Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Rencana Press Conference


__ADS_3

Clarissa sedang berada di dalam kamar. Sudah dua hari ini dia izin tidak pergi ke kantor dikarenakan sang sekretaris tengah mengalami mual, muntah hebat sehingga membuat tubuhnya lemah dan tak bertenaga. Beruntungnya semua pekerjaan dapat di-handle oleh Ibrahim jadi istri ketiga Sean bisa istirahat dengan tenang tanpa harus memikirkan urusan pekerjaan.


"Nyonya Clarissa, ini adalah susu hamil yang Anda minta. Takaran sudah sesuai dengan permintaan Anda," ucap kepala pelayan sambil membawa segelas susu putih mengepul, menguarkan aroma khas vanila. Sebelumnya Clarissa meminta pada pelayan membuatkan segelas susu hamil serta mengantarkannya ke kamar.


Clarissa membenarkan posisi duduk lalu meraih gelas tersebut. "Terima kasih." Wanita itu menyesap susu tersebut secara perlahan hingga habis tak bersisa. "Oh ya, di mana Tuan Sean, apakah dia pergi ke kantor?" tanyanya seraya menyodorkan gelas kosong kepada pelayan.


"Tuan Sean sedang ada di ruang keluarga, Nyonya. Tadi saya dengar beliau tengah menerima telepon penting dari kantor."


Tampak Clarissa menganggukan kepala tanda mengerti. Dia pikir Sean berubah pikiran, lalu memutuskan pergi ke kantor meski dirinya masih cuti. Namun, siapa sangka sang CEO masih setia menemani di mansion sesuai dengan janji yang pernah diucapkan.


"Ya sudah, kalau begitu kamu boleh kembali bekerja. Terima kasih karena sudah membawakan susu untukku," kata Clarissa lembut. Tak lupa, seulas senyum dia berikan kepada kepala pelayan.


Sikap lemah lembut, menghormati orang lain serta sebuah senyuman yang tak pernah hilang di bibir merah jambu sang sekretaris membuat para pelayan menyukainya. Clarissa tidak pernah memandang rendah pekerjaan orang lain. Dia bahkan sangat menghargai para pelayan itu meski statusnya kini adalah nyonya muda keluarga Anderson.


Di saat Clarissa sedang merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang, dering ponsel membuat wanita itu bergegas untuk mengulurkan tangan meraih benda pipih di atas nakas. Nama Alvin Smith terpampang jelas di layar ponsel.


"Halo, Pa! Ada apa? Tumben Papa menghubungiku pagi-pagi sekali," ucap Clarissa sesaat setelah sambungan telepon terhubung. Wanita itu menyusun beberapa bantal di belakang punggung.


Semenjak hamil, Clarissa sering merasa pegal pada bagian punggung. Oleh sebab itu, dia mencari cara agar tak merasakan sakit ataupun pegal ketika dalam posisi duduk.

__ADS_1


"Papa cuma mau tanya, apa kamu sudah tahu berita terbaru tentang perusahaan Anderson?" ujar Alvin di seberang sana.


Clarissa menggelengkan kepala cepat. "Tidak! Memangnya ada apa sih, Pa? Dari nada bicara Papa, tampaknya ada suatu hal menimpa perusahaan suamiku."


Alvin mengembuskan napas panjang sambil memejamkan mata sejenak. Memaklumi kenapa anak angkatnya tak mengetahui berita terbaru mengenai perusahaan Anderson Grup.


Dua hari lalu, Clarissa mengirimkan pesan singkat kepada Alvin dan mengatakan bahwa dia sedang sakit. Tubuh wanita itu lemah sekali akibat sering mual muntah di pagi hari. Sebagai seorang ayah, tentu saja Alvin mencemaskan kondisi putri tercinta meskipun hanya anak angkat tetapi dia tulus menyayangi dan mencintai Clarissa seperti anak kandung sendiri. Oleh karena itu, dia membelikan teh dengan aneka rasa kemudian mengirimkannya ke mansion Anderson, berharap dapat mengurangi mual dan muntah di pagi hari.


"Sudah dua hari ini, Papa perhatikan saham milik Anderson Grup turun. Papa curiga ini semua terjadi akibat berita miring yang berembus di luaran sana. Berita yang mengatakan bahwa perceraian antara suamimu dengan Karin disebabkan karena adanya orang ketiga, yang tak lain adalah kamu. Semakin hari, berita tersebut semakin memanas. Papa takut jika tidak segera dihentikan akan berimbas pada perusahaan," papar Alvin panjang lebar.


