
" Rio aku mau minta izin sama kamu, sepulang kerja nanti aku pengen ngajakin Anindya keluar" ucap Vino yang sengaja menemui Rio di ruangannya.
Sejenak Rio terdiam tidak tahu harus bicara apa. Terpojok dalam situasi yang sama sekali tidak mengenakan baginya.
" Bagaimana Rio, jangan bilang kamu tidak memberi izin. " Vino menatap tajam wajah Rio yang sedikit tegang.
" Aahh, te... tentu saja boleh Pak Vino. " Rio tergeragap. Hatinya seperti menangis seiring kata setuju yang barusan keluar dari mulutnya.
Vino tersenyum puas. Ijin sudah di dapat tinggal sekarang ngajakin Anindya jalan. Sudah lama ia tidak melihat gadis itu. Rasanya ia kangen sekali.
Vino mengambil ponsel dari saku celananya.
Hari ini aku ingin ngajak kamu ke pantai. Kamu mau ya.
Pesan terkirim. Vino menunggu balasan dengan hati yang tak karuan rasanya. Ia takut gadis itu menolak ajakannya.
Drrrttt
Ponsel Rio bergetar.
Bagaimana ini Rio, Vino ngajakin aku jalan.
Rio membaca pesan dari Anindya. Sekilas Rio melirik ke arah Vino yang duduk di depannya dengan pandangan mata yang masih menatap layar ponsel.
Vino ada diruanganku sekarang. Ya sudah aku ijinin kamu sekali ini, tapi kamu janji untuk membuat Vino segera menjauhimu.
Balas Vino
Oke
Bls Anindya.
Vino sumringah ketika ponselnya berbunyi lagi. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya tatkala membaca isi pesannya.
" Rio terima kasih ya. " Vino beranjak pergi meninggalkan ruangan Rio.
__ADS_1
Rio berusaha menahan perasaan cemburu dalam hatinya. Dia meremas rambutnya sendiri dengan kesal.
*****
Suasana pantai dari dulu sangat disukai Anindya. Deburan ombak mampu menenangkan hatinya. Semilir angin, hamparan pasir, dan indahnya langit sore seperti membius otaknya untuk terhanyut dalam situasi romantis.
Tiba tiba ia merasakan tangan Vino melingkar di perutnya.
" Kamu suka? " bisik Vino tepat di telinga Anindya membuat gadis itu tersipu. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Gejolak hatinya begitu tidak jelas.
Anindya mengangguk pelan. Vino masih belum melepaskan pelukannya. Ia bahkan memperat pelukannya dari belakang seolah tak mau kehilangan gadis pujaanya itu.
Untuk sesat keduanya terhanyut dalam suasana yang begitu romantis di saksikan sunset yang mengantarkan matahari kembali ke peraduannya.
Anindya begitu terpukau menyaksikan indahnya matahari yang bersiap untuk untuk pergi. Di temani gugusan awan yang berwarna jingga menambah eksotis pemandangan di depan matanya.
" Indah ya. " Vino juga terpesona melihat semua itu.
" Indah banget. " Anindya tersenyum.
Vino menarik tubuh Anindya untuk menghadap ke arahnya. Dua pasang mata mereka bertemu. Vino menatap lembut bola mata Anindya yang teduh. Wajah cantiknya yang dari dulu menyita perhatiannya kini hadir tepat di depan matanya.
Vino mendekatkan wajahnya, membuat Anindya membelalakan matanya. Kejadian ini diluar dugannya,terjadi begitu cepat dan tak dapat ia hindari lagi. Tangan Vino menelesup di sela rambutnya. Kepalanya sudah tidak bisa ia gerakan lagi. Anindya hanya bisa terdiam menunggu Vino menyudahi aksinya.
Perasaan bersalah tiba tiba muncul di hatinya. Maafkan aku Rio. Ini di luar kendaliku.
Setelah beberapa saat Vino baru melepaskan tautan bibirnya. Ia tertunduk. Begitupun Anindya.
" Maaf" kata itu lirih keluar dari mulut Vino.
Anindya terdiam. Perasaannya bergejolak. Ia hanya mampu menundukan wajahnya, enggan menatap mata Vino yang membuatnya tersihir tadi.
Ya Tuhan ini salah. Anindya mengehembuskan nafasnya kuat kuat. Untuk sesaat keduanya terdiam dalam suasana yang sedikit kaku.
Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan. Ada kilatan api cemburu di mata itu. Dia menyesali keputusannya. Dan pergi meninggalkan pantai dengan hati yang hampa.
__ADS_1
*****
Vino mengajak Anindya ke sebuah restoran seafood yang jaraknya tidak begitu jauh dari pantai.
Suasana makan malam ini begitu romantis bagi Vino. Tak henti senyum mengembang dari bibirnya. Malam ini ia sangat bahagia. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Ia belum mendapat jawaban dari pernyataan cintanya. Sudah seminggu berlalu tapi Anindya masih diam. Makanya ia mengajak Anindya makan malam ini sekalian untuk meminta jawaban darinya.
Vino menatap wajah Anindya yang tengah asik menyantap makan malamnya. Dia baru tahu kalau Anindya sangat menyukai lobster. Tak heran kalau gadis itu memakan isi piringnya sampai habis tak bersisa.
Menyadari kalau Vino tengah memperhatikanya, Anindya segera membersihkan tangannya dengan tissu.
" Kenapa? " tanya Anindya balik menatap Vino.
Vino hanya tersenyum. Di matanya Anindya begitu lucu. Seperti anak kecil. Vino mengusap sudut bibir Anindya dengan ibu jarinya. Membersihkan sisa makanan yang menempel disitu.
" Aku masih belum dapat jawaban dari kamu. " ucap Vino.
Anindya tergeragap. Ia baru ingat minggu lalu Vino telah menyatakan perasaannya kepadanya. Ah, kenapa dia bisa sampai lupa.
Anindya bingung harus menjawab apa. Teringat pesan Rio tadi sore kalau ia harus bisa membuat Vino menjauhinya. Apa mungkin sekarang saatnya ia untuk menolak Vino. Tapi ia harus memilih alasan yang sekiranya tidak menyakiti hati Vino.
" Kita ke mobil yuk,,, " Anindya mengajak Vino untuk bicara di mobil biar lebih leluasa.
Setelah membayar bil makanan Vino dan Anindya segera berjalan menuju parkiran. Mereka berjalan dalam diam, tak ada satupun yang bicara. Otak Anindya terus berputar merangkai kata yang sekiranya pantas nanti ia utarakan pada Vino. Tiba tiba kepalanya terasa pusing. Badannya limbung, pandangannya makin kabur.
" Anindya " Vino menahan tubuh Anindya yang hampir jatuh. Gadis itu pingsan.
" Ya Tuhan bagaimana ini" gumam Rio seraya sesekali menepuk pipi Anindya berusaha menyadarkannya.
" Lebih baik aku bawa ke rumah sakit. " Vino mengangkat tubuh Anindya. Tapi sebuah hantaman keras di bahunya membuat tubuhnya oleng. Ia tersungkur ketanah dan selanjutnya tidak ingat apa apa lagi.
" Bos, semuanya beres. "
Seringai di wajah itu terlihat menyeramkan dibawah sinar bulan yang temaram. Dia menatap dua insan yang tergeletak di tanah tak berdaya.
**BERSAMBUNG...
__ADS_1
Cuma mengingatkan untuk tidak pelit like komen dan votenya, barangkali kalian lupa,,, 😁😘😘**