
Hari ini melia tengah libur kerja, ia ingin memanfaatkan hari ini untuk berbicara kepada kakeknya.
Setelah kakek memasuki kamar, melia merasa tidak tenang.
Pagi ini melia sudah memasak makanan kesukaan kakeknya, berharap kakeknya akan mau memaafkan melia.
Tok.. tok.. tokk
Melia mengetuk pintu kamar kakek, namun tidak ada balasan dari dalam
"Kek, melia masuk ya" kata melia sambil memegang gagang pintu kamar kakeknya.
Melia segera membuka pintu kamar kakek dan ia melihat kakeknya tengah terduduk di dekat jendela.
"Kakek makan dulu yukk" ajak melia sambil berjalan mendekati kakeknya.
Melia duduk di samping kakek willi dan memegang tangannya.
"Kakek" panggil melia pelan.
"Kakek marah banget sama aku?" Tanya melia
"Bagaimana kakek menjelaskan kepada keluarga ratna, kemarin meraka sangat bahagia karena kakek melanjutkan perjodohan ini. Jika di batalkan bagaimana juga nasib ibumu" jawab kakek willi, air matanya menetes.
Ia sangat bingung, ia sangat mendukung perjodohan ini. Sekaligus memenuhi keinginan mendiang anak dan menantunya yg telah tiada. Di sisi lain ia melihat cucunya sangat mencintai atnan, dan kebahagiaan cucunya sangatlah penting.
"Kakek, aku akan menemui tante ratna untuk menjelaskannya. Bagaimana pun hubungan keluarga kita dengan keluarga tante ratna harus tetap baik." Kata melia.
Kakek masih terdiam, melia tau pasti kakeknya sangat kecewa dengan keputusannya. Tapi bagaimana pun juga melia telah menerima lamaran atnan, pria yg sudah baik kepadanya selama ini. Ntah sebenarnya hati melia mencintainya atau tidak.
"Ayo sarapan dulu kek. Melia sudah memasak di bawah" ajak melia kepada kakeknya.
"Segera pergi ke rumah adam, dan sampaikan maaf kakek kepada mereka" kata kakek willi sambil berjalan meninggalkan melia yg masih terduduk.
**Maafin melia kek, melia tidak bisa menerima perjodohan ini** batin melia dan lekas berjalan menyusul kakeknya.
Melia dan kakek willi berada di meja makan, mereka sarapan tanpa ada yg bersuara. Biasanya kakek akan selalu cerewet jika sudah bertemu dengan cucu satu satunya itu.
"Assalamualaikum" salam seorang pria dari pintu depan.
Dengan segera melia menghampiri sumber suara itu.
"Waalaikumsalam. Mas atnan" sahut melia "Ayo masuk dulu mas, sekalian sarapan sama aku dan kakek" sambung melia.
Melia membawa atnan ke ruang makan, di lihatnya kakek willi tengah sarapan.
"Assalamualaikum kek" salam atnan sambil mengulurkan tangannya.
"Waalaikumsalam" jawab kakek willi.
Melia segera mempersilahkan atnan untuk duduk di samping dirinya.
"Kamu mau makan sama apa mas?" Tanya melia yg sudah memegang piring untuk atnan.
"Sudah, aku sudah sarapan di rumah" kilah atnan. Tentu ia tidak akan bisa makan bersama kakek willi dengan kondisi canggung seperti ini.
"Kakek apa baik baik saja?" Tanya atnan kepada kakek.
"Iya" jawab singkat kakek tanpa melihat atnan.
"Iya udah, kakek melia berangkat dulu sama mas atnan ya" pamit melia. Ia ingin segera menemui ratna.
"Mau kemana?" Tanya atnan
"Ke rumah tante ratna mas, ayo" jawab melia.
Mereka berdua berpamitan kepada kakek dan segera berjalan menuju mobilnya.
"Ada apa sayang kenapa sepagi ini?" Tanya atnan.
"Iya biar cepet selesai mas, tante ratna ibunya adam yg mau di jodohin sama aku" jawab melia. Atnan hanya mengangguk.
