
" Mas,,, kamu gak cape nurutin keinginan aku?" Tanya Anindya sambil berjalan menyusuri jalanan Desa yang asri. Udara kota Bandung memang sejuk, tidak terlalu panas seperti Bekasi.
Hari ini Anindya seolah tak berhenti untuk menikmati kuliner kota ini. Bandung memang terkenal dengan kulinernya yang beraneka macam. Sepertinya Anindya tak ada bosannya mencicipi semua kuliner disini.
"Asal kamu makan dan kamu seneng,aku sih akan selalu senang hati mengikuti semua permintaan kamu." Rio meraih jemari tangan Anindya.
" Dede bayi yang minta mas." Anindya tersenyum manja.
" Ah modus ibunya itu mah." Rio mencebikan bibirnya.
" Hihihi,,, tau aja sih mas." Anindya tertawa.
" Mas aku bahagia sekali sekarang, sebentar lagi keluarga kita akan sempurna." sambung Anindya.
Rio mempererat pegangan tangannya dan mengecup tangan Anindya. Wanita ini sangat ia cintai. Wanita yang menjadi penyembuh luka hatinya dulu.
"Terima kasih sayang sudah memberiku kado terindah ini."
" Berjanjilah mas untuk tidak meninggalkan aku sama bayi kita."
" Iya aku janji, aku akan jadi suami dan ayah yang baik untuk anak kita nanti."
Anindya tersenyum dan bergelayut manja di lengan suaminya.
" Waaahh neng Anin kapan datang?" seorang perempuan paruh baya menyapa Anindya.
" Kemarin siang Bu." Anindya menjawab dengan tersenyum ramah.
" Sudah hamil ternyata. Wah jago juga ya Nak Rio bikinnya." Ibu itu berseloroh membuat pipi Rio merona merah.
" Sok atuh lanjutin jalan jalan paginya. Jalan pagi baik untuk ibu hamil neng Anin." ibu itu tersenyum dan mempersilahkan Rio dan Anindya melanjutkan perjalanannya.
" Iya bu,,, mari." Anindya pamit.
" Sayang, besok kita ke rumah ibu ya." pinta Rio.
" Oh iya mas, aku sampai lupa saking keasyikannya disini. Besok kita ke rumah ibu dan menginap beberapa hari di sana."
Rio tersenyum dan mengangguk.
"Bu,,, " Anindya mencium tangan ibu mertuanya. Perempuan yang hidup sendirian itu tampak sangat bahagia dengan kedatangan anak dan menantunya.
" Ya ampun nak kenapa tidak bilang kalau mau pulang ke Bandung?" Bu Hera memeluk Rio dengan erat.
__ADS_1
"Sengaja biar jadi kejutan untuk Ibu." Rio terkekeh.
Rumah keluarga Rio terbilang besar. Rumah sebesar itu hanya di huni oleh Bu Hera sendiri. Paling kalau siang ada Bi Wati yang suka membantu menyiapkan keperluan Bu Hera. Rio sengaja menyuruh Bi Wati untuk selalu menemani ibunya agar tidak kesepian di usia senjanya yang harus ia lewati sendirian karena ayah Rio sudah meninggal saat Rio masih kecil.
" Nak sudah berapa bulan usia kandunganmu?" Bu Hera mengelus perut Anindya.
" Memasuki tujuh bulan Bu"
"Alhamdulillah sebentar lagi ibu akan memiliki cucu." Bu Hera sumringah.
Anindya tersipu malu.
Bi Wati membawa 3 gelas minuman ke ruang tamu. Sesekali pandangannya tertuju pada Anindya, dia memandang Anindya takjub.
" Kenapa Bi?" tanya Rio yang menyadari Bi Wati mencuri pandang kepada istrinya.
" Ah,,, enggak Den, bibi hanya kagum dengan kecantikan non Anindya." Bi Wati tersipu malu.
Anindya tersenyum.
" Kalau tidak cantik mana saya mau nikahin dia Bi." Rio tersenyum bangga yang di balas cubitan kecil di pinggangnya oleh Anindya.
Semua orang tergelak.
" Den Rio juga tambah ganteng sekarang, makin berisi, cocok kali ya Den susunya." Bi Wati kembali menggoda Rio.
" Cocok banget Bi, Lihat saja badan saya makin melar kaya gini."
Anindya kembali mencubit pinggang Rio yang meringis kesakitan. Dia memberi isyarat untuk mengehentikan candaannya dengan membelalakkan matanya pada Rio.
