
" Cepet banget jalannya Anindya, kemana perginya tuh bocah?" Rio celingak celinguk sendirian di tengah kebun teh.
Rasa kantuknya perlahan hilang, matanya sudah tidak sesepet tadi. Tapi ia tidak menemukan Anindya di mana mana. Rio terlihat khawatir. Maksudnya ingin nelepon tapi sial ponselnya tertinggal di resort.
Dengan langkah tergesa ia berjalan kembali ke penginapan. Sepanjang jalan ia tak henti mencari barangkali Anindya ada disitu.
" Kamu kenapa Rio? " tanya Vino yang kebetulan berpapasan di jalan masuk ke resort.
" Kamu lihat Anindya?" saking paniknya Rio lupa bicara formal terhadap Vino.
" Emangnya Anindya tidak ada?" Tanya Vino yang juga terlihat cemas.
Rio tidak menjawab ia meneruskan langkahnya menuju kamar untuk mengambil ponselnya.
Rio makin terlihat panik saat nomor Anindya tidak bisa di hubungi.
" Vin,,,bantu aku cari Anindya ya." Rio meminta Vino untuk ikut menyisir disekitar tempat Anindya menghilang tadi.
Vino yang baru saja sampai di depan pintu kamar Anindya langsung berbalik badan. Setelah Rio menceritakan kejadian yang terjadi ia pun langsung mengomeli Rio habis habisan.
"Menjaga Anindya saja tidak becus kamu." cerocos Vino.
" Sudah Vino,,,kalau kamu tidak mau membantu tidak usah bantu sekalian." Rio jengkel mendengar ocehan Vino yang membuatnya makin panik dan emosi.
Vino tidak berkata apa-apa lagi. Keduanya lantas bersama sama mencari Anindya bahkan hampir ke seluruh pelosok tempat itu mereka cari tapi hasilnya nihil.
Vino teringat perempuan yang semalam. Mungkinkah ini perbuatan dia? Shiit! Tiba tiba wajahnya menegang.
***
Anindya membuka matanya perlahan. Tengkuknya terasa ngilu. Kini ia mendapati dirinya tengah duduk di sebuah bangku kayu. Kedua tangannya telah terikat erat ke kebelakang.
Dada Anindya bergemuruh. Siapa gerangan yang telah melakukan ini padanya. Mungkinkah dia telah di culik. Dimana ini? Anindya mengedarkan pandangannya menyusuri setiap inci ruangan itu.
Ruangan itu berukuran sekitar 4 x 3 meter. Ada satu ventilasi di ruang itu,tapi sudah di tutup oleh papan, menyisakan sebersit cahaya matahari yang berhasil masuk melewati celah sempit papan tersebut. Ruangan ini seperti sudah lama tidak di tempati. Terlihat dari cat tembok berwarna krem yang sudah usang dan mengelupas di berbagai sisi. Sampah sampah berserakan di lantai yang terlihat penuh debu. Lumut bahkan telah tumbuh di sudut sudut tembok yang terlihat lembab.
__ADS_1
Tidak ada lampu di ruangan tersebut. Udara terasa lembab dan pengap Tangan dan kaki Anindya terikat kuat. Meskipun ia sudah berusaha keras untuk melepas ikatan tersebut tapi semua sia sia. Lengan dan kakinya malah terasa perih.
Suasana terasa sangat sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sekitar situ. Mungkinkah dia sengaja di buang agar mati perlahan? Anindya bergidik ngeri membayangkan nasibnya nanti.
" Tolong....!"
Tak ada respon ataupun sahutan dari luar. Anindya makin terlihat ketakutan.
" Tolong keluarkan aku dari sini!" teriakan lagi sekuat tenaga berharap ada yang mendengar kemudian menolongnya.
Masih tidak ada respon. Suasana masih terasa sepi. Anindya mulai terisak. Seluruh badannya terasa gemetar karena takut.
Dia melihat ke arah jendela. Otaknya berpikir sejenak. Bagaimanapun dia harus bisa kabur dari tempat itu. Pelan pelan dia beringsut mendekati sisi jendela. Susah karena harus membawa serta bangku yang mengikatnya.
Sekujur badannya di basahi peluh yang mengucur. Bukan karena lelah tapi karena rasa panik dan takut memicu adrenalinnya.
Kini ia berhasil mendekat ke arah jendela. Dari balik celah ia melihat keadaan di luar sana. Sepertinya jendela itu menghadap ke taman yang sudah tak terurus. Terlihat dari rumput liar yang sudah tumbuh tinggi melebihi tingginya tanaman bunga disitu.
