Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Mbul Yang Penurut


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelah kepergian Karin dari mansion keluarga Anderson. Berita perceraian dan isu perselingkuhan yang melatarbelakangi keretakan rumah tangga pewaris tunggal Anderson Grup menjadi hangat untuk diperbincangkan. Kabar burung terus berembus di lapisan para karyawan perusahaan. Tak jarang dari mereka menjadikan berita tersebut sebagai makanan sehari-hari.


Sementara itu, wanita yang digadang-gadang menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga Sean dan Karin, tampak tak terlalu memusingkan berita miring tersebut. Clarissa masih dapat tersenyum hangat saat berpapasan dengan rekan kerja walaupun tahu mereka sangat membencinya karena menjadi perusak rumah tangga Sean. Dia pun masih beraktivitas seperti biasa meskipun tengah berbadan dua. Bagi dia semua kabar tersebut tidaklah penting untuk dipikirkan, sebab saat ini wanita itu sedang fokus pada kehamilan yang memasuki trimester pertama.


Jemari lentik Clarissa menari indah di atas keyboard saat intercom di sebelahnya berbunyi. "Iya, Tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya sopan. Tetap memanggil Sean dengan sebutan 'tuan' meskipun status mereka adalah suami istri. Hanya ingin bersikap profesional selama berada di lingkungan kantor.


Sean membuka tirai yang menutupi jendela ruang kerja sehingga dapat dengan jelas melihat kecantikan istri sekaligus ibu bagi anak keduanya. Melambaikan sebelah tangan sambil tersenyum manis. "Cla, tolong kamu ke ruangan saya sebentar. Sekalian tolong bawakan berkas laporan yang kemarin saya minta."


Clarissa menatap ketampanan wajah sang suami dari jarak tak terlalu jauh. Entah kenapa, hati wanita itu selalu merasa berbunga-bunga setiap kali melihat paras serta senyuman langka yang diberikan khusus kepadanya. Apakah mungkin ini petanda kalau dia sebenarnya telah jatuh cinta pada pesona dari seorang Sean Anderson--sosok pria yang menjadi target untuk membalaskan dendam di masa lalu?


"Baik, Tuan!" sahut Clarissa singkat.


Tak lama kemudian, wanita itu mengetuk pintu dan langsung membukanya. Saat membuka pintu, sebuah tangan kekar segera menarik pinggang hingga tubuhnya berada dalam dekapan.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang," ucap Sean lirih. Beruntungnya saat itu tirai jendela dan pintu ruangan telah ditutup sehingga tak ada satu orang pun yang tahu aktivitas mereka di dalam sana. "Bagaimana keadaan anak kita hari ini, apakah dia menyusahkanmu?" sambungnya.


Berdasarkan dari pengalaman pertama saat Sabrina mengandung Xena di usia kehamilan trimester pertama, sering mengalami morning sickness di pagi hari dan tak jarang napsu makan berkurang akibat rasa mual yang diderita. Oleh karena itu, dia menanyakan hal sama kepada Clarissa khawatir calon anak mereka menyusahkan wanita itu.


Clarissa mengusap lembut punggung Sean sambil berkata, "Hari ini si Mbul tidak menyusahkanku, Sayang. Malah ... dia membuatku makan terus hingga berat badanku naik menjadi dua kilo," terkekeh pelan hingga tubuh Sean ikut bergerak.

__ADS_1


Mendengar bahwa Mbul--sebutan calon anak Sean dan Clarissa tidak menyusahkan sang istri, hati sang CEO begitu bahagia. Lantas, dia mengurai pelukan, lalu menatap iris coklat milik istrinya. "Benarkah? Jadi, dia tidak menyusahkanmu hari ini?"


Kembali menggelengkan kepala. "Tidak kok! Dia berubah jadi anak baik hari ini." Tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi.


Terdengar helaan napas lega berasal dari hidung Sean. Lantas, dia membungkukan sedikit badan hingga posisi wajah di depan perut Clarissa yang masih terlihat datar. Mengusap secara perlahan seakan takut menyakiti calon anaknya di dalam perut.


