
Anindya berdiri di depan cermin dalam kamarnya. Perutnya sudah kelihatan membesar. Usia kandungannya sudah berjalan 3 bulan. Tidak terasa sudah satu bulan ia berada di apartemen Vino.
Udara segar masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Pagi ini entah kenapa Anindya rindu suasana rumahnya bersama Rio. Rindu semua kegiatan di pagi hari yang selalu ia lakukan bersama Rio. Rasanya ia ingin segera kembali bersama suaminya itu. Tapi masihkah Rio mau menerimanya?
Anindya menatap nanar pemandangan diluar jendela. Sebaiknya ia berjalan jalan sebentar. Lagipula diam di rumah terus tidak baik juga untuk ibu hamil seperti dirinya.
Anindya mrnghirup udara segar setelah berada di bawah, duduk di tepi kolam renang yang memang menjadi fasilitas yang disediakan oleh apartemen tempat ia tinggal. Terlihat beberapa orang yang sedang berenang santai. Ada juga orang yang cuma duduk duduk saja sambil menikmati minuman dan membaca majalah seperti dirinya. Hari libur begini memang suasana di apartemen terlihat lebih ramai. Sudah lama ia tidak menikmati suasana seperti ini. Anindya tersenyum ketika melihat celoteh beberapa anak kecil yang sedang bercanda dengan temannya.
" Mbak kenapa cengengesan sendiri?"
Suara berat seorang pria mengagetkan Anindya. la pun menoleh ke arah pria di sampingnya.
" Iih Vino ngagetin aja." Anindya memukul pelan bahu pria yang sudah duduk di sampingnya itu.
" Habis kamu asik banget ngeliatin anak-anak kecil itu sampai tidak sadar aku sudah disini begitu lama." Vino mengerucutkan bibirnya.
" Bohong kamu,,,baru juga datang kan?" Anindya memutar bola matanya.
__ADS_1
" Iih gak percaya ck ck ck..." Vino menggelengkan kepalanya.
Anindya tidak menanggapi,ia kembali fokus melihat kerumunan anak kecil di kolam renang. Sementara Vino memperhatikan Anindya dengan seksama.
Dia sadar kalau Anindya butuh refreshing. Sudah terlalu lama juga ia mengurung gadis itu di apartemennya. Mungkin jalan jalan sebentar akan sedikit mengurangi rasa bosannya.
" Kamu mau ikut ke puncak gak?" tanya Vino tiba tiba.
Tak butuh waktu lama Anindya langsung menjawab ajakan Vino dengan anggukan kepalanya. Gadis itu terlihat sangat antusias dan senang sekali. Vino sedikit merasa bersalah telah mengabaikan perasaan Anindya. Mengurungnya sebulan ini pastilah sangat menyiksa.
" Baiklah,,,ayo bersiap,kita pergi sekarang. " Vino tersenyum melihat kebahagian terpancar dari wajah Anindya.
Tak berselang lama Anindya sudah kembali dengan tas berisi beberapa baju di tangannya.Vino segera menyambar barang bawaan Anindya dan membawanya ke mobil. Anindya mengekornya dari belakang.
Selama perjalanan senyum ceria selalu menghiasi bibir Anindya. Bayangan indahnya pemandangan puncak sudah terbayang di pelupuk matanya. Terakhir ia pergi ke sana dua bulan yang lalu bersama Rio. Dan suasana puncak sudah memikat hatinya. Hawa dinginnya yang sejuk dan segar. Hamparan kebun teh yang menghijau, jagung bakarnya. Semua itu sangat membekas diingatan Anindya membuatnya selalu dan selalu ingin kesana setiap ada kesempatan.
Vino membawa Anindya ke sebuah resort yang terbilang cukup mewah. View yang di sajikan juga sungguh indah karena langsung menghadap ke arah gunung Pangrango. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Asri dan sejuk di pandang. Vino menyewa 2 kamar diresort tersebut.
__ADS_1
Anindya menghempaskan badannya di atas kasur empuk. Pandangannya tertuju pada view yang begitu memanjakan mata. Gunung Pangrango yang tinggi menjulang berdiri kokoh di kejauhan sana. Bangunan resort yang terlihat masih baru di desain dengan gaya minimalis modern. Cocok dengan jiwa kaula muda yang menginginkan sesuatu yang serba kekinian.
Pemandangan dari kamar memang terlihat mempesona. Pengunjung bisa memilih view yang mereka suka. Mountain view atau pemandangan hutan Pinus bisa terlihat dari resort ini. Resort ini juga di lengkapi dengan petting animal dan kolam renang air hangat serta taman bermain untuk anak-anak. Baru kali ini Anindya menginap di resort karena biasanya kalau bersama Rio mereka lebih memilih menyewa Vila di sekitaran perkebunan teh.
Anindya terlihat begitu sumringah manakala membuka pintu kamar menuju balkon. Udara segar langsung terasa memasuki paru parunya. Kedua tangannya direntangkan seolah ingin merengkuh semua keindahan ciptaan Tuhan yang tersaji di depan matanya.
Tepat di bawahnya kolam renang tertata apik dengan taman taman kecil dan gazebo yang lumayan banyak. Ada juga beberapa set sofa sofa cantik untuk para pengunjung yang ingin bersantai menikmati pemandangan alam. Bagi para penggemar selfie area ini bisa jadi spot yang indah untuk berselfie ria.
Anindya mengedarkan pandangannya menyapu setiap detail tempat itu. Tepat di bawah pohon beringin pandangannya terhenti pada sosok pria yang tengah membelakanginya. Sosok itu mengingatkan dia pada Rio. Anindya mengucek matanya dan mencoba melihat lagi dengan lebih teliti. Dan benar laki-laki itu terlihat mirip sekali dengan Rio. Tapi jarak yang begitu jauh membuatnya tidak yakin kalau itu benar-benar Rio. Tapi rasa penasaran itu muncul begitu kuat. Dengan langkah tergesa ia segera turun ke bawah ingin memastikan kalau penglihatannya itu benar.
Sesampainya di bawah ia langsung menuju pohon beringin tempat laki-laki itu tadi berdiri. Tapi sosok itu telah berganti. Bukan lagi sosok pria yang mirip dengan Rio. Tapi orang lain.
Anindya tertegun. Ia tersenyum kecut. Menertawakan kelakuannya yang seperti orang gila tadi. Berlari hanya karena melihat punggung yang mirip sekali dengan Rio. Apakah kerinduan ini sudah begitu dalam tertanam di hatinya? Hingga ia melihat semuanya mirip seperti Rio bahkan hanya melihat punggungnya saja ia sudah yakin kalau itu Rio.
Ayolah Anin sadar....
Anindya menepuk kepalanya sendiri. Dengan langkah gontai ia pun kembali ke dalam kamarnya. Diapun berusaha meyakinkan dirinya kalau penglihatannya tadi keliru. Lagipula tidak mungkin Rio ada disini. Kalau pun ia ke puncak ia pasti menyewa Villa bukan resort.
__ADS_1
Anindya memasuki kamarnya kembali. Nafasnya masih tersengal karena berlari tadi. Dia mengusap perutnya dan bergumam meminta maaf pada bayinya karena telah diajak berlari tadi.
Dia merebahkan badannya di atas kasur. Rasa lelah telah menguasai dirinya, hingga tanpa sadar iapun terlelap.!