PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Vino tunangan?


__ADS_3

Vino membawa Anindya pada makan malam yang romantis di sebuah restoran cukup terkenal di daerah Bekasi. Malam ini Anindya sedikit tidak enak karena harus berpamitan pada Rio saat Vino tiba tiba saja datang menjemputnya ke rumah malam ini.


" Maaf ya Rio. " Anindya menatap dengan rasa bersalah. Rio tersenyum getir kala mengingat dirinya yang juga bersalah telah memberi izin pada Vino kemarin siang. Kini ia harus merasakan penyesalan yang membuat dadanya sesak bukan main.


" Aku janji untuk tidak pulang larut malam " Anindya menggengam lengan Rio yang terlihat sedikit murung.


Rio mengangguk lemah. Bukan masalah itu yang di khawatirkan Rio, tapi ada hal lain yang jauh lebih membuat hati Rio berdesir hebat. Dia takut Anindya jatuh ke pelukan Vino yang notabene segalanya jauh lebih unggul dari dia.


Rio masih menggenggam tangan Anindya saat gadis itu beranjak pergi. Anindya menatap Rio berusaha meyakinkan kalau dirinya tidak akan macam macam dengan Vino.


Akhirnya Rio melepaskan pegangannya membiarkan gadisnya pergi. Di luar tampak Vino sedang duduk termenung di kursi teras.


" Kita permisi dulu ya Rio, tenang saja Anindya akan aku jaga baik-baik. " Vino tersenyum lebar.


" Iya Pak Vino, tapi tolong jangan pulang malam ya. " Pinta Rio masih terlihat sedikit khawatir.


" Oke, tenang saja. " Vino pamitan diiringi tatapan kesedihan dan kecemburuan dari Rio.


Malam ini Vino seperti biasa terlihat tampan. Kemeja berwarna biru membalut tubuh atletisnya. Ah sial kenapa Vino terlihat seksi sekali malam ini. Anindya mengalihkan pandangannya ke sudut restoran yang hanya terisi beberapa pengunjung saja.


Sementara Vino tak melepaskan tatapannya dari sosok Anindya. Malam itu gadis tinggi semampai itu mengenakan dress biru selutut senada dengan warna kemeja yang ia pakai. Rambutnya yang lurus dibiarkan panjang terurai. Tidak ada riasan make up tebal di wajahnya. Semuanya serba natural tapi itu tak mengurangi kecantikan alami yang terpancar dari wajahnya.


Selera Vino memang tinggi. Terlihat dari makanan yang ia pesan, semua terlihat asing bagi Anindya. Tapi Anindya tidak mau terlihat kaku. Dia pura pura saja untuk terlihat biasa dengan makanan seperti itu. Makanan western memang tidak cocok di lidahnya. Ia lebih suka makanan lokal negeri ini. Mudah mudahan Rio tidak menyadari kalau dia susah payah menelan makanan yang sudah tersaji di meja.


" Kenapa? Enggak suka ya? Mau pesan yang lain saja? " Tanya Vino melihat ketidak sukaan di wajah Anindya.


" Ah,,, Enggak usah, ini enak kok. " Anindya menolak tawaran Vino. Sebenarnya dia menyesal untuk menyamai pesanan Vino padahal dia ditawari untuk memilih sendiri tadi.

__ADS_1


" Kamu cantik sekali malam ini Nin. " puji Vino dengan dua bola mata yang tak henti memandangi wajah Anindya.


Anindya tersipu. Jujur dia juga terpesona dengan penampilan Vino malam ini. Entah kenapa Vino berkali-kali terlihat lebih tampan dari biasanya.


" Kamu tahu tidak Nin kamu adalah wanita spesial yang aku ajak makan malam untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun aku tidak mau mengenal wanita lagi. " Vino berdecak.


Anindya terperangah,rasanya tidak percaya dengan omongan yang keluar dari mulut laki laki itu.


" Aku tidak bohong Nin, sudah 3 tahun ini aku menutup hatiku untuk wanita. " Vino mulai bercerita. Anindya mendengarkan dengan seksama.


" Sejak kematian kekasihku Arneta. " wajah Vino berubah sendu. Seperti menyimpan segurat luka di hatinya.


