PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Masa Lalu Cindy


__ADS_3

Vino mengantar Cindy pulang ke rumahnya. Kedua orang tuanya tadi sempat berseloroh untuk mempercepat hari pernikahan mereka.


Sial. Ini semua di sebabkan ibunya yang memergoki mereka yang tengah berciuman tadi. Vino tidak habis pikir kenapa tiba-tiba dia bisa hilang kendali seperti itu. Padahal niatnya td cuma ingin mengerjai Cindy saja.


Eeehh malah keterusan dan terjadi ciuman panas yang membuat mereka lupa diri. Vino tak henti merutuki dirinya sendiri. Kalau seperti ini kejadiannya akan lebih sulit untuk mereka menghentikan pernikahan ini.


Vino mengacak rambutnya. Merasa frustasi dengan kekacauan yang ia buat sendiri. Kini ia tak lagi bisa menyalahkan Cindy, karena dirinya sendiri telah ikut andil dalam kesalahan ini.


" Vin, kita harus bagaimana sekarang?" tanya Cindy yang mulai resah memikirkan langkah selanjutnya.


Vino terdiam, ia juga merasa pusing tujuh keliling mencari solusi agar pernikahan ini tidak terjadi.


" Bagaimana kalau kita pura pura saja. Kita tetap nikah, tapi kita tetap berada di dunia masing masing, tidak boleh mencampuri urusan satu sama lain." Cindy mengutarakan idenya.


Tidak. Vino tidak mau terjebak dalam hubungan tidak jelas seperti itu. Ia sudah yakin kalau ia ingin berubah lebih baik lagi. Tidak ingin lagi mengikuti keegoisannya sendiri.


Ide Cindy dulu mungkin adalah idenya juga, tapi untuk saat ini ia tidak mau melanjutkan ide gila tersebut. Lebih baik ia mati di tangan ayahnya daripada harus berbohong pada orang tuanya dan pada dirinya sendiri.


" Aku tidak mau, sudah aku bilang aku ingin berubah. Aku sudah sembuh Cindy." tegas Vino tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang sedikit tersendat.


" Terus apa solusinya? Kamu juga tidak ingin menikah denganku kan?" tanya Cindy lagi.


Tidak ada lagi ide, otaknya buntu. Sepertinya semua jalan sudah tertutup. Cuma ada satu jalan yaitu jujur pada orang tua masing masing. Tapi jika begitu Cindy lah yang paling di rugikan nanti. Bisa bisa ia di usir oleh keluarganya sendiri akibat penyimpangan yang ia lakukan. Dan Vino tidak tega kalau Cindy harus mengalami hal mengerikan itu.


" Aku mumet, aku butuh hiburan." Vino merubah tujuan mobilnya ke sebuah club malam yang berada tak jauh dari jalanan situ.


Cindy hanya menurut. Dunia malam sudah tidak asing lagi baginya. Ia pun sering pergi clubing bersama teman temannya saat ada kesempatan. Bahkan sering ada temannya yang merayakan ulang tahunnya di club malam.

__ADS_1


Suara hentakan musik memenuhi ruangan yang di penuhi muda mudi. Cahaya lampu warna warni menyilaukan mata yang melihatnya.


Vino duduk di sebuah sofa yang masih kosong. Cindy hanya mengikuti Vino duduk di samping laki laki itu. Seorang pelayan wanita berpakaian seksi menghampiri mereka.


Vino memesan dua botol minuman dan makanan ringan untuk mereka. Cindy terlarut dalam alunan musik hingga badannya mulai bergoyang mengikuti irama musik.


Beberapa muda mudi asik menggoyangkan badannya di tengah arena. Bahkan ada diantara mereka yang menari cukup erotis membuat banyak pria bersiul dan menggodanya dengan nakal.


Cindy hanya menyeringai, karena diapun pernah melakukan itu saat ia sudah sangat mabuk. Entah kenapa dia bisa melakukan itu, gerakan tarian erotis yang dalam keadan sadarpun tidak bisa ia lakukan.