"Halo, Mbul, kamu baik-baik ya di dalam sana. Jangan sering menyusahkan Mommy, kasihan Mommy kalau setiap hari harus mengalami morning sickness. Daddy lebih kamu banyak makan daripada tidak napsu makan sama sekali. Jadi, tolong kerjasamanya ya, Nak, untuk sering-sering patuh kepada Mommy-mu." Sean berkata seolah di depan sana berdiri calon anak keduanya dari istri ketiga.


Mata hazel berkaca-kaca. Perasaan berubah hangat setiap kali menyentuh perut sang istri. Sampai sekarang, dia merasa belum percaya kalau Tuhan kembali memberikan kepercayaan kepadanya untuk menimang malaikat kecil yang sebentar lagi lahir ke dunia.


Perkataan Sean sukses membuat sudut bibir Clarissa kembali tertarik ke atas hingga membentuk sebuah lengkungan mirip busur panah. "Meskipun aku tersiksa karena terus mengalami morning sickness di pagi hari, terkadang tak napsu makan, tetapi aku ikhlas menjalani itu semua. Ya, anggap saja kesabaranku sedang diuji. Siapa tahu, setelah Mbul lahir, aku semakin sabar dalam menghadapi kejulitan para karyawanmu di perusahaan ini." Berkata sambil membuat ekspresi konyol.


Sontak, Sean tertawa terbahak mendengar jawaban Clarissa. Tingkah laku sang istri tampak begitu menggemaskan.


***


Saat jam istirahat, Clarissa pergi bersama Nani ke sebuah restoran makan Padang di dekat kantor. Siang itu Sean sedang ada pertemuan penting membahas saham perusahaan yang mulai anjlok akibat isu perselingkuhan antara bos dengan sekretaris.


Entah kenapa, hari ini Clarissa sangat ingin sekali menyantap makanan khas kota Minang. Air liur wanita itu semakin deras mengalir ketika seorang pelayan mengantarkan piring berisi nasi lengkap lengan lauk pauk serta sambal ijo di atasnya.

__ADS_1


"Eum ... enak sekali!" ucap Clarissa kala memasukan satu sendok nasi yang dicampur sayur gulai masuk ke dalam mulut. Rasa pedas berasal dari lombok ijo terasa nampol di lidah.


"Astaga, Cla! Pelan-pelan kalau makan. Tidak akan ada orang yang merebut makananmu," tegur Nani kala melihat betapa lahapnya Clarissa saat menyantap semua hidangan di atas meja. Nadi padang, ikan kembung, daging rendang, sayur gulai ditambah sambal ijo disantap dalam waktu hampir bersamaan.


"Bagaimana bisa pelan-pelan kalau menunya selezat dan senikmat ini. Aku seperti orang kelaparan yang selama puluhan tahun tidak makan sesuatu." Clarissa terkekeh pelan setengah berkelakar. Binar bahagia terlihat jelas di bola matanya yang indah. Hanya menyantap nasi Padang sudah membuat dia begitu bahagia.


Nani mencibir seraya memutar bola mata dengan malas. "Dasar lebay! Makanan ini memang terasa lezat sekali, tetapi kamu harus pelan-pelan agar tidak tersedak, mengerti?"


Clarissa menganggukan kepala dengan cepat. "Iya, aku mengerti."


Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, semua hidangan yang dipesan telah habis tak tersisa. Cacing yang semula berjoget ria di dalam perut kini telah kembali tenang. Akan tetapi, Clarissa dan Nani masih enggan kembali ke kantor. Mereka ingin istirahat sejenak sambil menunggu makanan yang disantap tercerna sempurna oleh lambung.


"Cla, aku ke kamar kecil sebentar. Kamu tunggu di sini. Ingat, jangan ke mana-mana!" ujar Nani mengingatkan. Dia diberikan kepercayaan oleh Sean, menjaga dan melindungi sang sekretaris selama berada di luar kantor. Untuk itu, Nani meminta Clarissa tidak pergi ke mana-mana sebelum dia kembali.


Baru beberapa menit Nani pergi, seorang pria dengan setelan jas warna abu-abu datang menghampiri.


"Hai, Nona, bolehkah saya duduk di sini?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2