Anindya hanya terpaku melihat Vino. Iya menunggu Vino meneruskan ceritanya.


" Dia meninggal karena kecelakaan. Tepat sehari setelah kami bertunangan. " mata Vino mulai memerah. Anindya meraih tangan Vino berusaha menguatkan hati laki laki itu.


" Tidak apa apa, kalau kamu mau cerita aku siap jadi pendengar yang baik. " Anindya menatap lembut mata Vino yang kini tersenyum jengah untuk menutupi luka hati yang ia rasakan kini.


Vino menarik nafas panjang. Dia tertunduk, teringat sosok Arneta yang kini menari nari di pelupuk matanya. Gadis cantik yang sangat ia cintai. Yang siap menemaninya merenda hari hari impian mereka. Tapi takdir berkata lain. Arneta lebih dulu menghadap Illahi sebelum ia sempat mewujudkan mimpi indahnya selama ini.


Anindya sedikit khawatir melihat Vino yang masih tertunduk tenggelam dalam ingatannya tentang Arneta.


" Apa kamu baik baik saja Vino?" Anindya mengguncang pelan tangan Vino yang sedang erat menggenggam tangannya.


Vino sedikit tersentak. La terhadap dari lamunannya yang mungkin membuat Anindya merasa terganggu.


" Ah Sorry. " Vino mengusap kedua matanya yang berkaca kaca. Anindya baru menyadari kalau Vino adalah seorang pecinta sejati yang tidak mudah berpaling pada wanita lain di saat dia sudah benar benar mencintai seseorang. Dulu ia mengira Vino adalah sosok playboy yang suka merayu banyak wanita, terlihat dari gombalan gombalan yang ia lontarkan terhadapnya selama ini.

__ADS_1


" Maaf kalau aku mengingatkan kamu pada masa lalumu. " Anindya merasa bersalah.


" Sejak pertama melihatmu aku memang seperti melihat Arneta hadir kembali,dia sangat mirip denganmu. " Vino menatap lurus wajah Anindya.


" Oh ya, " pantas saja Vino seperti terlihat langsung akrab dengannya. Rupanya itu alasannya. Anindya manggut manggut.


" Aduh Sorry, aku sudah bikin makan malam yang romantis ini jadi melankolis. " Vino tertawa berusaha mencairkan suasana yang sedikit canggung diantara mereka.


Anindya tersenyum, syukurlah kalau Vino sudah bisa tertawa setelah tadi ia terlihat begitu sedih.


" Hai Vin!" sebuah suara mengangetkan mereka. Tampak seorang perempuan cantik menghampiri meja mereka. Perempuan itu terlihat seksi. Dia berjalan dengan seorang teman yang juga perempuan.


" Hai Cyn. " Vino tersenyum melihat perempuan cantik itu. Anindya mengerutkan alisnya. Katanya menutup hati untuk perempuan lain,tapi buktinya dia begitu akrab dengan wanita itu,cibir Anindya dalam hati.


" Eh iya kenalin ini Anindya." Vino memperkenalkan Anindya pada Cyndi.


"Cyndi " wanita itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


" Oh jadi ini gadis yang kamu ceritain ke aku? " tanya Cyndi terlihat antusias.


" heem. " Vino mengangguk, sementara Anindya hanya diam tak mengerti. Sebenarnya siapa Cyndi. Teman Vino kah? Anindya bertanya dalam hati.


Cyndi ini calon tunanganku." Vino berkata tanpa beban, membuat Anindya terhenyak. Entahlah bagaimana perasaannya sekarang. Imajinasinya tadi tentang Vino seperti menguap begitu saja. Anindya tidak mengerti lagi kalimat apa yang bisa mendeskripsikan tentang sosok pria itu. Semua itu begitu abu abu sekarang. Kalau memang akan bertunangan terus kenapa dia harus bersusah mengajak dia makan malam? Ah Anindya tidak habis pikir, bisa bisanya dia terjebak oleh laki laki seperti Vino. Anindya memutar bola matanya menyesali kebodohanya selama ini.


**BERSAMBUNG...


BUDAYAKAN UNTUK LIKE, KOMEN, VOTE DAN RATE UNTUK SALING MENGHARGAI ANTARA AUTHOR DAN PEMBACA 😊👌**

__ADS_1


__ADS_2