
Tania menginjakan kakinya di halaman sebuah rumah yang lumayan besar. Rumah itu tampak sepi seperti tidak ada penghuni di dalamnya.
Semuanya masih terlihat sama, hanya catnya saja yang sudah mulai terlihat usang. Tania masuk ke perkarangan rumah itu. Ayunan dari besi di halaman depan rumah itu masih ada. Tania tersenyum saat mengingat dulu dia sering bermain ayunan disitu.
Tania duduk di atas ayunan itu lagi. Dulu di sampingnya selalu ada Rio menemani sambil bercanda. Lagi lagi bibir Tania menyunggingkan seulas senyum tipis. Betapa bahagianya dia waktu itu. Dunianya begitu penuh warna, selalu ceria dan tanpa beban.
Berbeda dengan sekarang. Hidupnya di kendalikan oleh orang lain, semuanya sudah di atur, bahkan soal makananpun ada yang mengaturnya. Dirinya seperti robot. Semua ada schedulenya.
Kalau waktu bisa di putar ia ingin semuanya kembali seperti dulu. Biarlah ia tidak usah mengejar cita citanya yang penting dia bisa hidup bahagia bersama cinta Rio.
Tania menarik nafas. Gadis cantik itu memasuki teras. Mengetuk pintu dan memanggil penghuni rumah.
"Assalamualaikum"
" Rio" panggilnya.
Sepi. Apa mereka tidak ada di rumah, batinnya. Tania mengetuk pintu sekali lagi dan memanggil dengan lebih keras.
"Assalamualaikum Bu Hera."
Masih tetap tak ada jawaban. Kemana mereka pergi, batin Tania lagi. Ia beranjak ke belakang rumah barangkali Bu Hera ada disitu. Tapi nihil. Sepertinya rumah ini benar benar tidak berpenghuni.
Tania sedikit kecewa karena harus menunda dulu rasa rindunya.
" Mbak,,, mau ketemu Bu Hera ya?" tanya seorang ibu ibu yanf kebetulan lewat di depan rumah Bu Hera.
" Iya Bu, kemana ya mereka?" tanya Tania antusias.
" Bu Hera pasti sedang di rumah sakit." jawab ibu tersebut.
" Siapa yang sakit bu? Apa Rio yang sakit?" tanya Tania berubah menjadi khawatir.
" Bukan Mbak, Anindya yang sakit." jawabnya lagi.
"Anindya? Siapa Anindya?" tanya Tania heran, kedua alisnya mengkerut.
" Mbak gak tau siapa Anindya?"
__ADS_1
Tania menggeleng.
" Waaah berarti Mbak baru kesini ya...?" ibu itu malah tersenyum.
" Siapa Anindya Bu?" Tania tidak kuasa menutupi rasa penasarannya.
" Anindya istrinya mas Rio, dia baru saja melahirkan prematur di rumah sakit." jawab ibu itu.
Tubuh Tania mendadak lemas mendengarnya. Jantungnya serasa di tikam ribuan pedang. Perih,sakit. Tak terasa air mata meleleh membasahi pipinya.
" Mbak,,, mbak baik baik saja kan?" ibu itu terlihat khawatir dan bingung melihat Tania.
" Saya baik baik saja Bu." Tania mengusap air matanya dan mencoba tersenyum agar wanita itu tidak curiga.
" Syukurlah, kalau begitu saya permisi dulu mau ke warung." ucapnya pamit.
Tania bergegas masuk ke dalam mobilnya. Ia tak kuat menahan air mata yang tumpah ruah di pipinya. Semuanya sudah terlambat, ia datang sangat terlambat.
Tania menangis sejadinya dalam mobil. Ia menyesali semuanya. Ia tidak mengira Rio akan menikah secepat ini.
Sakit, hatinya sungguh sakit. Ia menyesali kebodohannya yang telah meninggalkan Rio demi impiannya.
Tania terus menangis mengurangi rasa sesak di hatinya. Ia pandangi lagi rumah itu. Rumah yang banyak sekali menyimpan kenangan. Rumah yang penuh kehangatan karena Bu Hera sangat menyayanginya.
Tapi sekarang semua tinggal kenangan. Mungkin kenangan itu tak akan bisa lagi di ulang.
Tania menyalakan mesin mobilnya. Tak ada gunanya lagi dia disitu berlama-lama. Dengan perasaan kalut Tania memacu mobilnya. Tidak tahu harus kemana karena ia tidak punya tujuan yang jelas.
Tania terus mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Hatinya hancur berkeping-keping. Rasanya sudah tidak ada semangat lagi dalam dirinya.
Bayangan indah masa lalunya bermunculan kembali dalam pikirannya. Memenuhi seluruh isi kepalanya. Membuat hatinya semakin nyeri.
Tiba tiba.
Sebuah mobil muncul di depannya secara tiba-tiba. Tania menjerit dan kehilangan fokus.
Brak!
__ADS_1
Benturan tak bisa di hindari. Tania merasakan sakit di kepalanya. Darah menetes di pelipisnya. Pandangannya mulai kabur dan semuanya gelap.
*****
Hari ini Rio melihat beberapa suster mulai mencabut selang selang kecil yang menempel di tubuh Anindya.
Sesaat Rio terlihat panik.
" Kenapa Dok, ada apa dengan istri saya?" tanyanya dengan suara gemetar. Ia lihat Anindya masih terpejam dan lemah. Bibirnya masih terlihat pucat.
" Tenang Pak Rio." Dokter itu tersenyum mengerti dengan kepanikan Rio.
" Kenapa Dok, apa Dokter sudah tidak bisa mengusahakan kesembuhan istri saya?" Mata Rio mulai berkaca.
" Tenang dulu pak Rio, saya akan jelaskan." Dokter itu menyuruh Rio untuk tenang dan tidak panik.
Rio menarik nafasnya, mempersiapkan mentalnya untuk mendengar hal terburuk yang mungkin saja dokter itu akan sampaikan padanya.
" Begini Pak, Ibu Anindya sudah melewati masa kritisnya, sekarang beliau sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan." jelas dokter.
"Alhamdulillah." Rio spontan bersujud syukur di ruangan itu. Ia tak henti bersyukur pada Tuhan yang telah mengabulkan doa-doanya selama ini.
" Terima kasih Dokter" Rio terlihat sumringah.
" Berterima kasihlah pada Tuhan yang telah mengabulkan doa Bapak dan keluarga." Dokter itu tersenyum ikut bahagia. Diapun merasa lega karena usahanya membuahkan hasil.
Anindya telah lolos dari lubang jarum. Tadinya ia sempat pesimis untuk keselamatan Anindya sebab banyak kasus ibu hamil yang mengalami hal yang sama gagal untuk di selamatkan.
Suster memindahkan Anindya ke ruang rawat inap. Rio mengikutinya dari belakang. Ia amat bahagia melihat wajah Anindya yang masih belum siuman. Dokter bilang kemungkinan ia akan sadar sebentar lagi.
Rio segera menelpon orang tua Anindya yang masih berada di rumah. Mereka menyambut dengan suka cita kabar baik tersebut.
" Bapak akan segera kesitu." tutur Pak Haryadi gembira.
Rio memeluk ibunya dengan erat. Bu Hera sudah menitikkan air mata bahagia. Harapannya kembali muncul ketika hampir hilang beberapa saat yang lalu.
" Terima kasih kamu sudah berjuang sayang." isak Rio di telinga Anindya.
__ADS_1
BERSAMBUNG