Dan mereka segera melaju menuju rumah adam.
Keluarga adam tengah sarapan bersama, lengkap dengan adam dan selvi.
Semenjak mengetahui perjodohan itu terpancar raut bahagia di wajah adam.
"Mama jadi gak sabar pa buat lamar melia" kata ratna di sela sela sarapannya.
__ADS_1
"Sama ma, papa juga" balas bagas.
"Jadi kakak gak jadi nikah sama mak lampir itu ma?" Tanya selvi polos.
Uhukk.. uhuk.. uhukk..
Membuat mereka yg tengah asik makan tersedak.
"Siapa yg kamu maksud mak lampir?" Tanya adam
"Itu kak sherin, selvi gak suka sama dia" jawab selvi.
"Iya gak jadi sayang, mama udah jodohin sama kamelia." Sahut ratna.
"Permisi nyonya dan tuan, di depan ada tamu" kata seorang pelayan.
"Tamu siapa ya pagi pagi gini?" Tanya ratna.
Ratna segera beranjak dari meja makan dan berjalan menemui tamu tersebut.
Di lihatnya kamelia tengah berdiri di depan rumanya.
"Lohh melia, kok gak masuk nak? Ayo masuk dulu" ratna segera membawa melia masuk.
"Kamu sama siapa?" Tanya ratna
"Sama temen tante, lagi nunggu di mobil" jawab melia.
Memang atnan sengaja tidak masuk, karena ia hanya orang luar yg tidak tau permasalahan mereka. Jadi atnan membiarkan melia menyelesaikannya.
Tampak ratna clingak clinguk melihat arah luar, penasaran siapa teman melia.
"Tante melia mau membicarakan sesuatu" kata melia, membuat ratna langsung menatap kamelia.
"Iya sayang ada apa?" Tanya ratna.
"Tante kakek sudah menceritakan semua kepada melia, dan melia sudah tau jika melia dari 20 tahun yg lalu sudah di jodohkan dengan putra tante" kata melia
"Syukurlah kalau kamu sudah tau nak" ucap ratna sambil merapikan rambut calon menantunya.
"T..tapi tante, melia minta maaf" kini melia sangat gugup, ia takut jika tante ratna akan membencinya.
Pernyataan melia seolah membuat ratna tersambar petir di pagi hari.
"Tapi kenapa nak? Perjodohan ini sudah di setujui dua belah pihak" tanya ratna. Yg ingin mengetahui apa sebenarnya alasan gadis itu menolak.
"Tapi melia tidak pernah tau perjodohan ini tante, kekek baru kemarin menceritakan semua kepada melia, sedangkan saya sudah menerima lamaran dari orang lain dan kita akan segera menikah tante. Tante juga pasti tau saya dan tuan adam tidak saling mencintai, kita selalu berselisih." Kata melia mencoba menjelaskan kebenarannya.
Apa tidak mencintai?? Mereka pikir kedekatan adam dan melia karena melia sudah memiliki rasa kepada adam dan sebaliknya.
"Tante, maafin melia harus berkata seperti ini. Melia harap hubungan kita akan tetap baik tante" kata melia sambil memegang tangan ratna.
Ratna masih terdiam ia tidak menyangka perjodohan ini akan batal.
20 tahun mereka menunggu, dan penantian itu harus sia sia.
Tanpa mereka sadari adam telah mendengar semuanya, ia segera berjalan menuju kamarnya dengan perasaan kecewa.
Di tutup pintu kamarnya dengan sangat kasar.
Mengetahui ternyata selama ini sekertarisnya tidak mencintainya, malam itu mereka sangat bahagia. Bermain bersama di pasar malam, adam memberikan semua yg melia minta, mencoba menjadi adam yg dulu.
Ternyata sekertarisnya tidak memiliki rasa sedikitpun kepadanya.
Cetar...!!!!
Sebuah kaca di pukul dengan sangat keras, tampak wajah emosi adam yg sudah lama ia pendam.
Kepalan tangannya meluncur bebas menghantam kaca, darah segar mengalir dari sela sela jarinya.
