
" Mas Rio sudah sembuh?" tanya Gendis saat melihat Rio berjalan ke ruangannya.
"Sudah mendingan Dis. " Rio tersenyum.
" Syukurlah kalau begitu,eemmmmhh hari ini makan siang bareng yuk. " Gendis terlihat ragu ragu.
" Makan siang bertiga nggak apa apa? " Rio balik tanya.
" Sama Anindya? " tanya Gendis sedikit kecewa.
" lya. "
" Ya sudah nggak apa apa. " Gendis tertunduk lesu. Sebenarnya dia berharap bisa makan siang berdua saja dengan Rio. Ah, mengapa gadis itu selalu menempel terus sama Rio.
" Ya sudah sampai jumpa nanti siang. " Rio meneruskan langkahnya menuju ruangannya.
" Nin, kamu mau makan siang lagi sama Mas Rio? " tanya Gendis saat mereka mulai bekerja.
" Heemm. " Anindya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari komputernya.
" Nggak pengen makan siang sama yang lain gitu? " tanya Gendis lagi.
Anindya menoleh ke arah Gendis di sampingnya. Sepertinya gadis itu tidak ingin melihat dia dekat dekat dengan Rio.
" Kenapa memangnya? " Anindya pura-pura tidak mengerti maksud Gendis.
" Ah,,, tidak lupakan saja. " Gendis mengibaskan tangannya. Dia keburu menyadari kalau perkataannya bisa saja menyinggung perasaan Anindya.
Anindya kembali mengerjakan tugasnya yang menumpuk. Meskipun pertanyaan Gendis barusan masih terngiang di telinganya tapi ia berusaha mengabaikannya.
*****
" Makan yang banyak mas Rio. " Gendis menatap manja ke arah Rio sambil tersenyum.
Anindya yang melihat sikap Gendis itu merasa sedikit risih. Ia melanjutkan makannya tanpa ingin berbasa basi dengan dua orang di depannya.
Rio melirik ke arah Anindya yang sedang merengut. Sejujurnya diapun merasa canggung dengan kehadiran Gendis di antara mereka. Tapi dia juga merasa tidak enak kalau menolak ajakan gadis itu.
__ADS_1
" Kamu juga makan yang banyak Anindya. " Rio mengingatkan Anindya karena gadis itu cuma mengaduk aduk makanannya dari tadi. Anindya cuma tersenyum tipis.
Gendis menatap wajah Rio lalu berganti dengan memandang Anindya yang sedang tertunduk. Seperti ada yang aneh diantara keduanya. Entah kenapa Gendis merasa hubungan mereka bukan seperti saudara. Melainkan seperti sepasang kekasih. Ah, mungkin hanya perasaan ku saja. Gendis segera menepis pikiran buruknya.
" Apa benar kalian sepupuan? " tanya Gendis tiba tiba tidak kuat menahan rasa penasarannya.
" Uhuk... Uhuk...,! " Anindya tersedak mendengar pertanyaan Gendis. Dengan sigap Rio memberi Anindya segelas air putih. Tangannya menepuk nepuk punggung gadis itu.
" Kebiasaan kamu itu, makannya pelan pelan dong. " Rio terlihat sedikit khawatir.
Gendis makin yakin dengan prasangkanya. Melihat perhatian yang di berikan Rio untuk Anindya rasanya melebihi perhatian kepada seorang saudara.
Anindya merasa terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba saja dilontarkan oleh Gendis. Mungkinkah gadis itu sudah mencurigai mereka berdua? Gawat.
" Memangnya kami tidak terlihat seperti saudara? " jawab Anindya.
" Jujur saja kalian lebih terlihat mesra sebagai pasangan kekasih ketimbang sepasang saudara. " jawab Gendis menantang.
Rio terdiam, sementara Anindya terlihat gusar.
" Itu cuma perasaanmu saja Dis. " Anindya menegaskan walaupun hatinya terasa cemas.
Anindya terdiam. Bingung dengan situasi yang ada sekarang. Sesekali dia melirik ke arah Rio yang juga terlihat berpikir keras. Mana mungkin mereka jujur kepada Gendis tentang status mereka sebenarnya. Bisa saja gadis itu melapor ke bagian HRD. Bukan hanya dia yang di keluarkan tapi Rio pun pasti akan terkena masalah.
