PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
PERSAINGAN


__ADS_3

Rio tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit. Sebuah selang infus terpasang di tangan kirinya. Mukanya sudah tidak sepucat tadi pagi saat masih di rumah. Tapi juga belum pulih sepenuhnya. Dokter mendiagnosa kalau Rio terserang typhus.


" Makasih Nin." suara Rio terdengar lirih menatap Anindya di samping tempat tidur.


Anindya tersenyum dia membetulkan selimut yang menutupi tubuh Rio. Mengambil potongan buah dan menyuapi laki laki itu. Rio merasa beruntung ada Anindya di sampingnya kalau tidak apalah jadinya dia sekarang.


" Haruskah aku telepon ibu? " tanya Anindya.


" Jangan, ibu jangan sampai tahu kalau aku sakit. Aku tidak mau mengganggu pikiran ibu. " Rio menggeleng.


" Oke" Anindya memasukan potongan terakhir semangka ke dalam mulut Rio.


" Kenapa kamu mabuk kemarin malam. " tanya Anindya tiba tiba membuat Rio sedikit malu.


" Aku hanya ingin menghilangkan penat. " desah Rio tertunduk. Jujur ia malu sekali dengan Anindya yang tentunya melihat betapa kacaunya dia kemarin malam.


" Terus apa dengan mabuk mabukan hilang semua permasalahan kamu? " cecar Anindya, ia merasa kecewa dengan kelakuan Rio. Mana Rio yang alim yang ia kenal dulu.


Rio menggeleng, laki laki itu semakin menundukkan wajahnya. Ia tak sanggup lagi menatap kilatan mata Anindya yang menyiratkan kekecewaan dan kekesalannya.


" Rio aku mohon jangan lakukan ini lagi, ini bukan Rio yang aku kenal. " Anindya meraih tangan Rio. Mengungkapkan permohonannya kepada laki laki itu.


Rio menganggukan kepala. Bibirnya bergetar menatap bulir bening yang kini membasahi pipi gadis yang begitu dia sayangi. Rio menarik tubuh itu dalam pelukannya. Ia berjanji dalam hati untuk tidak melakukan hal konyol seperti kemarin malam.


" Ehem...! "


Sebuah suara membuyarkan suasana syahdu diantara mereka. Di ujung pintu sudah berdiri sesosok pria yang entah sejak kapan berada disitu.


" Vino. " Anindya terkejut melihat Vino yang kini melangkah masuk.


" Maaf aku baru tahu kalau Rio di rawat. " Vino membawa sebuah parcel berisi buah buahan segar. Anindya menerima parcel itu dan menaruhnya diatas meja kecil di samping tempat tidur.


" Terima kasih Pak Vino, maaf sudah merepotkan Bapak. " Rio tampak sedikit canggung.


" Tidak merepotkan kok, sudah sewajarnya kalau aku menengok karyawan terbaikku. " ucap Vino memuji. Matanya melirik ke arah Anindya yang tengah berdiri di samping ranjang Rio.

__ADS_1


Anindya merasa kikuk. Apakah Vino melihat kejadian barusan? Ah mendadak perasaan takut itu muncul.


" Bapak mau minum apa biar saya carikan. " tanya Anindya basa basi.


" Tidak usah, ini rumah sakit bukan rumah. " Vino tersenyum.


" Sakit apa Rio?" Vino duduk di kursi yang di berikan Anindya.


" Kata dokter sih thypus Pak. " Rio menjawab lirih.


" Oohh,,, sepertinya kamu kecapaian dan suka telat makan ya, hingga imun tubuh kamu menurun dan bakteri mudah masuk ke tubuh mu. " Vino menatap wajah Rio yang masih terlihat pucat.


" Iya,,, mungkin Pak. " Rio tersenyum malu.


Terdengar suara langkah kaki dari luar. Sebuah ketukan pintu.


" Permisi. "


Gendis muncul dari balik pintu. Gadis itu pun membawa bingkisan plastik entah berisi apa.


" Eh ada Pak Vino juga. " Gendis tampak sedikit canggung melihat Vino ada diruangan itu. Kini ia sudah tahu kalau Vino sebenarnya adalah Direktur perusahaannya.


" Sekali lagi saya ucapkan terima kasih Pak, maaf sudah merepotkan. " ujar Rio sekali lagi.