"Tolong...!" teriaknya lagi sekuat tenaga hingga tenggorokannya terasa sakit.
Anindya mulai putus asa. Badannya sudah terasa lemas dan tenggorokannya sudah semakin serak karena teriak terus menerus dari tadi.
Terdengar bunyi deru mesin mobil berhenti di sekitar situ. Dengan sisa tenaganya dia kembali berteriak minta tolong.
Terdengar bunyi langkah mendekati tempatnya berada. Suara pintu terbuka dan langkah sepatu berderap. Anindya mulai berjaga dan bersiap jikalau mereka itu adalah orang jahat.
Brak...!
Pintu terbuka lebar. Anindya memicingkan matanya yang terkena cahaya silau dari luar. Terlihat dua orang lelaki bertubuh besar menyeringai ke arahnya.
Anindya mengamati wajah keduanya. Dua pria besar dengan kulit gelap dan wajah sangar mendekatinya.
" Cantik,,, baiknya kita apakan perempuan ini bos?" tanyanya kepada laki laki dengan jaket kulit warna hitam yang ia pakai. Tato terlihat menempel di tangan dan lehernya.
" Si bos sudah menyuruh kita untuk membereskan perempuan ini. Tapi sayang kalau kita tidak mencicipinya dulu." laki laki yang di panggil bos oleh anak buahnya itu menyeringai seraya mengusap usap dagunya yang di penuhi janggut tipis.
__ADS_1
Anindya yang mendengar percakapan mereka semakin ketakutan. Bibirnya terlihat pucat.
" Siapa kalian? Siapa yang memyuruh kalian hah?" hardik Anindya mencoba mengumpulkan keberaniannya. Dia tidak ingin mati hari ini.
" Hahaha,,, masih berani menyalak kau kucing kecil." Salah satu pria itu mencengkram dagu Anindya. Menjadikan kepala gadis itu mendongak ke atas.
" Manis juga,,, Bersiaplah hari ini kita akan bersenang-senang sayang." laki laki itu tertawa senang.
"Cih..." Anindya berhasil meludahi muka lelaki itu. Sontak pria itu marah dan menampar pipi Anindya. Darah segar mengalir dari sudut bibir Anindya yang robek. Terasa panas dan perih, pipinya mati rasa untuk sesaat.
" Kurang ajar kau ******,,,sudah mau matipun malah berulah." Laki laki itu mengangkat tangannya kembali hendak meninju. Tapi anak buahnya mencegahnya.
" Tenang bos,,, kendalikan emosi bos. Bos tidak mau kan kita menggarap perempuan ini dengan wajah yang rusak? Bisa hilang nafsu bos." anak buahnya menyeringai.
Si bos menarik tangannya kembali walaupun masih terlihat sangat jengkel. Anindya menarik nafas lega melihat kedua lelaki itu menghentikan aksinya.
Suara ponsel berdering. Itu adalah ponsel Anindya yang sudah berada di tangan para penjahat. Anindya merasa kesempatannya untuk selamat semakin tipis.
" Nih ucapkan selamat tinggal sama kekasihmu biar dia tidak menelpon terus. Pusing aku mendengarnya dari tadi." Si bos menyodorkan ponsel ke arah mulut Anindya.
" Hallo Anindya!" terdengar suara Rio di ujung telpon.
"Rio tolong aku!" Anindya tidak menyia-nyiakan kesempatan, tapi ponselnya langsung dimatikan oleh laki-laki itu.
" Sudah cukup, sekarang mari kita senang senang."
" Bos duluan deh aku tunggu di luar." Anak buahnya berjalan keluar dan menutup pintu ruangan. Tinggalah kini Anindya berdua dengan laki laki itu.
Seringai seperti serigala tersungging di bibir pria itu. Anindya merasa jijik melihatnya.
"Lepaskan aku brengsek!"
Laki laki itu tidak menggubris. Dia malah semakin mendekati tubuh Anindya. Perlahan tangannya menyelusuri pipi mulus Anindya yang di basahi air mata. Anindya berusaha menghindari setiap sentuhan laki laki menjijikan itu. Tapi pergerakannya yang terbatas membuatnya sangat sulit untuk menghindar.
Leher jenjang Anindya jadi sasaran selanjutnya. Anindya cuma bisa menangis sejadi-jadinya dan berdoa supaya ada keajaiban datang padanya saat ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG...