PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Wanita misterius


__ADS_3

Udara puncak semakin dingin saat malam hari. Tapi Rio dan Anindya masih betah untuk terus berduaan di atas balkon. Sejak tadi sore dua insan yang tengah melepas rindu itu seakan tak ingin kehabisan bahan cerita.


Sesekali mereka tertawa dan terkadang mereka larut dalam kesedihan saat bercerita bagaimana mereka menahan rindu dan kesepian selama berpisah.


" Aku seperti orang gila saat mencarimu. Setiap orang aku tanyai satu persatu sampai orang strespun aku tanyai." Rio terbahak mengingat kejadian waktu saat ia hampir dipukuli orang gila.


" Apa matamu buta tidak bisa membedakan mana orang waras dan mana orang gila? " Anindya menggelengkan kepalanya heran dengan kekonyolan Rio.


" Orang gila baru kali sayang, dia masih berpakaian rapih dan bersih hahaha..." Rio tertawa geli mengingatnya. Anindyapun ikut terkekeh.


" By the way malam ini kita tidur di mana?" Rio menatap nakal ke arah Anindya.


Anindya mengerling manja sambil tersipu malu. Tak dipungkiri dia juga rindu saat saat tidur bersama Rio.


" Rasanya tidak enak kalau aku harus tidur di kamar yang di bayari Vino." Rio mengeluh.


Anindya tersenyum.


" Disini saja lah..." Anindya bermaksud menggoda Rio.


" Sayaaangg,,, tolong kamu mrngerti, aku tidak ingin kehilangan harga diriku untuk kedua kalinya." Rio memohon.


Anindya mengernyitkan alisnya tak mengerti. Dia menatap lurus wajah Rio meminta penjelasan.


Rio tampak gugup menyadari dirinya yang keceplosan. Diapun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


" Maksudnya apa Rio, kehilangan harga diri apa?"


" eee...bukan itu,,,ee,,, lupakan saja " Rio memalingkan mukanya. Tapi hal itu malah menambah rasa penasaran Anindya. Dengan tangannya ia menarik paksa wajah Rio untuk menghadapnya kembali.


Rio terpaksa memandang bola mata Anindya yang menuntut penjelasan. Dia menyesal karena mulutnya yang tak bisa mengontrol ucapannya sendiri.


" Untuk bisa bertemu denganmu aku sampai berlutut di hadapan Vino." Rio tertunduk menceritakan perjuangannya.


Anindya terhenyak. Besok dia harus berbicara dengan Vino. Bisa bisanya dia berbuat seperti itu.


" Jangan salahkan Vino, bagaimana pun dia sudah berjasa mempertemukan kita dan menjagamu dengan baik." seakan membaca pikiran Anindya, Rio buru buru mencegah keinginan Anindya.


"Cih." Anindya tersenyum getir. Hatinya terasa perih. Tapi benar apa yang dikatakan Rio. Bagaimana pun Vino sudah banyak berbuat baik padanya. Sekalipun dia tidak pernah menyakitinya.


" Jadi mau ya malam ini tidur di kamarku." Rio meraih tangan Anindya dan menciumnya.

__ADS_1


Lagi-lagi Anindya dibuat tersipu malu. Dia menatap Rio penuh kasih. Rasanya tidak tega untuk menolak keinginannya.


" Baiklah."


Rio langsung berbinar. Senyum sumringah langsung mengembang di bibirnya.


" Kalau begitu ayo kita pergi."


Rio langsung membopong tubuh Anindya. Gadis itu menjerit kecil mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Diapun melingkarkan tangannya dileher Rio.


" Turunkan aku Rio, aku bisa jalan sendiri." rengek Anindya sesaat setelah mereka keluar dari kamar. Beberapa pasang mata yang kebetulan lewat depan kamar mereka terlihat malu.


" Ayo Rio turunkan aku." Anindya pun merasa risih jadinya.


" Sudah sampai tuan putri. Ini kamar hamba, silakan masuk tuan putri." Rio menurunkan tubuh Anindya tepat di depan kamarnya.


Anindya melongo ketika sadar kamar Rio berada tepat di samping kamarnya. Anindya tertawa menyadari kalau selama ini dia berada dekat dengan Rio. Jangan jangan laki laki yang ia lihat dekat pohon beringin pun itu beneran Rio. Dunia memang tak selebar daun kelor.


Anindya memasuki kamar suaminya diikuti Rio dari belakang yang langsung menutup pintu.


" Jangan macam-macam ya sayang,,,ingat aku lagi hamil anakmu." Anindya mewanti-wanti suaminya saat mereka hendak tidur.


" Aku tidak janji." Rio tersenyum nakal melihat Anindya langsung memelototinya.


