
"Rio....!"
Rio tak bergeming, jarinya asik menutul nutul layar hpnya. Sudah beberapa hari ini Rio sibuk dengan Hpnya. Kadang dia tersenyum sendiri seperti orang gila. Anindya kesal di buatnya. Ia merasa tak di gubris oleh suaminya sendiri.
" Rio....!!!! "
Anindya menutup layar hp Rio dengan tangannya. Rio mendongak, mendapati wajah Anindya yang di tekuk.
" Kenapa sih? " Tanya Rio dengan tampang bloonnya membuat Anindya gemes bukan kepalang.
" Lihat aku" Anindya sedikit menjerit.
"Iya ini udah dilihat. " Rio mengernyitkan alisnya.
" Bukan gitu maksudnya Rio. " Anindya gelosotan diatas sofa saking kesalnya.
Rio menahan tawa, dia heran dengan kelakuan aneh istrinya yang tak biasa.
" Anin kamu sehat kan? " Rio menempelkan tangannya di kening Anindya. Anindya mendelik, Gadis itu menepis tangan Rio.
" Stop mainan hp nya, atau kalau nggak aku banting nih hpnya. " Anindya merebut hp dari tangan Rio. Rio berusaha merebutnya kembali tapi tidak berhasil karena Anindya memasukannya ke dalam saku celananya. Anindya yakin Rio tidak akan berani mengambilnya.
" Kamu pikir aku tidak berani mengambilnya? " Rio tersenyum nakal. Anindya tampak gusar. Siasatnya tidak berhasil. Rio bangun dari duduknya dan bersiap mengejar Anindya.
" Rio, jangan macam macam ya. " Anindya mengancam.
Rio tidak peduli, dia terus maju dan Anindya semakin terpojok ke sudut ruangan.
Duk!!! Anindya menabrak tembok di belakangnya. Gawat tidak ada tempat lagi untuk kabur.
Sekarang Gendis lebih berharga dari aku ya Rio? Sampai sampai kamu tidak mau kehilangan waktu sedetikpun untuk sekedar memperhatikan ku.
Rio semakin mendekat, wajahnya hanya tinggal beberapa centi dari hidungnya. Anindya memejamkan matanya dan memalingkan mukanya. Tidak ada reaksi. Apa Rio sudah pergi? Anindya membuka perlahan matanya. Tapi tiba-tiba secepat kilat tangan Rio berhasil mengambil hp dari saku celananya.
Sial!
Anindya kesal. Dia lalu berlari memasuki kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam.
Sementara itu Rio terbengong melihat kelakuan istrinya. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Susah ya kalau sudah berurusan dengan wanita. Ahhaaa... Dia ada ide.
Setengah berjinjit Rio membuka pintu dengan pelan. Dia matikan saklar listrik. Sukses. Terdengar jeritan Anindya dari dalam kamar. Dengan cepat Rio masuk kembali ke dalam rumah dan berdiri di depan kamar Anindya. Tak sampai satu menit gadis itu membuka pintu dan berhambur ke dalam pelukan Rio.
Maaf ya Nin aku manfaatin ketakutanmu. Rio tahu Anindya takut gelap.
"Kok mati lampu sih? " tanya Anindya masih dalam pelukan Rio.
" Kok rumah kita doang yang mati? " tanya Anindya karena melihat di luar lampu jalanan menyala terang.
" Mungkin saklarnya turun, biar aku lihat, kamu duduk dulu disini ya jangan kemana mana takut ada hantu. " Rio menakuti nakuti Anindya seperti anak kecil. Dia menuntun istrinya dan mendudukannya diatas sofa. Saklar listrik dia naikan kembali dan lampu pun menyala lagi.
Anindya masih duduk mematung diatas sofa. Sisa sisa ketakutannya masih ada, sebenarnya Rio merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi ini satu satunya cara agar Anindya mau keluar kamar.
__ADS_1
Rio duduk di samping Anindya dan menarik kepala gadis itu kedalaman pelukannya, mengusap lembut rambutnya.
" Kamu kenapa sih? " tanyanya kemudian setelah Anindya tenang.
" Kamu yang kenapa? Ada aku di depan kamu tapi malah sibuk terus sama hp? " Anindya merajuk.
" lya aku minta maaf. "
" Kamu chattingan sama Gendis ya? " tebak Anindya.
" Sotoy kamu. " Rio memonyongkan bibirnya.
" lya juga,,, iya kan sama Gendis? " Anindya mendongak menatap wajah Rio.