" Cepat sembuh ya. " Vino menyentuh pundak Rio dengan tersenyum.


" Saya antar Bapak ke bawah. " Anindya mengikuti Vino dari belakang. Jujur dia juga merasa risih dengan kehadiran Gendis. Jadi lebih baik dia keluar dulu.


" Sebenarnya kamu tidak usah repot repot mengantar aku Nin, aku bukan anak kecil lagi. " Vino tersenyum ke arah Anindya.


" Tidak apa apa Pak. " Anindya membalas senyum Vino. Dengan langkah santai mereka berjalan menuruni anak tangga menuju parkiran.


" Kamu jangan terlalu capek, takutnya nanti malah ikutan sakit. " Vino sedikit khawatir.


Anindya mengangguk. Untunglah Vino tidak membahas kejadian tadi. Mudah mudahan saja Vino tidak berpikir macam macam tentang dia dan Rio,dan masih percaya kalau mereka bersaudara.

__ADS_1


Anindya melangkah masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit ketika mobil Vino sudah meninggalkan parkiran. Ketika melewati kantin rumah sakit ia berinisiatif membeli beberapa minuman kaleng untuk dia dan pengunjung nanti. Berjaga jaga kalau ada teman teman Rio yang menengok lagi.


Hampir satu kresek besar ia membeli minuman dan makanan ringan. Ia pun berjalan menaiki anak tangga. Lift rumah sakit sedang dalam perbaikan jadi terpaksa dia melewati tangga meskipun itu cukup melelahkan.


" Jangan sakit dong Rio, aku kan jadi sedih lihat kamu seperti ini. " Gendis terlihat manja sambil menggenggam tangan Rio. Anindya mengintip di balik pintu sebelum ia masuk ke dalaman ruangan.


" Terima kasih ya sudah datang menengok. " Rio tersenyum.


" Apa lebih baik aku disini saja. Kasian Anindya kalau tidak ada yang menggantikan menungguimu. " Gendis menawarkan diri.


" Tidak usah Gendis, aku masih bisa menjaga Rio. " Anindya masuk membuat Gendis sedikit terkejut.


" Kalau kamu cape, tidak apa apa aku gantikan Nin." Gendis setengah memaksa.


" Tidak usah, aku masih bisa kok. " Anindya pun tetap bersikukuh. Entahlah dia merasa tidak rela gadis itu berada dekat dengan Rio.


Gendis sedikit kecewa. Niatnya untuk menjaga Rio gagal.


" Kamu ingin makan buah nggak? " Gendis tak habis akal, setidaknya ia ingin tetap disitu sampai jam besuk habis.


" Bo,,, boleh... " Rio tergagap, sekilas tatapan nya bertabrakan dengan pandangan Anindya yang sepertinya kurang nyaman dengan kehadiran Gendis disitu.


" Kamu kan sudah banyak makan buah tadi, jangan terlalu banyak, lambungmu belum kuat. " Anindya mengingatkan dengan tatapan tajam. Rio merasa gadis itu seperti ingin menelannya hidup hidup.


" Nanti saja Dis, perutku masih kenyang. " Rio jadinya menolak suapan buah dari tangan Gendis. Gadis itu menoleh ke arah Anindya yang pura pura sibuk menaruh makanan kedalam kulkas yang menjadi fasilitas ruang VIP rumah sakit itu.


Anindya puas dengan Rio yang menurutinya. Ia berharap Gendis tidak betah lama lama disitu. Maaf ya Gendis, Rio itu masih suamiku jadi kamu jauh jauh deh dari dia. Anindya bergumam dalam hati.


Gendis menarik nafasnya. Sepertinya kehadirannya disitu sudah tidak dibutuhkan lagi. Ia meraih tas miliknya. Bersiap untuk pulang.


" Kalau begitu aku pamit dulu ya,,,, semoga cepat sembuh Rio. " Gendis dengan wajah lesu berpamitan. Rio menatap gadis itu dengan perasaan tidak enak.


" Terima kasih ya Gendis. " ucapnya. Gendis mengangguk.


" Terima kasih sudah menjenguk Rio. " Anindya tersenyum. Dia tidak bisa menutupi perasaan senang dalam hatinya. Gendis tersenyum seraya melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Rio melihat Anindya dengan heran. Anindya pun menatap Rio dengan sumringah.


Bersambung...


__ADS_2