Anindya menyesali kenapa ia dulu meminta tolong Rio untuk mencarikannya pekerjaan. Kalau tahu akan seperti ini jadinya lebih baik dia bersabar untuk menunggu panggilan dari perusahaannya lain yang sudah ia kirimi surat lamaran.
*****
" Bagaimana ini Rio? " Anindya berjalan mondar mandir di ruang tengah. Sementara Rio yang tengah asik nonton Televisi tampak tidak menghiraukan Anindya yang sedang gusar.
" Rio... ditanya malah kayak gitu. " Anindya marah. Matanya melotot ke arah Rio yang masih tak acuh.
" Ya sudah akui saja gampang kan. " jawab Rio sekenanya.
" Haaahhh.... bunuh diri itu namanya. Aku pasti di keluarkan dari perusahaan,sedangkan kamu... " Anindya merengut tak setuju.
" Ya sudah kamu di rumah saja, lagian tugas mencari nafkah itu tugasnya suami. " jawab Rio mulai memasang wajah serius.
__ADS_1
" Terus kamu tidak akan kena sangsi? " tanya Anindya khawatir.
" Pasti kena sih, tapi perusahaan tidak akan mengeluarkan pegawai terbaiknya. " jawab Rio percaya diri.
Anindya terdiam. Sampai saat ini belum ada satupun panggilan pekerjaan yang ia terima. Padahal ia ingin sekali bekerja dan punya penghasilan sendiri. Ia ingin memberi orang tuanya uang hasil dari kerja kerasnya sendiri.
" Tidak Rio,,, aku masih ingin bekerja, please! " pinta Anindya memelas.
" Lambat laun juga pasti akan ketahuan. " ujar Rio.
" Tidak akan kalau kamu mau ikut saranku." Anindya berbinar.
" Apa? " tanya Rio sedikit penasaran.
Anindya berbisik di telinga Rio. Tapi beberapa saat kemudian mata Rio terbelalak mendengar saran dari Anindya.
" Gila, aku nggak mau ah. " Rio menggeleng tegas.
" Ayo lah Rio aku mohon. " Anindya merapatkan kedua tangannya di depan dada. Gadis itu benar benar memohon dengan sangat agar Rio setuju dengan sarannya.
" Tapi itu tidak mungkin, saranmu begitu gila akan ada banyak hati yang tersakiti, aku tidak mau. " Rio menolak dengan tegas.
Anindya tertunduk. Ia akui sarannya memang sedikit gila, tapi mungkin ini satu satunya cara agar ia bisa tetap bertahan bekerja di perusahaan ini tanpa ada yang mencurigai hubungannya dengan Rio.
" Tapi aku masih ingin bekerja, aku ingin membantu meringankan beban hidup orang tuaku Rio. " Anindya mulai terisak. Rio tidak tega melihat kesedihan di mata Anindya.
" Sudahlah jangan menangis. " Rio mengusap air mata yang meleleh di kedua pipi Anindya.
" Kalau kamu mau aku bisa mengirimi orang tua mu uang dari gajiku, tidak usah kamu susah susah bekerja, lnsyaallah aku mampu. " Rio berkata lembut sambil menatap dua bola mata Anindya.
Anindya terharu dengan kebaikan Rio. Dia tahu Rio memang sangat menyayangi orang tuanya. Jelas bukan masalah bagi Rio jika harus membantu keuangan orang tuanya. Tapi bukan hanya itu masalahnya. Anindya ingin punya penghasilan sendiri tidak mau bergantung pada Rio atau pada siapa pun. Setidaknya untuk saat ini dia ingin benar benar mandiri dan merasakan dunia kerja seperti yang ia impikan semenjak kuliah.
" Terima kasih Rio, tapi aku masih ingin tetap bisa bekerja. " Anindya memohon sekali lagi.
Rio menarik nafasnya dalam dalam. Kenapa Anindya begitu keras kepala. Haruskah ia menyetujui ide gila dari Anindya? Ia takut ini malah akan menyakiti hati mereka masing-masing. Tidak kah Anindya berpikir lebih jauh lagi? Ah semua ini membuat Rio benar benar stres. Ia mengacak rambutnya frustasi.
***BERSAMBUNG* ...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan ratenya.
Mudah2an Author bisa update lebih banyak lagi**.