Pembalasan Sang Pelakor

Pembalasan Sang Pelakor
Maafkan Aku, Clarissa


__ADS_3

"Jangan mimpi!" seru Sean sambil mendorong tubuh Karin sekuat tenaga hingga wanita itu terjerembab ke lantai. Emosi pria itu telah memuncak, ia sudah tak dapat lagi menahan amarah yang bersemayam di dalam diri. Dada kembang kempis, kedua tangan mengepal sempurna hingga urat-uratnya menonjol ke luar. "Sampai mati pun, aku tidak sudi menyentuhmu, Karin!"


Karin yang masih terduduk di lantai menatap penuh benci pada sosok pria tampan di hadapannya. Seumur hidup, ia tak pernah merasa harga dirinya diinjak-injak oleh lelaki manapun. Namun, malam ini, suaminya sediri telah melukai perasaanya sebagai seorang istri.


Wanita itu bangkit secara perlahan sambil menghunuskan tatapan tajam ke arah suaminya. "Apa kurangnya aku di matamu Sean, hingga kamu tak sudi menjamahku sedikit pun? Katakan padaku, apa!" Bola mata berkaca-kaca menahan buliran kristal jatuh membasahi pipi.


"Selama ini, aku berusaha menjadi istri dan ibu yang baik bagi Xena. Menyayangi dan mencintai anakmu itu dengan sepenuh hati, tapi ... apa balasan yang kudapat! Kamu tak sedikit pun melihat jerih payah, usaha, dan pengorbananku dalam membesarkan anakmu itu!" sembur Karin. Wanita itu meluapkan kekesalan yang dipendam selama ini kepada Sean.


Sudut bibir Sean terangkat sebelah ke atas, menatap sinis ke arah istrinya. "Menyayangi anakku? Sejak kapan kamu tulus mencintai Xena? Bukankah selama ini, isi kepalamu cuma uang dan uang saja, hem?"


Bola mata Karin membulat sempurna. Tak menduga jikalau Sean dapat menebak apa yang ada di dalam pikirannya selama ini. Memang benar ia menerima tawaran Anita menikah dengan Sean demi kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Anderson, tetapi ada sebuah rahasia besar sengaja ia simpan rapat hingga detik ini mengapa dirinya bersedia menjadi ibu sambung bagi Xena.


"Kamu jangan sembarangan menuduhku, Sean! Aku ... benar-benar tulus menyayangi anakmu seperti anakku sendiri," ucapnya lirih. Sengaja meneteskan air mata buaya, berharap Sean luluh dan bersimpati kepadanya. Berubah menjadi wanita paruh untuk menutupi kebusukannya.

__ADS_1


Tidak hanya licik, tapi ia juga bermuka dua jadi tak heran jika Anita terjebak oleh tipu daya wanita itu. Namun, baik David maupun Sean masih bisa menggunakan logikanya sehingga dapat membedakan mana yang tulus ataupun yang tidak.


Sean Anderson bukanlah tipe pria yang hatinya mudah tergoyahkan. Sang CEO mempunyai kepribadian tegas, dan teguh pendirian. Kendati begitu, ia adalah sosok suami setia, dan ayah terbaik bagi Xena. Buktinya, selama lima tahun, tetap menjaga kesucian cintanya untuk Sabrina meski wanita itu telah kembali ke hadapan Sang Pencipta. Merawat satu-satunya peninggalan berharga dari pernikahannya terdahulu. Xena, gadis kecil bermata hazel adalah permata yang tak ternilai harganya karena merupakan buah cintanya bersama Sabrina.


Pewaris tunggal Anderson Grup menjawab, "Ya ... ya ... anggap saja saat ini aku percaya ucapanmu. Namun, waktu 'kan membuktikannya sendiri apakah kamu betulan tulus menyayangi Xena atau tidak. Kita lihat saja nanti!" Pria itu mengalihkan pandangan ke arah lain, tak sanggup bila terus memandangi kemolekan tubuh istrinya yang nyaris mendekati sempurna.


Bibir berkata tidak, tetapi hati dan pikirannya berkata untuk menerjang Karin dan menikmati setiap inci tubuh wanita itu. Berbagi ranjang bersama, bertukar peluh dan memadu kasih menuju pulau cinta yang hanya ada mereka berdua saja.


