PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Takdir 2


__ADS_3

" Bagaimana keadaan Anindya?" Vino membanjiri Rio dengan pertanyaan ketika ia baru saja sampai dari Bekasi. Vino sengaja datang ke Bandung setelah mendengar kabar Anindya masuk rumah sakit.


Cindy yang ikut menemani Vino ke Bandung sedikit mengerti siapa Anindya mendengar dari cerita Vino. Terus terang ia penasaran dengan sosok wanita yang sudah mengubah pandangan Vino tentang cinta.


" Anindya masih kritis." jawab Rio lirih.


Vino menarik nafas pelan. Dadanya ikut sesak melihat kondisi Anindya sekarang. Tidak menyangka sedikitpun kalau Anindya akan mengalami hal ini.


" Maaf ya, aku tidak bisa masuk kerja dulu." Rio bergumam lirih.


" Jangan pikirkan itu. Aku akan memberimu cuti khusus untuk menyelesaikan semua urusanmu disini." tegas Vino.


Rio sedikit lega mendengarnya. Itulah enaknya berteman dengan direktur sendiri.


" Kamu harus kuat. Aku yakin Anindya akan bertahan dan sembuh." Vino menepuk pundak Rio mencoba memberinya semangat agar tidak patah semangat.


Rio tersenyum getir. Ia senang dengan dukungan Vino padanya. Setidaknya Vino sudah melupakan semua ketegangan di antara mereka.


Cindy menatap wajah Anindya begitu lekat. Wajah yang lemah dan pucat itu terlihat begitu mengkhawatirkan. Walaupun keadaan Anindya seperti itu, Cindy tahu kalau Anindya adalah perempuan dengan paras yang cantik dan lembut. Pantas kalau Vino sampai jatuh hati padanya.


" Kamu kenapa ngeliatin Anindya seperti itu?" tanya Vino berbisik.


" Anindya cantik ya Vin." jawabnya juga berbisik.


Vino tersenyum lalu ia mengangguk. Anindya memang cantik dan lembut. Bahkan sempat membuatnya tergila gila hingga menyeret dia untuk melakukan tindakan konyol. Menyadari hal itu ia merasa bersalah. Bisa jadi kandungannya bermasalah gara gara dia dulu.


Vino juga melihat bayi mungil Anindya dan Rio yang keadaannya tak kalah mengkhawatirkan itu. Air matanya sempat mengambang di sudut mata. Betapa mirisnya nasib bayi malang itu.


Keadaan Rio pun tak kalah memprihatinkan. Mukanya sudah terlihat cape dengan ksntung mata yang menghitam akibat kurang tidur. Ia bersikeras tidak mau pulang. Meskipun ibu dan mertuanya menyuruhnya pulang untuk sekedar Istirahat.


Rio lebih memilih istirahat di Mushola rumah sakit tersebut daripada pulang ke rumah. Ia ingin memastikan keadaan Anindya siapa tahu Anindya ada kemajuan dan di pindahkan di ruang perawatan biasa.


Rio hanya makan makanan yang di bawakan ibu atau mertuanya yang datang silih berganti untuk menemaninya.

__ADS_1


" Rio, apa gak sebaiknya kamu istirahat dulu, kamu sudah terlihat sangat lelah, jangan sampai kamu ikut sakit gara gara ini." saran Vino.


"Nggak Vin,aku kuat kok." jawab Rio lirih.


Vino sungguh prihatin melihat Vino yang seperti itu. Mungkin kalau ia berada di posisi Rio bisa jadi iapun akan melakukan hal yang sama. la berinisiatif untuk membelikan Rio makan dan beberapa snack ringan untuk Rio.


" Kamu masih mencintainya?" tanya Cindy ketika mereka sudah keluar dari kamar perawatan dan berjalan di koridor rumah sakit.


