
Anindya menatap Vino dengan wajah serius. Sementara Vino sendiri tampak gelisah dan ragu ragu dengan keputusan yang akan dia ambil. Berurang kali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Katakan Vino ada apa?" Anindya tak sanggup menyimpan rasa penasarannya.
Mulut Vino terkunci ia hanya mengambil ponselnya dan memberikannya pada Anindya.
Anindya menerima ponsel Vino dengan sedikit tegang. Gejolak dalam hatinya terasa semakin tidak karuan.
Mata Anindya menangkap sebuah foto Rio dengan seorang gadis. Terlihat sangat menikmati makan malamnya. Tak ada raut kesedihan atau keterpaksaan dari wajahnya. Tangan Anindya bergetar. Hatinya dikuasai rasa cemburu yang hebat.
Di beberapa foto berikutnya terlihat Rio sedang menggandeng mesra tangan Gendis yang juga bergelayut manja padanya. Senyum lebar tampak di wajah keduanya.
Mata Anindya sudah berkaca-kaca. Terjawab sudah rasa penasarannya tentang perubahan sikap Rio selama ini. Diamnya Rio mungkin karena dia sudah memilih Gendis untuk menggantikannya dalam relung hatinya.
Anindya mengusap bulir bening dari sudut matanya. Rasa sakit yang menjalar di hatinya kian terasa mengingat jabang bayi yang kini tengah ia kandung.
Ia juga menyadari kalau semua ini berasal dari kesalahannya sendiri yang telah membiarkan dirinya di jebak bersama Vino. Hingga semua ini terjadi. Ia tdak bisa menyalahkan Rio begitu saja atas semua penghianatannya kini.
Anindya menangis sesenggukan sambil membelakangi Vino. Tak sanggup lagi menahan rasa lara dalam hatinya.
Vino semakin merasa bersalah. Dia merutuki dirinya yang telah membiarkan Anindya tahu tentang kelakuan Rio. Harusnya dia menutupi semuanya agar kondisi Anindya tidak semakin terguncang.
Vino mengusap mukanya kasar. Dia naik ke atas ranjang Anindya dan memeluknya dari belakang. Berusaha memberikan kekuatan pada hatinya yang sedang rapuh. Terasa sesekali pundak Anindya berguncang karena tangis. Vino mengelus pundak itu dengan lembut.
__ADS_1
" Maafkan aku Nin, harusnya aku tidak memberi tahumu tentang ini semua." bisik Vino di telinga Anindya.
Anindya hanya memejamkan matanya. Berusaha menenangkan dirinya kembali. Kesedihan ini takut membuatnya stres dan mempengaruhi kembali perkembangan janinnya.
Dia mengusap perutnya lembut. Senyumnya di paksa mengembang. Jika Rio telah memilih pergi maka dia akan tetap merawat buah cinta mereka sebaik mungkin sebagai tanda kalau Rio pernah hadir dalam hidupnya dan menempati posisi istimewa dalam hatinya.
" Terimakasih sudah memberi tahuku. " Anindya berujar tanpa membalik badannya. Dia tetap membelakangi Vino agar laki-laki itu tidak melihat gurat kesedihan yang tergambar jelas di wajah cantiknya.
Vino tidak menjawab. Dia hanya bisa menyimpan getir di hatinya. Dia memang tidak berbohong dengan foto foto itu. Tapi soal dirinya mengaku menghamili Anindya itu sungguh kebohongan besar. Entah apa yang akan terjadi jika hal itu diketahui Anindya. Mungkin saja wanita yang kini tengah di peluknya ini akan marah dan pergi. Tidak. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia akan mempertahankan wanita pujaannya itu dengan cara apapun.
***
Sudah satu jam Rio berkeliling mencari jejak Anindya. Bahkan hampir setiap orang yang di temuinya ia menanyakan keberadaan Anindya dengan memperlihatkan sebuah foto dalam ponselnya.
Dimana kamu Nin? Kenapa kamu pergi begitu saja?
Rio tertunduk lesu. Hatinya benar benar nyeri. Seandainya ia boleh meminta ia ingin meminta Tuhan untuk mempertemukannya dengan Anindya sekali saja. Dia hanya ingin melihat sekali saja sebelum ia benar-benar rela melepas kepergiannya Anindya jika gadis itu benar-benar ingin pergi darinya.
Rasanya perlakuan Anindya padanya benar benar tidak adil. Gadis itu pergi begitu saja tanpa kata sedikitpun.
Mata yang telah di penuhi kaca itu kini pecah menjadi derai yang mengalir lembut di pipi pria yang kini telah menelungkupkan wajahnya diatas setir mobil. Dadanya yang terasa sesak oleh rasa sakit semakin terasa sesak karena di tambah tenggorokannya yang tercekat menahan tangis dari tadi.
Laki laki itu sangat rindu pada gadis yang telah menanamkan rasa sakit di hatinya kini. Dia tidak sanggup di tinggal begitu saja seperti ini.
__ADS_1
Kembalilah Anindya. Jangan pergi.
Rio semakin terisak dalam diam. Hatinya kini rapuh dan terasa lemah. Rasa cinta yang begitu besar telah membuatnya merasa kehilangan separuh dari hidupnya.
***
Seminggu sudah berlalu.
Anindya sudah keluar dari rumah sakit dan kini tengah menikmati masa kehamilannya yang semakin terasa berat. Kata dokter itu wajar sebagai wanita yang tengah hamil muda.
Kini ia tengah berdiri memandang keluar jendela dari gedung berlantai puluhan itu. Terlihat pemandangan kota dari atas balkon apartemen milik Vino.
Dia tidak bisa menolak keinginan Vino yang memaksanya pindah ke apartemen yang cukup mewah ini. Vino juga yang menanggung semua keperluan hidupnya kini. Setelah mengundurkan diri dari perusahaan otomatis ia menjadi seorang pengangguran kini.
Vino bersikeras tidak mengizinkan dia untuk mencari pekerjaan lain. Alasannya dia sedang hamil dan pasti membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat.
Benar juga alasan Vino. Rasanya ia juga tidak sanggup untuk kembali bekerja dengan kondisinya yang seperti ini. Mana ada perusahaan yang akan menerima seorang karyawan yang tengah hamil seperti dirinya.
Tadinya Anindya tetap tidak mau menerima bantuan Vino. Tapi Vino menjelaskan kalau pertolongannya ini ia anggap sebagai pinjaman. Sehingga mengurangi rasa canggung dalam diri gadis itu. Vino tahu betul kalau ia tidak ngomong begitu Anindya akan tetap menolaknya.
Anindya berjanji akan membayar biaya hidupnya kini setelah ia mendapatkan pekerjaan kembali. Dan Vino menyetujuinya. Vino menyetujui apapun keinginan Anindya yang penting gadis itu mau pindah ke apartemennya dan tetap berada di sisinya.
;
__ADS_1