" Kalau iya kenapa? " pancing Rio.
Anindya terdiam. Iya juga ya, kan Rio bebas mau berteman sama siapa saja. Toh pernikahan mereka cuma sandiwara.
" Ya,,, ya,,, nggak kenapa kenapa sih. " jawab Anindya tergagap. Dia bingung dengan alasannya sendiri.
" Terus kenapa kamu marah marah nggak jelas? " Rio menatap penuh selidik.
" Aku kesel aja kamu cuekin terus. " jawab Anindya setelah berpikir sejenak.
" Bener alasannya cuma itu. " Rio tak percaya.
" lya... memang apalagi? " Anindya memalingkan mukanya seakan takut ketahuan kalau dia berbohong.
Rio menyeringai. Strateginya mulai berhasil.
Apa cemburu? Apa mungkin ini yang di maksud perasaan cemburu? Ahh ini hanya perasaan jengkel saja karena Rio terlalu sibuk sama Gendis.
Anindya mencoba mencari pembenaran atas apa yang dia rasakan. Bukan karena cemburu.
" Cemburu apaan sih,,,,? Ngapain aku cemburu? " Anindya ketus.
" Ya sudah aku lanjut lagi nih chat nya. " Rio kembali membuka hpnya.
" Jangan....! "pinta Anindya menghentikan tangan Rio.
" Loh kenapa emangnya? "
" Pokoknya nggak boleh,apalagi chatting sama Gendis. " Anindya sewot.
Rio memegang dagunya dan menahan tawanya. Kelakuan istrinya itu sungguh ajaib. Katanya tidak cemburu tapi melarang chat dengan Gendis.
Ayo jujur saja Nin kalau kamu cemburu, aku akan sangat senang kalau kamu cemburu.
" Terus aku kudu piye? chatting sama kamu saja?" Rio terus menggoda.
" Stres kali ya, orang ada di depan mata pake chatting segala. " Anindya semakin jengkel.
__ADS_1
" Udah ah jangan marah marah mulu, nanti muka kamu keriput karena di tekuk mulu. " Rio memeluk tubuh Anindya. Ada perasaan hangat saat ia melakukan itu. Anindya pun tidak menolak ia merasa nyaman berada dalam pelukan Rio.
Rio mengecup kepala Anindya. Mungkin ini yang diinginkan Anindya dari tadi. Kenapa ia begitu bodoh.
" Sebentar lagi kan gajian, traktir aku yaaa. "
" Boleh,,, mau ditraktir apa? "Anindya memainkan ujung rambutnya.
" Hmmmm apa aja deh aku mau. "
" Ya udah nanti aku traktir tenang aja. "
Tut... Tut... Tut...
Rio melirik hpnya yang berada diatas meja. Gawat Gendis menelepon. Anindya pun ikut melirik ke arah hp Rio.
Tut... Tut... Tut...
Tangan Rio menggapai hp, tapi tak jadi karena keduluan Anindya yang mengambil hpnya.
" Hallo. "
" Ini Anindya ya? " tanya Gendis di ujung telepon.
" Iya... " jawab Anindya pendek.
" Mas Rionya mana? "
Mas? Sejak kapan Rio di panggil mas? Sebenarnya sudah sejauh mana sih hubungan mereka?
" Rio sudah tidur Dis, besok aja lagi ya. ' Anindya berbohong, matanya mendelik ke arah Rio.
Rio menahan tawanya. Begitu rupanya kalau perempuan sedang cemburu. Dia hanya terdiam, menonton sandiwara istrinya.
"Oohh ya sudah kalau gitu,,, makasih ya Nin, bye..." pungkas Gendis.
" Sudah bohongnya? " Rio mengambil handphone dari tangan Anindya.
" Hehehe... " Anindya tersipu.
" Lain kali jangan berbohong. " Rio mengacak rambut Anindya gemas.
" Iya deh... " Anindya menggangguk.
" Ya sudah tidur gih, udah malem. "
" Iya aku juga sudah ngantuk. " Anindya berdiri dan berjalan menuju kamarnya diikuti Rio dari belakang.
" liiihh salah kamar pak. " Anindya mendorong tubuh Rio ketika laki laki itu hendak ikut masuk ke dalam kamarnya.
" Kapan sih kamar ini jadi kamar kita berdua? " keluh Rio.
__ADS_1
" Udah ah sana tidur. " Anindya menutup pintu kamarnya membiarkan Rio mematung di sana sendirian.
BERSAMBUNG ***