Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Bukan Wanita Murahan


__ADS_3

Clarissa yang sedang memainkan telepon genggam miliknya segera mendongakan kepala kala mendengar suara bariton seseorang di sebelahnya. Sepasang mata almond memicing saat melihat sosok pria berpakaian rapi dan berpenampilan menarik tersenyum ke arahnya.


"Maaf, Anda siapa? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Clarissa sopan. Sang sekretaris tak dapat mengenali pria asing itu, sebab kacamata hitam bertengger manis di hidungnya yang mancung.


"Kita memang belum pernah bertemu sebelumnya, Nona. Oleh karena itu, izinkan saya memperkenalkan diri." Lantas, pria asing itu melepaskan kacamata hitam dengan gerakan slow motion, lalu mengulurkan tangan ke depan dan berkata, "Perkenalkan, nama saya adalah ... Mister White." Tidak lupa, seulas senyum manis dia berikan berharap pertemuan pertama memberikan kesan mendalam dan sukar dilupakan.


Clarissa tertegun. Mister White? Nama itu seakan tidak asing di telinga sang sekretaris. Mata terus memicing, menatap tajam ke arah pria di sebelahnya. Otak berusaha keras, mengingat di manakah dia pernah mendengar nama itu. Namun, usaha wanita itu sia-sia yang ada hanya rasa pening karena terlalu keras berpikir.


"Nona? Apakah saya boleh duduk di seberang Anda?" Pria asing yang tak lain adalah selingkuhan Karin, kembali berkata dengan pertanyaan sama.


"Memangnya ada kepentingan apa sampai Tuan ingin duduk satu meja dengan saya, sementara banyak kursi kosong yang bisa Anda tempati," ucap Clarissa, merasa aneh atas sikap pria itu.


Tiba-tiba sebuah kesadaran menghantam kepala Clarissa. Sebuah alarm memberikan peringatan kepada wanita itu seakan ingin memberitahu kalau pria asing yang tak lain bernama mister White mempunyai maksud terselubung sehingga memaksanya menerima tawaran lelaki tersebut.


Dengan suara tegas, Clarissa kembali berkata, "Jika Tuan sengaja mendekati saya karena berniat jahat sebaiknya hentikan sekarang sebab saya bukan lawan sepadan. Seribu kali Tuan mencoba mencelakai saya maka seribu kali pula saya bisa lolos dari cengkraman Anda."


Mister White terkekeh mendengar suara tegas tanpa rasa takut sedikit pun. Diam-diam, dia mulai mengagumi sosok wanita cantik berambut panjang sepunggung. "Kalau misalkan, saya ingin mengenal Anda lebih dekat lagi, apakah Nona memperbolehkan?" tanyanya sembari menatap intens iris coklat milik istri ketiga Sean.

__ADS_1


"Saya bukan wanita murahan yang gampang memberikan nomor telepon kepada pria asing. Terlebih saat ini saya telah bersuami dan sebentar lagi buah cinta kami terlahir ke dunia. Jadi, saya minta sebaiknya Tuan mencari wanita single lainnya untuk diajak berkenalan." Clarissa bangkit dari kursi dan meraih sling bag di sebelahnya. "Jika Tuan ingin duduk di sini, silakan karena saya sudah tidak ada kepentingan lagi di restoran ini. Permisi!" Wanita itu melangkah meninggalkan mister White yang masih berdiri di tempatnya semula. Dia memilih pergi dari restoran itu tanpa menunggu Nani kembali dari kamar kecil.


Saat tiba di pekarangan kantor, Clarissa mengirimkan pesan singkat kepada Nani. [Nan, sorry, aku harus segera kembali ke kantor tanpa menunggumu sebab Tuan Sean memintaku datang segera. Jika dirimu telah selesai, segeralah kembali. Aku menunggumu di kantor.]


