Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Mulai Terungkap


__ADS_3

Clarissa melirik ponselnya yang berdering, nama sang suami terpampang di layar ponsel. Akan tetapi, ia sama sekali tak berniat menerima panggilan dari pria yang telah menikahinya secara siri. Saat ini, ada hal lebih penting yang harus diselidiki.


"Sejak kapan Karin berbuat demikian kepada Xena? Apakah Tuan dan Nyonya besar serta Sean tidak mengetahui kelakuan wanita iblis itu?" tanya Clarissa kepada Imelda.


Hari ini, ia, Imelda dan Xena sedang berada di taman bermain. Anak angkat Alvin Smith sengaja menjemput anak tirinya di sekolah dan mengajak gadis kecil itu bermain-main di sebuah taman yang lokasinya tak begitu jauh dari kantor.


"Sejak Nona Xena berusia dua tahun, Nyonya. Selama itu, tidak ada satu orang pun yang berani memberitahu Tuan dan Nyonya besar serta Tuan Sean, sebab Nyonya Karin mengancam akan memberi hukuman kepada Nona Xena bila dari ketiga majikan saya mengetahui kebusukan wanita itu," jawab Imelda. Menundukan kepala karena merasa bersalah tak bisa berkata jujur kepada sang majikan.


Mencengkram ujung bangku taman terbuat dari kayu dengan erat. Bola mata memerah, dada kembang kempis dan rasa panas menjalar ke seluruh tubuh.


"Wanita sinting! Bagaimana mungkin dia tega melukai anak tirinya sendiri sedangkan Nyonya Anita begitu baik kepadanya." Clarissa melirik ke arah Imelda dan kembali berkata, "Apakah semua majikanmu tidak menaruh curiga saat Xena bersikap aneh di hadapan Karin?"


Wanita muda dalam balutan seragam merah jambu menggeleng cepat. "Tidak, Nyonya. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Semenjak kepergian Nyonya Sabrina, memfokuskan diri terhadap pekerjaan sedangkan Tuan dan Nyonya besar tinggal di Indonesia sehingga tak bisa memantau kelakuan Nyonya Karin. Sekalipun datang berkunjung ke Amerika, dia bersikap manis dan pura-pura peduli kepada Nona Xena hingga membuat mereka percaya bahwa Nyonya muda memang begitu menyayangi Nona Xena."


Clarissa mendengkus kesal. "Ya, dia memang pandai sekali berakting sampai semua orang terkecoh oleh sikap manisnya itu." Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Selain mengancam, apa saja yang dia lakukan kepada Xena. Apakah sampai memukul dan menamparnya?"


Lidah Imelda terasa kelu saat mendengar pertanyaan Clarissa. Bingung sendiri hendak menjawab apa. Ingin jujur, khawatir malah berimbas terhadap pekerjaan dan nasib Xena selanjutnya. Namun, bila terus diam mau sampai kapan kejahatan wanita itu terus ditutupi.


Air muka penuh keraguan terlukis jelas di wajah Imelda. "Imel, please, ceritakan semuanya kepada saya apa yang kamu ketahui. Jangan ada yang ditutup-tutupi! Bila kamu khawatir akan pekerjaanmu ataupun keselamatanmu maka saya bisa pastikan semua itu aman. Kamu bisa pegang kata-kata saya."


Menarik napas dalam, mengembuskan secara perlahan dengan kedua mata terpejam. Mencoba mengumpulkan keberanian dalam diri untuk membongkar kejahatan Karin. Apalagi Clarissa sudah menjamin pekerjaan serta keselamatannya seandainya ia menceritakan kebusukan istri kedua Sean. Jadi, tak ada halangan bagi wanita itu untuk tidak berkata jujur. Siapa tahu dengan kejujuran itu sepak terjang Karin terhenti.

__ADS_1


"Apabila Nona Xena mengamuk karena keinginannya tidak dituruti, Nyonya Karin sering membentak, mencubit dan mengurung Nona muda di gudang tanpa memberi makan dan minum," ucap Imelda lirih. Kembali menundukan wajah, tak berani memandang bola mata indah Clarissa.


Tubuh Clarissa lemas setelah mendengar jawaban Imelda. Kepala tiba-tiba terasa pening dan pandangan menjadi buram. Beruntungnya dia dalam posisi duduk sehingga tubuhnya yang ramping bagai gitar Spanyol tidak terjatuh ke bawah.