Saat ia memalingkan wajah ke sebelah kiri, netranya menangkap sebuah benda yang sangat dapat digunakan olehnya untuk menutupi dua aset berharga bagi seorang wanita.


"Pakailah ini dan lekas pergi dari kamarku! Setelah malam ini, jangan pernah terbesit keinginan untuk menghabiskan waktu bersama denganku, sebab sampai kapan pun tubuh dan cintaku hanya untuk Sabrina seorang." Sean melemparkan jubah mandi berwarna putih ke wajah Karin. Tanpa memedulikan ekspresi wajah wanita itu yang tengah menahan amarah, ia melangkahkan kaki lalu membuka pintu kamar. "Pergi dari sini sekarang juga!"


Karin merasa kalau usahanya sia-sia. Malam ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, ia memaki pria tampan itu dalam hati. 'Lelaki sinting! Gila! Dasar tidak normal!' Wanita itu pergi dari kamar Sean, membawa rasa sakit dan benci dalam dirinya.

__ADS_1


Usai kepergian Karin, Sean segera menutup pintu kamar dengan keras hingga menimbulkan bunyi memenuhi penjuru ruangan. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk di dekat tempat tidur.


"Aargh! Wanita sialan itu ... berani-beraninya dia masuk ke kamarku dan mengenakan pakaian seksi serta menyemprotkan parfum yang sama persis seperti milik Sabrina!" ucapnya. Ia tampak frustasi atas kejadian tadi. "Bodohnya lagi, kenapa aku sampai terbuai dan nyaris hilang kendali!"


"Bodoh! Benar-benar bodoh!" maki Sean kepada dirinya sendiri. Lalu, pandangan mata teralih pada suatu benda di bagian tengah sana. Rupanya inti tubuh pria itu bereaksi kala melihat pemandangan indah yang belum dilihatnya lagi selama lima tahun terakhir.


"Shiit! Kenapa kamu harus bereaksi di waktu yang tidak tepat!" umpatnya pada sesuatu di bawah sana. Kepalanya terasa pening dan rasanya mau pecah menahan gelora h*sr*t yang terus menggebu-gebu. "Sial! Sial! Sial!" Maka, bangkitlah ia dari sofa menuju kamar mandi. Mencoba menjinakan sesuatu yang telah bangkit sedari tadi.


Namun, saat ia hendak melakukan ritual tiba-tiba saja wajah Clarissa-lah yang muncul dalam benaknya. Wajah cantik wanita itu serta senyumannya yang manis menari indah di pelupuk mata pria itu. Suaranya yang lemah lembut serta kelembutan tangannya saat tanpa sengaja bersentuhan dengan pria itu semakin membangkitkan singa imut milik sang empunya.


"Argh! Kenapa harus wajah Clarissa yang muncul dalam benakku!" rutuknya kala ia memejamkan mata, namun wajah Clarissa yang muncul.


Ia mencoba memfokuskan kembali pikiran, membayangkan wajah mendiang istri tercinta. Akan tetapi, lagi dan lagi wajah sang sekretaris yang muncul dalam benaknya. "Sudahlah, biarkan saja wanita itu muncul dalam benakku daripada harus membayangkan wajah Karin, istri pilihan Mama," ucapnya pasrah. Pria tampan itu sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, Sean terpaksa menjadikan Clarissa sebagai pelampiasannya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Clarissa. Dan ... Maafkan aku, istriku, Sabrina," gumamnya lirih seraya menikmati permainannya sendiri.


Untuk pertama kalinya, Sean melakukan pelepasan dengan membayangkan wajah wanita lain, selain mendiang istrinya, Sabrina. Entahlah, kenapa pikiran pria itu tertuju pada sekretarisnya yang baru beberapa hari bekerja di perusahaan. Mungkinkah benih cinta di hati sang CEO untuk Clarissa telah tumbuh tanpa disadari olehnya? Ataukah itu semua hanya sebuah kebetulan saja, sebab beberapa menit lalu ia dan wanita itu duduk bersama di meja yang sama untuk menikmati makan malam bertiga bersama Xena.


__ADS_2