Sementara itu, mister White masih menatap kepergian Clarissa dengan sorot mata penuh kagum. Jika biasanya para kaum Hawa rela mengantri demi berkenalan dengannya, tetapi lain halnya dengan Clarissa. Wanita itu malah secara terang-terangan menolak dirinya tanpa memberikan kesempatan kepada pria keturunan Jepang untuk mengetahui nama wanita tersebut. Meskipun dia sudah tahu siapa wanita yang melangkah pergi meninggalkan restoran bernama Clarissa namun akan ada sensasi berbeda bila mereka berkenalan secara langsung.


"Benar-benar unik dan sangat menantang. Wanita itu membuatku semakin bersemangat untuk merebutnya dari sisi Sean. Wanita berkelas, elegan dan tegas sesuai kriteriaku. Aku tidak sabar ingin hari itu segera terwujud. Hari di mana Sean hancur karena wanita yang dicintainya pergi meninggalkannya demi pria lain." Mister White menyeringai licik sambil menatap ke luar jendela.


Kembali ke perusahaan Anderson Grup, tampak Clarissa melangkah perlahan memasuki gedung pencakar langit. Ketukan sepatu heels setinggi dua centi meter terdengar berirama di antara keheningan.


Ketika Clarissa menginjakkan kakinya di depan pintu masuk perusahaan beberapa karyawan langsung melihat ke arahnya. Para kaum Adam berdecak kagum dengan kecantikan yang dimiliki wanita itu. Dulu, mereka pernah mendamba akan bersanding bersama nona muda Smith tetapi impian itu musnah kala mengetahui bahwa sang sekretaris telah dipersunting oleh Sean Anderson.


"Dasar wanita murahan! Sudah dikasih jantung malah minta hati. Benar-benar tidak tahu malu!" celetuk salah satu karyawan perempuan. Wanita berambut pendek sebahu menatap tajam ke arah Clarissa.


"Hush, hati-hati kalau bicara! Bagaimana kalau ada orang yang mendengar kemudian melaporkannya kepada Tuan Sean? Bisa jadi besok kamu menerima surat pemecatan dari Bos kita loh!" Seorang wanita berkacamata mencoba memperingatkan rekan kerjanya.


"Tapi aku kesal sekali sama dia! Lihat saja bagaimana angkuhnya wanita itu dalam bersikap, sudah seperti Nyonya besar! Hasil merampas milik orang kok bangga!" ucap wanita itu dengan nada kesal.

__ADS_1


"Iya, aku paham. Aku pun sama kesalnya sepertimu, tetapi bukan ranahku untuk menghujat wanita itu. Kita digaji untuk bekerja bukan untuk bergosip apalagi menghina orang sesuka hati," tutur wanita berkacamata. "Sudahlah, sebaiknya kita lanjutkan pekerjaan. Jangan sampai kena tegur Tuan Sean!"


Menghela napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Ucapan kedua karyawan wanita cukup terdengar keras di telinga Clarissa. Dia menerima semua hinaan itu sebab apa yang dikatakan mereka benar adanya.


"Kita lihat saja apakah kalian masih terus menggosipkanku bila tahu apa yang sebenarnya terjadi? Selagi kebenaran itu belum terungkap, puas-puasin deh kalian membicarakanku," ucap Clarissa lirih sambil terus melangkah masuk ke dalam lift.


"Tuan, jadwal persidangan Anda telah ditentukan. Besok lusa Anda akan berhadapan dengan Nyonya Karin di persidangan. Semua bukti telah terkumpul dan bisa digunakan di saat keadaan mendesak," ucap Ibrahim.


"Aku mau saat persidangan nanti semua berjalan lancar tanpa ada drama apa pun," jawab Sean tegas. Tidak mau terjadi masalah ketika berada di ruang sidang. Dia ingin hakim segera mengetuk palu dan urusannya dengan Karin cepat selesai.


"Baik, Tuan, saya bisa jamin saat persidangan nanti semua berjalan mulus seperti yang kita harapkan."


Percakapan antara kedua pria itu pun usai. Ibrahim telah kembali sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Sean sibuk memeriksa laporan keuangan milik perusahaan sang papa.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2