Jemari tangan memijat pelipis yang terasa berdenyut nyeri. Entahlah, kenapa akhir-akhir ini sering merasakan pusing, mual dan indera penciumannya lebih sensitif dari biasanya. Namun, ia tak ambil pusing dan terus beraktivitas seperti biasa.


"Astaga, benar-benar keterlaluan. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera memberitahu Sean agar dia segera bertindak," ucap Clarissa sambil terus memberikan pijatan lembut di pelipis.


Imelda membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegak, lalu berkata, "Nyonya, saya mohon jangan sampai Nyonya Karin berbuat macam-macam kepada saya, Nona Xena serta pelayan yang ada di kediaman Anderson. Akan merasa bersalah sekali kalau sampai teman-teman terkena imbasnya."


Clarissa tersenyum manis. Walaupun kepala terasa pening, tetap ia menutupi itu semua. "Tenang saja, Karin tidak mungkin berbuat jahat kepada kalian semua."


"Fuckiing shiit! Kenapa dia tidak menerima teleponku. Sebetulnya, dia pergi ke mana hingga jam istirahat telah berlalu tetapi tak kunjung kembali ke kantor." Sean melempar benda pipih tersebut ke atas sofa, lalu melonggarkan dasi yang melilit di leher. "Awas saja kalau sampai dia kembali sini, akan kuberikan hukuman." Tiba-tiba suatu hal menelusup masuk ke dalam pikiran pria itu dan membuat hatinya tidak nyaman.


Menatap jam dinding yang menunjukan pukul dua lebih tiga puluh menit waktu setempat. Itu artinya sudah hampir dua jam lamanya Clarissa pergi meninggalkan kantor dan belum juga kembali.


Tak ingin hal buruk terjadi menimpa Clarissa, ia berniat mencari istri tercinta. Tubuh gagah dibalut setelan jas warna navy dengan dasi garis menyilang ke kiri, ia bangkit dari sofa dan meraih kunci mobil yang ada di dalam laci meja kerja. Saat hendak melangkah, Ibrahim--sang asisten telah lebih dulu masuk ke dalam ruang CEO sambil membawa amplop yang berada dalam dekapan.


"Tuan Sean," seru Ibrahim panik.


Sean menatap dingin kepada Ibrahim. "Ada apa kamu datang menemui saya? Kalau cuma meminta saya menandatangani beberapa laporan, sebaiknya buang saja semua berkas itu. Saya sedang tidak semangat bekerja."

__ADS_1


Ibrahim menggeleng cepat dan menjawab, "Bukan, Tuan. Ini tentang pelaku yang telah memasukan obat perangsang ke dalam gelas minuman Anda."


"Cepat katakan, siapa pelakunya!" sembur Sean dengan tidak sabaran. Akibat CCTV dalam ballroom hotel rusak, membuat ia dan Ibrahim kehilangan jejak si pelaku. Namun, berkat kegigihan dan kerja keras akhirnya perjuangan mereka tidak sia-sia. Dalam hitungan detik akan tahu siapa yang berani bermain-main dengan tuan muda Anderson.


"Pelakunya adalah ... Nyonya Karin."


"Shiit! Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya olehku kalau pelakunya itu adalah Karin. Bodoh! Seharunya aku mencurigai wanita sialan itu!" seru Sean dengan suara tinggi. Semakin kesal karena ternyata orang yang berniat menjebak pria itu adalah istri pilihan Anita.


"Pelayan yang terlibat sudah mendapat balasan atas perbuatannya kepada Anda, Tuan. Bisa dipastikan, dia tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama."


"Kamu atur saja sendiri. Yang penting, jangan sampai merugikan orang itu. Kasihan anak dan istrinya kalau sampai dia celaka."


"Baik, Tuan," jawab Ibrahim singkat.


Telapak tangan Sean mengepal sempurna. Tatapan mata tajam seakan siap menerkam mangsanya hidup-hidup. Bola mata memancarkan kilatan penuh emosi. "Karin, rupanya kamu sudah mulai bosan hidup sehingga mengibarkan bendera perang kepadaku. Kamu telah memulai peperangan ini jadi jangan salahkan aku bila mengikuti alur permainanmu."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2