
Rio tak henti memegangi tangan Anindya saat mereka jalan jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Sore itu Rio sengaja mengajak Anindya keluar untuk sekedar merefresh otak mereka yang sedang penat.
" Lihat mas, pakaian bayi itu lucu lucu sekali." Anindya menarik tangan Rio memasuki toko.
Rio menuruti keinginan Anindya. Gadis ini kini sibuk memilih dan melihat lihat baju bayi. Rio senang sekali saat melihat Anindya begitu gembira. Ia mengerti betul saat beberapa waktu yang lalu Anindya sempat depresi karena kejadian buruk yang dialaminya.
" Hmmmm, sayang sekali umur kehamilan ku masih kecil." Anindya menaruh kembali sepotong dress lucu berwarna merah yang sangat imut.
" Memangnya kenapa?" tanya Rio.
" Kata orang jangan dulu beli peralatan bayi, pamali."
" Ah,,, mitos itu sayang." kilah Rio mencubit hidung bangir Anindya.
" Tapi kan jaga jaga mah harus mas." Anindya nyengir. Lagi pula dia belum tahu jenis kelamin anaknya. Masih terlalu dini untuk berbelanja baju bayi sekarang. Biarpun ia hidup di jaman modern tapi perkataan orang tua jaman dulu masih ia pegang.
Anindya dan Rio keluar lagi dari toko. Perut mereka sudah terasa keroncongan dari tadi. Sepertinya memang saatnya untuk makan.
"Makan yang banyak sayang, jangan sampai dede bayi kita kelaparan." Rio menyuapi sepotong daging ke mulut Anindya.
" Iya sayang tenang aja bayi kita tidak akan kelaparan, secara ibunya rakus begini." Anindya terkekeh.
Semenjak hamil berat badannya terus naik. Masa-masa mabok sudah lewat sekarang nafsu makannya sudah membaik. Dalam sehari ia bisa makan sampai lima kali meskipun dalam porsi kecil.
" Aku sangat bahagia telah melewati masa sulit ini bersama-sama sayang." Rio mengelus jemari tangan Anindya.
"Iya mas, aku pun juga begitu." Anindya tersenyum.
"Rasanya ada yang aneh menggelitik di telingaku saat kamu manggil aku mas." Rio meledek.
" Kamu kan suamiku, masa iya aku panggil kamu dengan sebutan nama terus." Anindya mengerucutkan bibirnya.
" Iya sayang,,, aku seneng kok dengernya. Rasanya seperti aku ini benar-benar dianggap sebagai suamimu." Rio tertawa.
" Kamu pikir selama ini aku menganggap kamu apa? " Anindya mengerutkan alisnya.
" Kalau panggil nama kan seperti aku ini hanya seorang teman." Rio tersenyum kecut.
" Maafkan aku ya mas, sulit rasanya mengubah kebiasaan lama." Anindya merasa bersalah.
" Yang penting sekarang biasakan panggil aku mas, bila perlu panggil aku ayang mbeb." Rio terkekeh.
__ADS_1
" Iihh gak mau." Anindya tertawa geli.
" kan biar romantis sayang."
" Romantis apaan, bikin geli mah iya." Anindya tak henti tertawa.
Suasana malam itu begitu hangat dan mesra. Gelak tawa di iringi canda riang menemani makan malam mereka berdua. Sampai sampai mereka tidak menyadari kehadiran seseorang yang menghampiri mereka.
"Mas Rio, Anindya."
Serempak mereka menoleh ke arah sumber suara.
" Gendis" pekik mereka bersamaan.
Anindya melepaskan genggaman tangan Rio. Tapi tidak bisa karena Rio malah memegang tangan Anindya lebih erat lagi.
" Kalian?" Gendis menatap tajam tangan mereka yang saling berpegangan erat diatas meja.
Anindya merasa kikuk berkali kali ia melotot ke arah Rio untuk melepaskan pegangannya. Tapi Rio seakan tidak perduli dengan permintaannya.
" Jadi kalian?" Gendis tampak kecewa. Raut kesal dan sedih jelas sekali terlihat di wajahnya. Dia merasa selama ini sudah menjadi wanita paling bodoh di dunia yang telah di permainkan oleh kebohongan mereka berdua.