" Aduh,,, aduh,,,bibi jadi inget pas waktu masih pengantin baru, persis seperti Non Anindya sekarang, malu malu tapi mau." Bi Wati tertawa.
Pipi Anindya merona merah, membuat Rio makin gemas melihatnya.
"Sudah,sudah jangan menggoda Anindya terus kasihan." Bu Hera menengahi.
" Maaf ya Non, Bibi memang suka bercanda, dan sudah menganggap keluarga Den Rio seperti keluarga sendiri." Bi Wati tersenyum sungkan.
" Iya gak apa apa." ucap Anindya.
" Lihat pipimu, sudah seperti udang rebus sayang" Bisik Rio di telinga Anindya.
Anindya meraba pipinya yang terasa panas. Dia yang masih belum terbiasa dengan suasana rumah Rio, merasa masih canggung dan malu.
__ADS_1
" Bi Wati yang menemani ibu selama ini. Yang bantu bantu di rumah, yang menyiapkan semua keperluan ibu Nak." jelas Bu Hera.
"Oohhh..." Anindya mengangguk.
" Kalau tidak ada Bi Wati mungkin ibu akan kerepotan mengurus rumah sebesar ini sendirian, sedangkan ibu sudah tua, encok dan rematik sering kumat." Bu Hera terkekeh.
Anindya jadi merasa bersalah karena sudah membiarkan ibu mertuanya hidup seorang diri.
" Mending ibu ikut kita ke kota ya, Biar Anin bisa merawat ibu." Bujuk Anindya lembut.
" Ibu tidak mau Nak, ibu tidak betah, di kota panas, dan tidak ada kegiatan, membosankan." sergah Bu Hera.
" Kalau ibu mau sudah dari dulu kali ikut aku, ibu lebih betah disini katanya. Biarlah ibu menikmati masa tuanya dengan damai, kita tengok saja sesering mungkin." jelas Rio. Ia memeluk ibunya penuh kasih sayang.
" Tapi kamu baru nengokin ibu sekarang." Bu Hera menyebikan bibirnya.
" Maafkan Rio Bu, Rio sibuk sekali dan baru baru ini Rio agak sedikit senggang." Rio memberi alasan. Ia tidak mau menceritakan kejadian pahit yang dia alami bersama Anindya.
" Tapi ibu senang kok ketika kalian pulang membawa cucu dalam kandungan Anindya. Aahh ibu sudah tidak sabar untuk segera memomong cucu." Bu Hera terlihat sumringah. Dari dulu ia sudah sangat berharap Rio segera nikah dan mempunyai anak. Tapi sayang impian itu kandas saat wanita yang di pacari Rio pergi.
" Bu, Den Rio, Non Anin makanan sudah siap." Bi Wati muncul dari dapur.
" Alhamdulillah kebetulan sudah lapar sangat nih Bi, ayo sayang kita makan dulu." Rio menuntun Anindya untuk berdiri. Kandungannya yang makin membesar membuatnya kesulitan untuk bergerak.
" Aku persis sebuah robot ya mas, mau apa apa juga kaya kaku." Anindya mengeluh.
" Hus jangan bilang begitu, nikmati dan syukuri, karena tidak semua wanita bisa menerima dan merasakan anugerah ini."
"Astaghfirullah, iya mas maaf." Anindya mengangguk.
Rio mengacak lembut rambut Anindya. Ia menggandeng istrinya menuju ruang makan.
" Mas Foto siapa itu?" tanya Anindya menunjuk sebuah foto perempuan cantik di samping televisi saat mereka melewati ruang keluarga.
Rio terdiam dan melirik ke arah Bu Hera yang nampak terkejut.
" Aah,,, bukan foto siapa siapa kok." Rio tampak gugup dan segera membalik pas photo tersebut.
" Ayo kita makan, mas sudah lapar nih." Rio tersenyum dan membawa Anindya ke meja makan.
Anindya hanya menurut walaupun dalam hatinya masih bertanya-tanya tentang siapa wanita dalam foto tersebut.
**BERSAMBUNG.
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti novel ini yang mungkin bagi sebagian orang alurnya terlalu lambat. Author mohon maaf bila banyak kekurangan dalam novel ini. Author akan terus belajar dan belajar supaya lebih baik lagi nantinya.
Jangan lupa untuk selalu like ataupun komen ataupun Vote jika kalian berkenan. Like,komrn dan vote dari kalian akan sangat membantu agar novel ini makin berkembang**.