Untung Dewi segera membawanya pergi saat itu. Kalau tidak bisa bisa ia melucuti semua pakaiannya saat itu. Dan mungkin akan menjadikan itu sebagai pengalaman paling memalukan dalam hidupnya.


Dewi. Teringat akan Dewi membuatnya sakit kepala. Bagaimana tidak. Dia sudah menjalin hubungan dengan gadis itu selama tiga tahun. Bersamanya Cindy merasa di sayangi dengan tulus. Dewi yang lemah lembut dan selalu menjaganya dari para lelaki yang mencoba mendekatinya.


Cindy memang pernah trauma oleh seseorang yang ia cintai dulu. Sempat gagal menikah saat persiapan pernikahan mencapai 85%. Cindy terpuruk dalam rasa sakit yang mendalam. Calon suaminya kabur bersama cinta pertamanya.


Saat mengenal Dewi, Cindy merasa di hargai dan di sayangi dengan tulus. Dewi tidak pernah berkata kasar padanya. Selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh perhatian.


Hingga perasaan itu muncul tiba-tiba. Perasaan cemburu dan tidak rela bila Dewi dekat dengan yang lain walaupun itu seorang perempuan. Perasaan sayang dan keinginan untuk saling memiliki satu sama lain.


Gila memang, tapi itulah kenyataannya yang ia rasakan saat ini. Bersama Dewi ia merasa nyaman dan terlindungi. Sifat maskulin Dewi membuatnya merasa tidak sedang bersama seorang perempuan.


Cindy tersadar dari lamunannya saat Vino menyodorkan segelas minuman padanya. Cindy menerimanya dan meneguk setengahnya.


" Kamu tidak ingin menari bersama mereka?" tanya Vino sedikit menaikan volume suaranya agar tidak teredam suara musik.


Cindy menggeleng. Baginya bersama Vino saat ini jauh lebih menarik.

__ADS_1


Vino menuangkan lagi minuman ke dalam gelasnya. Dan meneguk dalam sekali tenggak.


Cindy menggeleng dan tersenyum. Laki laki ini sungguh jago minum rupanya. Dia pun tak mau kalah menenggak habis minuman yang masih tersisa dalam gelasnya tadi.


Tanpa terasa dua botol minuman sudah mereka habiskan. Tangan Cindy melambai memanggil pelayan minta untuk di bawakan minuman kembali.


Padahal kepalanya sudah sedikit pusing. Terlihat Vino cuma tersenyum. Laki laki itu masih terlihat baik baik saja. Padahal ia sudah meminum beberapa gelas tadi.


Cindy sudah terlihat payah. Badannya mulai terlihat lemas. Tapi gadis itu masih nekat untuk meminum beberapa gelas lagi


" Sudah Cin, kamu sudah terlalu banyak minum, sebaiknya kita pulang." Vino menghentikan tangan Cindy yang hendak menenggak kembali segelas minuman.


" Aku masih belum mabuk Vin." Suara Cindy terdengar mendayu khas orang mabuk.


Vino mendesis. Belum mabuk katanya? Padahal gadis itu mulai meracau tidak jelas.


" Ayo kita pulang saja, sebelum kamu bikin masalah disini." Vino mencoba menarik tangan Cindy yang terkulai lemas. Walaupun badannya juga sudah sedikit limbung tapi ia yakin masih kuat untuk membawa Cindy keluar.


" Biar Cindy saya yang bawa, lepasin." Seseorang menghentikan usaha Vino untuk membopong tubuh Cindy.


Vino memperhatikan seorang yang memakai jaket hitam dan celana jeans hitam. Orang itu berkulit putih bersih, badannya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu kekar sepertinya.


" Ayo aku antar kamu pulang." Orang itu memapah tubuh Cindy yang lemah.


Cindy membuka matanya. Sesaat ia seperti menyelidiki siapa orang yang memapahnya. Ia merasa itu bukan Vino. Tapi aroma tubuhnya sudah sangat ia hapal. Aroma ini sudah tidaj asing baginya. Cindy berteriak kecil saat ia tahu siapa orang di sampingnya itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2