Vino tidak lekas menjawab. la masih bingung dengan perasaannya. Mungkin bukan cinta lagi yang ia rasakan sekarang. Tapi lebih ke rasa sayang yang tulus sebagai sahabat, atau sebagai adik mungkin yang jelas ia tidak akan diam saja kalau sesuatu terjadi pada Anindya.


" Jawab Vin." Cindy penasaran. Gadis itu seperti ingin tahu kedalaman isi hati Vino yang sebenarnya.


" Kenapa kamu ingin tahu?" selidik Vino.


" Ya gak apa apa aku hanya ingin tahu." Cindy tertunduk. Tiba tiba ia merasa khawatir kalau seandainya Vino masih menyukai gadis itu.


Vino menarik nafasnya.


" Anindya adalah gadis yang baik. Tapi tidak mungkin aku miliki lagi. Aku juga tidak mau merusak hubungan mereka. Anindya menempati posisi istimewa di hatiku. Tapi bukan sebagai kekasih melainkan sebagai sahabat." jelas Vino.


" Kenapa kamu nanya begitu?" tanya Vino


" Hem..."


" Kamu cemburu?" selidik Vino.


Muka Cindy memerah.


" Ngapain aku cemburu?" kilahnya.


" Kalau gak cemburu terus apa dong namanya?lihat mukamu sampai merona begitu." ledek Vino.


Cindy meraba wajahnya sendiri. la semakin malu, gadis itu berjalan mendahului Vino agar bisa membunyikan rasa malunya. Vino hanya tersenyum melihat tingkah Cindy.

__ADS_1


Vino menyusul langkah Cindy. Tapi Cindy makin mempercepat langkahnya.


"Cin, tunggu aku...kenapa langkahmu kaya orang di kejar setan sih?" seru Vino ngos ngosan.


" Iya dan setannya itu kamu." Cindy menoleh ke arah Vino sambil tersenyum.


"Cih..."


Vino mendatangi sebuah restoran yang tak berada jauh dari rumah sakit.


" Kamu mau makan?" tanyanya pada Cindy.


" Aku lapar sih." jawab Cindy mengelus perutnya.


" Ya sudah kita makan dulu saja, aku juga lapar tadi pagi gak sempet sarapan di rumah." Vino segera mencari meja yang kosong.


" Aku tidak bisa membayangkan kalau aku yang mengalami hal itu." Cindy meremang. Perjuangan seorang ibu memang berat. la bahkan bisa bertaruh nyawa untuk dapat melahirkan anak anaknya.


" Karena itu kamu tidak akan mau punya anak kan?" cecar Vino tersenyum tipis.


Cindy menelan ludahnya. Salah ngomong dia. Padahal bukan seperti itu maksudnya. Ah harus bagaimana lagi menjelaskan ke Vino.


Cindy bodohnya kamu.


" Bukan gitu maksud aku Vin, aku baru saja menyadari betapa besar jasa seorang ibu untuk anaknya. Bahkan ia sanggup bertaruh nyawa sekalipun." ungkap Cindy.


Vino terdiam mendengarnya, ia jadi teringat sosok ibunya yang sangat menyayanginya. Bahkan ibunya rela bertengkar dengan ayahnya untuk sekedar membelanya.


"Dan aku ingin melakukan itu kelak untuk anakku." sambung Cindy lirih dan tertunduk.


Vino yang sedang menelan makanannya langsung tersedak mendengar kata kata Cindy barusan. Laki laki itu tidak percaya kalau Cindy beneran ingin mempunyai anak.


" Cin,,, kamu yakin dengan perkataanmu barusan?" selidik Vino masih tak percaya.

__ADS_1


Cindy tidak menjawab, ia hanya mengangguk penuh keyakinan. Vino tersenyum senang melihatnya. Akhirnya Cindy kembali seperti Cindy yang dulu. Secercah harapan muncul dalam benaknya. Vino tersenyum tipis.


BERSAMBUNG


__ADS_2