*****


Sementara itu di kamar lain. Vino tengah melamun sendirian. Ada rasa nyeri dalam hatinya. Tapi dia bertekad dalam hati untuk segera memupus rasa cintanya untuk Anindya.


Vino menghela nafas berat. Cinta bertepuk sebelah tangan memang berat untuk di jalani. Walaupun di paksa tetap akan terasa sakit pada akhirnya.


Suasana di bawah masih terlihat ramai. Vino memperhatikan masih banyak orang yang duduk duduk santai seakan enggan melewati malam begitu saja.


Tiba tiba pandangannya terhenti pada sosok perempuan yang tengah duduk di sebuah kursi tak jauh dari kerumunan yang lain. Vino merasa tidak asing dengan sosok perempuan itu. Ia mencoba mengingat siapa perempuan itu.


Perempuan itu hanya duduk sendirian. Tangannya sibuk memainkan ponselnya. Sesekali dia mengedarkan pandangannya seakan tengah mencari sesuatu.


Vino terus mengawasi sembari mencoba mengingat ingat siapa sosok perempuan itu. Topi yang di kenakan perempuan itu menutupi sebagian wajahnya. Tapi sesekali ketika ia mendongak Vino bisa dengan jelas melihat wajahnya.


Pandangan mereka akhirnya bertemu. Dan sontak perempuan itu berpaling. Vino baru sadar kalau ternyata wanita itu yang menjebaknya dengan Anindya.


Shit! Kenapa gue bara ingat...?

__ADS_1


Vino bergegas turun ke bawah. Kali ini perempuan itu harus bisa dia tangkap. Vino terus berlari menuju tempat perencanaan tadi duduk. Tapi ternyata bangku itu telah kosong melompong.


"Sialan,,,kemana perempuan itu?" Vino bergumam sendiri. Nafasnya tersengal karena berlari cukup cepat.


Tadinya ada rencana lain untuk perempuan itu. Tapi berhubung cintanya pada Anindya telah kandas rencana itupun akhirnya berubah.


Vino mengamati sekelilingnya. Tapi nihil perempuan itu tak nampak batang hidungnya sekalipun. Laki-laki itu mengepalkan tinjunya. Ia benar-benar kesal karena tidak dapat menangkap perempuannya itu.


***


Sinar mentari pagi masih nampak malu malu untuk memperlihatkan wujudnya. Kabut tebal masih menutupinya. Tetesan embun masih betah bergelayut diantara dedaunan.


Hari baru di mulai ketika Anindya sibuk membangunkan Rio.


" Bangun Rio,,,katanya mau ngajakin aku ke kebun teh?" Anindya menarik tangan Rio yang masih terlelap.


" Hmmm... masih pagi tahu." Rio masih belum bisa membuka matanya.


"Ayolah bangun Rio."


Anindya cemberut ketika Rio tak kunjung bangun. "Ya sudah aku pergi sendiri saja." Anindya berdiri dan berpura pura bersiap untuk pergi.


Dan strategi ini berhasil. Rio langsung terbangun dan mencegah Anindya pergi seorang diri.


" Tunggu sebentar aku cuci muka dulu." dengan malas dia berjalan ke kamar mandi.


Anindya tersenyum penuh kemenangan. Ternyata Rio gampang di bodohi. Anindya menahan tawanya dengan menutup mulut.


Selang 5 menit Rio keluar dari kamar mandi. la pun menutup tubuhnya dengan jaket tebal. Udara dingin ini membuat darahnya terasa beku dan rahangnya mengeras. Beda sekali dengan Anindya yang tampak biasa biasa saja. Tidak terlihat kedinginan seperti Rio.


Mereka berlari kecil di tengah perkebunan teh Belum ada pemetik teh yang bekerja disekitar situ. Suasana benar benar masih sepi. Anindya sendiri merasa kalau jalan jalannya kepagian.


Beberapa foto selfie sudah ia abadikan. Tapi Rio tertinggal jauh di belakang. Kenapa laki laki itu sangat lamban, gerutunya. Ia pun memutar balik untuk untuk menemui Rio. Dari kejauhan tampak Rio berjalan lesu karena sejujurnya dia masih sangat mengantuk.


Anindya melambai lambai kan tangannya dengan maksud menyuruh Rio berjalan lebih cepat. Rio hanya melihat sekilas kearah Anindya. Selajutnya dia hanya berjalan santai.


Anindya jengkel karena Rio tak menggubrisnya. Ia pun meneruskan langkahnya menyusuri jalan kecil ditengah tengah kebun teh.


Tiba tiba sebuah benda keras terasa menghantam pundaknya.


Duk...!

__ADS_1


Anindya tersungkur tak sadarkan diri.


BERSAMBUNG...;


__ADS_2