Secara diam-diam, tanpa diketahui oleh siapa pun, pria paruh baya itu memantau setiap gerak gerik perusahaan Anderson Grup termasuk proyek apa saja yang tengah dikerjakan oleh sang menantu. Jadi, jangan heran kalau saat ini dia memberitahu anak tercinta tentang nasib perusahaan yang dipimpin oleh Sean.


"Benar, Nak. Papa curiga, ada seseorang di balik semua kekacauan ini sebab berita itu membeberkan sebuah fakta yang tidak diketahui oleh siapa pun." Alvin mengutarakan kecurigaannya selama dua hari belakangan ini. Dari kecurigaannya itu bisa disimpulkan bahwa ada orang lain yang secara terus menerus mengembuskan berita tersebut agar semakin hangat untuk diperbincangkan.


Sebelah tangan Clarissa mengepal sempurna di samping badan. Dada wanita itu kembang kempis. "Aku tahu siapa orang di balik ini semua, Pa. Dia ingin mengambil keuntungan dari kerugian perusahaan Anderson," ucapnya dingin sambil menahan kesal.


"Seharusnya saat persidangan kemarin, aku menyerahkan bukti perselingkuhan Karin dengan kekasih gelapnya agar wanita itu tidak lagi mempunyai keberanian menegakan kepala di hadapan semua orang. Bila itu sampai terjadi mungkin saat ini seluruh warga Indonesia tidak mencelaku dan saham perusahaan tak anjlok seperti sekarang."


Semakin lama, Clarissa semakin geram atas sikap Karin. Rupanya apa yang ditakutkan dia sebelumnya terjadi. Karin menyusun rencana untuk merusak reputasi sang sekretaris di hadapan semua orang. Kendati begitu, Clarissa sudah mengantisipasi dengan mempersiapkan amunisi, menyerang Karin sebelum kejadian ini memanas. Dia sengaja menunda karena ingin bermain-main dengan wanita berhati iblis.

__ADS_1


"Lantas, langkah apa yang akan kamu ambil untuk membersihkan nama baikmu dan perusahaan Anderson Grup?" tanya Alvin. Hingga kini dia belum tahu kalau Clarissa belum menyerahkan foto perselingkuhan Karin dengan pria lain selama menjadi nyonya muda Anderson.


Clarissa tersenyum menyeringai. Sebelah bibir wanita itu tertarik ke atas. "Aku akan melakukan press conference dan membeberkan kebusukan wanita itu di depan semua orang agar mereka tahu bagaimana bejatnya moral si Iblis Betina itu saat masih menjadi istri Sean. Dia punya nyali besar hingga berani menantangku maka tak ada alasan bagiku untuk tidak menerima tantangannya."


"Papa akan membantumu menyiapkan semuanya. Namun, kamu harus ingat satu hal. Jangan sampai kamu terlalu asyik membalaskan dendam hingga mengabaikan janin dalam kandunganmu. Ingat, dulu kamu pernah keguguran dan Papa tidak mau itu terulang lagi untuk kedua kalinya." Bibir Alvin gemetar kala mengucapkan kalimat itu. Kilasan kejadian di masa lalu saat pertama kali menemukan Clarissa dalam kondisi mengenaskan kembali menari indah di memori ingatannya.


Senyuman menyeringai yang terlukis di wajah Clarissa sirna begitu saja kala mendengar perkataan Alvin. Sepasang mata almond berkaca-kaca. Dia merasa terharu karena pria paruh baya itu masih tetap mengkhawatirkannya meski dirinya sudah hampir dua bulan tak mengunjingi sang papa di kediaman Smith. Terlalu sibuk menjalankan misi balas dendam, dia jadi melupakan tugasnya sebagai seorang anak untuk mengunjungi orang tuanya yang telah senja.


Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan napas secara perlahan. Dengan suara serak Clarissa menjawab, "Iya, Pa. Aku akan menjaga bayi ini baik-baik. Terima kasih, Papa. I love you." Sambungan telepon pun terputus, lalu dia mengetikan pesan singkat kepada seseorang.


Bawakan bukti perselingkuhan Karin dengan kekasih gelapnya. Kita bertemu pukul empat sore nanti di Cafe Senja.


"Kita lihat, apakah kamu masih bisa sesumbar itu setelah semua orang tahu bahwa kamu bukanlah wanita suci seperti yang orang lain pikirkan," gumam Clarissa sambil mengeratkan kepala tangannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2