Dia tahu kalau Gendis sangat menyukainya. Dia tahu kalau selama ini Gendis sudah sangat berharap padanya. Pasti sekarang hati gadis itu sangat terluka.
Meskipun demikian Gendis memang harus tahu keadaan sebenarnya. Tak ada gunanya ditutupi terus menerus, toh Anindya sudah keluar dari kantor. Sudah tidak ada alasan lagi untuk disembunyikan.
Gendis tersenyum kecut menyadari semua kebodohannya selama ini. Seharusnya dia tahu kejanggalan yang terjadi diantara hubungan Rio dan Anindya.
Seharusnya saat dia mencurigai perlakuan Rio yang terlalu mesra sebagai saudara itu dia mundur, bukan malah menutup mata dan berpura-pura tidak tahu.
Gendis merasa hatinya sedikit perih. Perasaannya pada Rio harus layu sebelum berkembang.
Gendis menatap tajam dua orang di hadapannya. Ia sadar tidak ada gunanya marah marah pada mereka berdua. Toh tidak akan bisa mengubah keadaan. Dia harus mengikhlaskan hubungan mereka berdua.
" Maaf ya kalau selama ini aku sudah mengganggu hubungan kalian." Gendis menunduk sedih.
Anindya merasa sangat bersalah. Dia lah yang paling merasa tidak enak pada Gendis. Dialah yang selama ini memaksa Rio untuk mendekati Gendis agar kebohongan mereka tidak terbongkar. Anindya berdiri dan memeluk gadis di hadapannya itu.
" Kamu tidak bersalah Gendis, justru akulah yang seharusnya minta maaf padamu. Sudah membohongi kamu habis habisan."
Gendis membalas pelukan Anindya. Bagaimanapun Anindya gadis yang baik selama ini. Hubungan pertemanan mereka tidak boleh putus gara gara ini.
__ADS_1
"Sudah tidak apa apa, aku turut bahagia melihat kalian bahagia." Gendis berbesar hati memaafkan kesalahan Rio dan Anindya.
Anindya semakin mengagumi temannya itu. Gendis benar benar gadis yang baik. Tidak seharusnya dia menyakiti perasaannya seperti ini.
" Sekali lagi aku minta maaf, aku ingin kita tetap berteman, jangan memutuskan hubungan pertemanan kita ya Gendis." Pinta Anindya tulus menatap bola mata Gendis yang bening.
" Gadis bodoh, memangnya siapa yang mau memutuskan silaturahmi." Gendis mencubit pipi Anindya.
Mereka tertawa bersama. Anindya merasa lega Gendis mau memaafkannya.
***
" Mas, Gendis itu benar-benar baik ya, padahal kita sudah menyakitinya." Ucap Anindya saat mereka bersiap untuk tidur.
" Iya,,,aku juga salut dengan kebaikan hatinya. Aku jadi makin merasa bersalah." Rio menarik nafas pelan. Tangannya mendekap Anindya yang berbaring di sampingnya.
" Yang penting sekarang semuanya sudah beres, tidak ada lagi yang perlu kita tutup tutupi. Kita mulai semuanya tanpa kebohongan lagi." sambungnya sembari mengecup pucuk kepala Anindya.
Anindya mengangguk. Rasanya ia merasa lega karena sudah terlepas dari semua beban selama ini.
" Ya sudah, kalau begitu mari kita tidur mas." Anindya menyelusup ke bawah selimut.
" Nggak nengokin dede dulu nih?" Rio tersenyum nakal.
" Dedenya udah bobo, nanti kalau kamu tengokin dia bangun lagi." Anindya menjawab sekenanya.
" Kan bobonya bisa di lanjut nanti, bangunin dede dulu ya sayang." Rio mengecup pipi Anindya.
" Dasar Papa yang jahat." Anindya mendelik.
" Please sayang ya ya ya...." Rio memohon.
"Iissshh." Anindya mengerling manja.
" Boleh ya." Rio tersenyum nakal.
Anindya mengangguk pasrah. Rio memang nakal, tapi kenakalannya itu yang selalu membuat dia rindu.
**BERSAMBUNG...
Jangan lupa like, komen dan votenya ya sayangku, bantu author agar performa novel ini terus naik 😘**
__ADS_1