Pemilik Hati Kamelia

Pemilik Hati Kamelia
Layaknya teman


__ADS_3

Melia dan sherin berjalan memasuki kantor Brawijaya, sesampainya di loby banyak pasang mata yang menyaksikan mereka.


Bagaimana Istri presdir dan mantan kekasihnya bisa berjalan bersamaan dan terlihat akur.


Melia menggandeng tangan sherin yang terasa dingin.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya melia.


"Iya mel, aku cuman sedikit canggung" jawab sherin.


Meraka masuk kedalam lift untuk menuju lantai 20, mereka berjalan menuju ruangan adam.


"Tunggu mel" kata sherin membuat melia menghentikan langkahnya.


"Kenapa sher?" tanya melia.


"Aku ragu" jawab sherin sambil menundukkan kepalanya.


"Gak apa-apa sher, mas adam tidak akan marah" ucap melia.


Sherin mencoba mengatur nafasnya, dan melanjutkan langkahnya.


Sesampainya melia membuka pintu ruangan adam, di lihat suaminya tengah sibuk membaca laporan.


Pandangan melia beralih menatap sekertaris yang duduk berhadapan dengan suaminya.


"Assalamualaikum mas" salam melia, membuat mereka memalingkan wajahnya menatap melia.


"Waalaikumsalam" jawab adam.


"Sayang kamu kenapa datang kemari?" sambung adam


"Apa aku menggangu?" tanya melia, ia sangat kesal mendengar suaminya bertanya seperti itu.


"Tentu tidak sayang, kemarilah" jawab adam.


Melia menghampiri suaminya, dan adam menciumi kening serta pipi melia.


Adam terkejut saat melihat seorang wanita berdiri di belakang istrinya.


"Sherin" ucap adam. sherin hanya tersenyum kecil.


"Iya mas aku kesini sama sherin, kamu gak marah kan?" tanya melia.


"Tidak masalah, duduk lah dulu di sana. sebentar lagi pekerjaanku selesai" jelas adam.


Melia mengangguk dan membawa sherin untuk duduk di sofa bersamanya.


Sedangkan thania dari tadi hanya duduk terdiam.


"Apakah dia sekertaris baru?" tanya sherin berbisik kepada melia.


"Iya. dia penggantiku" jawab melia juga berbisik

__ADS_1


Selagi suaminya masih sibuk dengan pekerjaannya, melia dan sherin asik mengobrol.


sesekali mereka akan tertawa bersama, membuat adam tersenyum menatapnya.


Tapi tidak dengan thania, menurutnya kedatangan melia adalah pengganggu.


**lihat aja aku akan membuat dia menderita** batin thania.


"Tuan apa perlu saya membuat minuman untuk istri anda dan temannya?" kata thania.


"Boleh" jawab adam.


Thania pun segera keluar dari ruangan adam dan membuatkan minuman untuk mereka.


Adam berjalan menghampiri istrinya, dan duduk di sebelah melia.


"Udah selesai mas?" tanya melia.


"Dikit lagi sayang" jawab adam.


Sherin dan adam tampak canggung disana, sesekali sherin akan membuang muka ke sembarang arah agar tidak bertatapan dengan adam.


"Mas, kamu udah maafin sherin kan?" tiba tiba melia bertanya memecah keheningan.


Nampak adam menatap wanita yang berada di dekat istrinya.


"Aku sudah memaafkannya sebelum kamu bertanya" jawab adam.


Sherin mengangkat wajahnya, ia rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Iya" jawab adam sambil mengelus pucuk kepala istrinya.


"Adam apakah itu benar?" tanya sherin ragu ragu.


"Iya sherin aku memaafkanmu" jawab adam.


Bagaimana pun adam sudah mengenal sherin cukup lama, ia bisa melihat penyesalan di wajah mantan kekasihnya itu.


Akhirnya mereka mengobrol seperti layaknya teman, tidak berapa lama thania masuk dengan membawa nampan di tangannya.


Di letakkan minuman itu di atas meja, melia menatap lekat wanita itu.


"Silahkan diminum" kata thania.


"Terima kasih" jawab sherin sedangkan melia tidak mengatakan apa pun.


Entah kenapa melia sangat tidak suka melihat sekertaris baru suaminya.


"Mel kamu baik baik aja?" tanya sherin.


"Iya sher" jawab singkat melia.


Thania masih berdiri di samping sofa entah apa yang di tunggu wanita itu.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ada pekerjaan?" tanya melia kepada thania.


"Maksud anda?" bukannya menjawab thania malah bertanya balik.


"Bisa kah kamu kembali ke ruanganmu?" tanya melia tanpa basa basi.


thania mengerutkan dahinya, itu artinya melia tengah mengusir dirinya.


"Tuan saya permisi kembali keruangan" kata thania, dan hanya di balas anggukan oleh adam.


Dengan kesal thania keluar dari ruangan adam.


"Sial!!!" umpat thania saat sudah sampai di dalam ruangannya.


"Beraninya dia mengusirku, ini tidak bisa di biarkan. aku akan membuat wanita itu menyesal" sungut thania.


Siang ini Adam melia beserta sherin pergi ke lestoran untuk makan siang, karena sedari tadi di kampus mereka berdua belum sempat makan.


"Mas tapi aku gak mau makan disini" kata melia.


"Dimana sayang?" tanya adam, melia tampak berfikir.


"Aku pengen bakso mas" jawab melia.


"Bukannya tadi pengen mie ayam?" tanya sherin.


"Sekarang udah gak pengen" jawab melia lagi sambil tertawa.


Karena mobil adam sudah di parkirkan, akhirnya mereka berjalan kaki menuju warung bakso yang berada di dekat sana.


belum sampai di warung bakso langkah mereka terhenti


"Tuan adam" seseorang memanggilnya dari belakang, membuat adam membalikkan tubuhnya.


"Tuan maulana" sahut adam.


Maulana menghampiri adam dan bersalaman dengan mereka semuanya.


"Tuan kita bertemu lagi, mau kemana tuan adam?" tanya maulana.


"Saya ingin makan siang dengan istri saya" jawab adam.


Sherin tampak melihat maulana dengan serius, seperti mengenal pria itu namun tidak tau dimana dan kapan.


"Maaf tuan, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya sherin.


"Mmm.. sepertinya tidak nona" jawab maulana.


"Benarkah? mungkin aku salah orang" ucap sherin.


Tapi wanita itu yakin jika sebelumnya mereka pernah bertemu. sherin melihat raut wajah maulana, pandangannya nampak berbeda.


*****

__ADS_1


happy reading🥰🥰 jangan lupa like n vote🙏


__ADS_2