PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Debaran Cinta


__ADS_3

Cindy menatap Vino dengan tajam. Ini tidak bisa di biarkan. Dia harus segera pergi dari kamar ini...


Cindy beranjak menuju pintu. Tapi tangan kirinya keburu di cekal Vino hingga ia kembali jatuh terduduk di atas sofa.


" Kamu mau ngapain Vin?" tanya Cindy gelagapan. Kedua bola matanya memandang lurus ke arah Vino dengan tatapan tidak mengerti. Tapi ia merasa sebuah perasaan aneh muncul di hatinya. Perasaan yang sudah lama mati terkubur dalam hidupnya.


Vino tidak menjawab, wajahnya terus mendekati bibir Cindy yang merekah. Gadis itu beringsut mundur. Tapi Vino terus mengejarnya hingga tubuh Cindy hampir telentang diatas sofa.


Kedua pandangan mereka beradu. Cindy bisa melihat netra coklat mata Vino yang terlihat indah. Vino memang menawan. Selama ini dia tidak pernah lagi menyukai laki-laki tapi entah kenapa bersama Vino jantungnya sering berdebar tidak karuan.


Perlahan Vino mendekatkan bibirnya untuk menyusuri leher jenjang Cindy yang terbuka. Gadis itupun menggelinjang. Cindy merasa aneh karena tubuhnya tidak menolak bahkan ia menikmati setiap sentuhan Vino. Nafas mereka kian memburu.


Merasa diterima Vino melanjutkan aksinya merambat naik menuju bibir merekah Cindy yang sedikit terbuka. Lagi lagi Cindy merasa aneh dengan dirinya sendiri. Ia membiarkan Vino menciumnya dan lebih gilanya lagi kini bahkan ia membalas ciuman Vino. Ada apa dengan dirinya?


Tidak,,, ini tidak benar. Semuanya benar-benar aneh. Cindy mendorong tubuh Vino dengan keras.


Vino terdiam. Dia kembali duduk dengan posisi normal. Begitupun Cindy yang merasa salah tingkah mencoba menenangkan debaran hatinya yang membuat kedua lututnya terasa lemas.


Vino menarik nafas berat. Kini ia benar-benar yakin untuk mengakhiri semua ini. Cindy sendiri masih tertegun dan tidak percaya dengan reaksi tubuhnya sendiri.


" Cin, sepertinya kita harus ngomong dengan orang tua kita masing-masing." desah Vino.


Cindy tertunduk. Bukan memikirkan kata-kata Vino melainkan memikirkan keadaan dirinya yang menunjukan gejala aneh.


Cindy mencoba menyentuh kembali tangan Vino. Ada getaran aneh menjalar ke hatinya. Sebuah sensasi aneh yang membuat jantungnya terasa berdebar debar. Sama persis ketika dia berada dekat dengan kekasihnya Dewi.


Cindy memegangi kepalanya sendiri. Rasanya ia tidak percaya bisa merasakan perasaan nyaman ini bersama Vino.


Vino tertegun melihat kelakuan aneh Cindy. Sepertinya gadis itu tidak menanggapi pembicaraannya dan malah asik dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Cin, kamu denger aku tidak?" tanya Vino setengah jengkel.


"Ah iya Vin, kamu ngomong apa barusan." Cindy dengan perasaannya yang tak karuan menatap Vino dengan tersenyum.


Vino mendesis kesal. Benar saja gadis itu bahkan tidak memperhatikannya sama sekali dari tadi.


" Kita putus saja, hubungan ini tidak akan ada masa depannya." tegas Vino.


Cindy terdiam.


" Aku ingin punya istri, punya keluarga yang normal seperti kebanyakan orang." Vino memandang Cindy dengan sedikit ragu,takut kalau kata katanya menyakiti hati gadis itu.


Cindy masih terdiam dengan ekspresi wajah yang sulit di tebak.


" Jadi kamu sudah berubah pikiran?" tanya Cindy menatap mata Vino.


Pria itu terdiam. Sejak bertemu Anindya ia merasa dunianya kembali normal. Yang tadinya malas berkomitmen kini ia justru ingin membangun sebuah hubungan yang mengikat satu sama lain. Ia menginginkan sebuah keluarga yang hangat. Anak anak yang manis,dan tentu saja Cindy tidak akan bisa melakukan semua itu.