Entah apa yg ada di pikiran adam saat ini, ia hanya marah kepada dirinya sendiri, yg dengan mudah memberikan hatinya kepada sekertarisnya itu.
"Dia bukan tiwi!!!!" Ucap adam dengan mulut bergetar.
Prang...!!
Di lemparnya semua yg ada di atas mejanya.
"Dia bukan tiwi!!!!!" Teriaknya lagi
"Sadarlah adam, dia bukan tiwi!!!! Dia hanya sekertaris yg tidak berperasaan!!!"
__ADS_1
"Aaaggghhhhhh" kacau adam di dalam kamarnya.
"Terimakasih tante sudah mau mengerti" kata melia, ratna mencoba untuk sabar dan menerima keputusan melia.
Bagaimana pun juga gadis itu tidak bersalah.
"Iya nak, jangan lupa undang tante ya" kata ratna, dan memeluk tubuh melia.
Melia segera berpamitan kepada ratna untuk pulang.
Ratna mengantarnya hingga depan rumah.
Setelah mobil berjalan menjauh, ratna kembali masuk menemui keluarganya.
"Siapa ma?" Tanya bagas.
"Pa kita ngobrol dikamar dulu" kata ratna.
Bagas segera menyusul istrinya yg sudah lebih dulu berjalan kekamar.
Bagas menutup pintu kamarnya dan duduk didekat istrinya.
"Ada apa ma?" Tanya bagas
Ratna menceritakan jika yg tadi datang adalah melia, dan melia menolak perjodohan ini. Ratna menceritakan semua tanpa terlewatkan.
Bagas memeluk istrinya yg mulai menangis, lagi lagi istrinya harus merasakan kehilangan seperti yg di alami 20 tahun dulu.
"Bagaimana menceritakan kepada adam pa?" Tanya ratna yg masih terisak.
"Iya kita bicarakan semuanya ma, adam harus tau masalah ini" kata bagas.
Padahal putranya itu sudah mengetahui semuanya, bahkan ia sudah menumpahkan semua kekesalannya di dalam kamarnya.
Kini perasaan melia sedikit lega, karena tante ratna ikhlas menerima keputusannya.
Ia ingin kembali kerumah menemui kakek, dan menceritakan semuanya.
Kini mobil atnan sudah sampai di depan rumah melia.
"Ayo mas, kita harus menemui kakek dan meminta restu" ajak melia.
Dengan segera mereka berdua masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum" salam melia dan atnan.
"Waalaikumsalam" jawab kakek willi yg tengah duduk di ruang tamu.
Melia segera duduk di samping kakeknya.
"Bagaimana nak?" tanya kakek, sekarang raut wajah kakek sudah lebih baik. Tidak tau apa yg di lakukannya selama melia pergi.
"Melia sudah bicara sama tante ratna kek, dan tante ratna sudah mau menerimanya" jawab melia.
Kini kakek sudah tidak bisa memaksakan perjodohan lama itu, bagaimana pun kebahagiaan cucunya adalah yg utama.
Di usapnya kepala lembut melia, ia tau jika selama ini cucunya melewati banyak hal. masa mudanya harus dia habiskan untuk bekerja, mungkin sekarang saatnya cucunya bahagia.
"Nak atnan apa kamu benar benar menyayangi cucuku?" tanya kakek willi.
"Tentu kakek, saya sangat menyayangi kamelia" jawab atnan mantap.
"Jaga cucuku baik baik, buat dia bahagia. jika dia menangis karenamu maka kakek akan membawanya kembali" kata kakek willi, membuat melia dan atnan saling menatap.
Apa itu artinya kakek merestuinya??
"Apakah kakek merestui kami?" tanya atnan sedikit gugup.
Dan kakek willi menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih kek" melia memeluk erat kakeknya.
Berhubung kakek willi sudah merestui, maka keluarga Atnan akan datang nanti malam sekaligus membahas pernikahan mereka.
*****
happy reading, maaf jika masih ada typo🙏
jangan lupa terus like n vote yaa🥰🥰
__ADS_1