewaan. Ia tidak menduga kalau wanita yang dianggapnya lugu, baik hati dan tulus menyayangi Xena ternyata tega memperlakukan cucu pertamanya dengan begitu kejam.
"Ma ... aku--"
"Diam! Aku tidak butuh penjelasanmu!" bentak Anita dengan meninggikan nada suara. "Kamu mau menyangkal bagaimana lagi, hem! Semua bukti yang diberikan Clarissa sudah jelas."
"Aku benar-benar kecewa sama kamu. Bisa-bisanya kamu memperlakukan Xena dengan kejam. Memangnya salah dia apa hingga kamu berbuat begitu?" tanya Anita sambil berkacak pinggang. "Kalau hanya karena dia nakal dan susah diatur, itu wajar terjadi pada anak-anak seusianya. Seharusnya kamu memperingati cucuku dengan lemah lembut bukan dengan kekerasan."
"Tidak, Ma. Aku tidak bersalah. Itu semua cuma akal-akalan dia saja yang ingin menghancurkan keluarga kita." Karin sangat memelas, meminta untuk dipercaya. Ia tidak mau disalahkan oleh siapa pun.
Habis sudah kesabaran Anita menghadapi sikap Karin yang keras kepala dan tak mengakui kesalahanya. Tidak ingin terlalu lama berada dalam ruangan yang sama, dia berteriak memanggil kepala pelayan. "Kamu, panggilkan Pak Dudung dan Pak Sulaiman. Minta mereka membawa wanita itu keluar dari rumah! Aku tidak sudi hidup satu rumah dengan menantu tak tahu diri seperti dia!"
Kepala pelayan menundukan kepala, tidak berani menatap wajah siapa pun terutama wajah Karin. "Baik, Nyonya, akan saya panggilkan sekarang." Ia pamit undur diri dari hadapan Anita. Lantas, ia segera menjalankan perintah sang majikan.
"Tidak! Aku tidak mau pergi dari sini! Ini rumahku dan kalian tidak berhak mengusirku dari sini!" jerit Karin histeris. Ia merontak dan menjejakan kaki ke sana kemari ketika dua satpam itu membawa paksa meninggalkan mansion. "Hei, kalian berdua, lepaskan aku! Aku adalah Nyonya muda di mansion ini! Cepat, lepaskan aku!"
Kedua pria bertubuh tegap tidak peduli. Menulikan telinga sambil terus membawa Karin pergi jauh dari hadapan Anita.
Saat tiba di depan pintu gerbang, Dudung dan Sulaiman melempar Karin ke tengah jalan hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
__ADS_1
"Berengsek! Kurang ajar kalian!" hardik Karin, tidak terima diperlakukan buruk oleh kedua security tersebut. "Berani-beraninya kalian memperlakukanku dengan buruk!"
"Perbuatan Anda lebih buruk daripada kami, Nyonya. Anda tega menyakiti Nona Xena. Hanya orang tak punya akal serta hati nurani saja yang tega menganiaya anak kecil," ujar Dudung. Sedikit tahu permasalahan yang terjadi di keluarga itu, tetapi karena diancam ia pun bungkam dan menutup rapat mulutnya. Namun, setelah kebenaran terungkap maka dia berani berbicara di hadapan wanita itu.
"Berengsek! Sialan kalian!" mengumpat dengan kasar kepada dua security.
"Sebaiknya Nyonya tinggalkan tempat ini segera, sebelum pentungan ini mendarat di kepala Anda!" timpal Sulaiman.
"Kamu!" Jari telunjuk Karin terangkat, mengarah kepada Sulaiman.
"Selamat siang, Nyonya Karin!" Perdebatan di antara mereka usai ditandai dengan tertutupnya pintu gerbang menjulang tinggi ke atas awang.
Tangan Karin mengepal sempurna di sebelah tubuh. Menatap penuh kebencian pada sebuah bangunan megah yang tertutup pintu gerbang berwarna keemasan. "Tunggu pembalasanku! Aku akan membuat perhitungan kepada kalian semua, terutama kamu, Clarissa! Akan kubalas semua penghinaan ini!"
Menghentikan sebuah taxi yang kebetulan melintas di depan mansion, Karin akan kembali ke rumah. Membawa semua kebencian dan dendam dalam dirinya.
.
.
.
__ADS_1