" Aku tidak berubah, ini aku yang dulu. Aku sudah kembali pada duniaku yang dulu. Dunia yang sudah lama aku tinggalkan karena sebuah trauma, dan kini aku sadar aku harus kembali jadi aku yang dulu." Vino menarik nafas pelan.


Cindy tercenung dengan kata kata Vino. Mungkinkah ia pun demikian? Entahlah ia sendiri masih bingung dengan perasaannya.


" Tapi bagaimana caranya kita menjelaskan kepada orang tua kita Vin, terus terang aku takut Vin. " Cindy mulai berkaca-kaca.


Dia tidak bisa membayangkan reaksi orang tuanya yang melihat dia gagal nikah untuk kesekian kalinya. Bisa jadi ayahnya kembali anfal dan masuk rumah sakit berbulan bulan seperti dulu.


Ya Tuhan, kalaupun sekarang ia kembali melakukan hal yang sama,ia ingin semuanya baik-baik saja, tidak ada yang terluka, tidak ada yang tersakiti. Cindy menunduk sedih.


"Tenang saja kita akan melakukan ini pelan pelan. Hingga semua orang bisa menerima dengan ikhlas baru kita akan benar-benar mengakhiri semuanya." Vino meraih tubuh Cindy ke dalam pelukannya. Rambut hitam panjang milik Cindy terurai menutupi sebagian bahunya.

__ADS_1


Cindy merasakan kehangatan dalam pelukan Vino. Hingga tanpa sadar tangannya melingkar di pinggang Vino. Entahlah Vino melihat dirinya sebagai apa yang jelas untuk saat ini ia benar benar menikmati suasana ini.


" Mama ingin bertemu dengan kamu Cin, kalau bisa kamu main ke rumah ya." pinta Vino sambil terus mendekap Cindy. Gadis itu pun hanya mengangguk.


" Besok deh aku main ke rumah, kangen juga aku sama ibumu." Cindy tersenyum.


" Jadi sekarang kita mau ngapain nih?" Cindy bertanya dengan maksud menggoda.


" Lanjut kamu mau nggak?" Vino tak kalah sengit menggoda Cindy.


" Ayo,,,siapa takut." Cindy dengan tatapan menantang.


"Waaahh minta di sikat nih anak" Vino menyeringai.


Cindy nyengir. Dia yakin Vino tidak akan berani. Selama dia mengenal Vino dia adalah laki laki paling baik yang dia temui. Selalu menghargai perempuan. Termasuk pada dia Vino tidak mempermasalahkan prinsipnya. Dan itu mungkin yang kini justru dia merasa nyaman dengan Vino.


" Aku antar kamu pulang aja." Vino memakai jaketnya kembali.


" Serius kamu mau langsung pulang?" tanya Cindy tidak percaya. Vino menyewa sebuah kamar Vip cuma di pakai beberapa menit saja. Oh,,, yang benar saja, Cindy memutar bola matanya.


Kini dia sadar kalau Vino cuma ingin mengetesnya tadi, kemudian menemukan alasan untuk mengakhirinya hubungan ini. Pandai sekali laki laki ini membuatnya tak berkutik. Cindy tersenyum kecut mengikuti langkah Vino keluar dari kamar hotel.


Terlihat punggung Vino begitu kekar. Cindy terus memperhatikan Vino dari belakang. Rasanya malam ini laki laki itu begitu mempesona dimatanya. Bahkan dengan hanya melihat dari belakang saja sudah membuatnya berdebar-debar.


Ah ada apa denganmu Cindy.


Gadis itu tersipu malu dengan perasaannya sendiri. Ia seperti hilang kendali atas hatinya sendiri.


Walaupun malam ini judulnya jalan jalan bersama Vino yang gak jelas, tapi Cindy sangat menikmatinya dan meninggalkan kesan yang mendalam di hatinya. Dan hal ini akan sangat berguna untuknya di kemudian hari.

__ADS_1


**BERSAMBUNG...


Alhamdulillah novel ini akhirnya dapat kontrak dari mangatoon. Untuk selanjutnya readers akan di suguhi dua kisah cinta yang menarik,lucu dan menggemaskan dari tokoh tokoh pengantin dadakan. Ikuti terus kisahnya ya readers😘 Oh iya sekalian promo baca juga novelku yang lain CINTA 36 HARI yang gak kalah seru dari ini. Terimakasih semua. Terimakasih magatoon🙏🙏**


__ADS_2