
Rio terkesiap melihat wanita yang baru saja masuk ke dalam Vila itu. Dia tidak mengira sama sekali kalau dalang dari semua ini adalah Rina. Perempuan yang sangat tergila-gila padanya.
" Rina,,, ternyata kamu?" Rio masih tidak percaya dengan penglihatannya.
Rina terkejut melihat dua orang suruhannya sudah terkapar tak berdaya. Tapi ia lebih terkejut saat melihat Rio dan Vino ada di situ.
Sontak dia berbalik badan seketika. Sadar kalau ia telah di jebak dalam permainannya sendiri.
" Jangan kabur Rina" Rio segera menghambur ke arah Rina. Tangannya berhasil mencengkram lengan Rina yang ingin berlari.
" Maaf mas Rio semua ini aku lakukan karena aku mencintai kamu mas, tapi kenapa kamu tidak pernah melihat perasaan aku?" Teriak Rina histeris mengeluarkan semua rasa kesal di dalam hatinya. Matanya sedikit berkaca kaca.
Rio terhenyak. Kedua matanya terus memandang Rina tak berkedip. Dia tidak menyangka sama sekali kalau di balik wajah cantik itu tersimpan sisi kriminal yang sangat kejam.
Memanfaatkan keadaan Rina menendang kaki Rio sekuat tenaga. Pegangan tangannya terlepas, Rio memegangi tulang keringnya yang terasa mau patah akibat tendangan kaki Rina yang memakai pantofel. Secepat kilat Rina berlari keluar melarikan diri.
" Jangan bergerak!"
Rina kembali masuk ke dalam Vila saat dua orang polisi menghadang di pintu keluar. Tangan Rina terangkat ke atas. Wajah dan bibirnya langsung pucat seketika.
Polisi langsung meringkus Rina, kedua tangannya di borgol. Sekilas matanya memandang Rio penuh kebencian. Sementara Rio hanya bisa terdiam menyaksikan semua itu.
"Aku benci kamu Rio." Teriak Rina histeris. Dia semakin menggila dan meronta saat polisi membawanya menuju mobil polisi yang terparkir tak jauh dari Vila kosong tak berpenghuni itu.
Rio menyadari antara Cinta dan benci di pisahkan oleh membran yang sangat tipis. Di butuhkan kedewasaan dan keikhlasan saat cinta tidak berbalas.
Rina dan dua orang penjahat itu langsung digelandang ke kantor polisi. Dan Anindya yang masih pingsan segera di larikan ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapat pertolongan.
***
__ADS_1
Rio masih menunggu di luar. Saat ini Anindya masih di periksa dokter. Vino duduk di samping Rio. Keduanya nampak cemas. Tapi Rio tampak lebih gugup dari Vino.
"Rio, kamu harus yakin kalau Anindya benar benar hamil anakmu. Maafkan aku dulu sudah berbohong."
Rio memandang wajah Vino dengan sedikit jengkel. Tapi mengingat jasa Vino yang sudah membantunya tadi, Rio sudah tidak mau memperpanjang masalah itu.
Tadi Vino berhasil melacak keberadaan ponsel Anindya lewat aplikasi Google maps, dan segera meminta bantuan polisi sebelum mereka pergi ke tempat itu. Kecurigaan Vino yang mencurigai keterlibatan Rina juga terbukti.
Sekarang Rio sudah tidak peduli dengan semua pengakuan dosa Vino, yang ia pikirkan hanyalah keselamatan Anindya dan bayinya.
" Rina menjebak kami saat itu. Kami berdua di bius dan diatur sedemikian rupa hingga tampak seperti tidur bersama. Aku yakin foto yang kamu terima juda dia yang kirim. " Vino menyerahkan bukti dari detektif yang ia sewa.
Rio menerima dan membacanya. Tampak raut penyesalan dari wajahnya. Menyesali ketidak percayaannya pada istrinya sendiri. Rio menarik nafas dalam melepas semua beban yang terasa menggunung di dadanya.
" Aku mau serahkan ini ke polisi sebagai bukti penunjang kejahatan Rina. Aku yakin ini bisa memperlama waktu perempuan itu mendekam di penjara." Vino mengambil kembali amplop coklat dari tangan Rio.
Rio tidak habis pikir dengan kenekadan Rina. Apa yang ada di otak gadis itu hingga ia sanggup bertindak kriminal demi cinta.
" Saya sus." Rio berdiri.
"Silakan masuk, pasien sudah sadar dan ingin bertemu anda."
"Alhamdulillah." puji syukur Rio dan segera masuk ke dalam kamar untuk menemui istrinya.
Terlihat Anindya tengah berbaring lemah. Bajunya sudah di ganti dengan baju rumah sakit. Semua luka sudah di bersihkan. Selang infus terpasang di tangan kirinya.
" Rio" panggilnya lemah
" Iya sayang." Rio menghampiri dan menggenggam erat tangan Anindya. Berkali kali ia menciumi tangan lemah Anindya.
__ADS_1
" Aku takut" suara Anindya bergetar mengingat kejadian hari ini yang sangat membuatnya syok setengah mati.
" Sssstt...! Jangan takut lagi, aku akan terus menjagamu sekarang." Rio menempelkan telujuknya di bibir Anindya. Mencoba membuatnya lebih tenang. Laki laki itu mengusap dua bulir air mata yang menetes di sudut mata Anindya.
Rio bisa merasakan betapa ketakutannya Anindya. Sebagai suami ia sendiri merasa bersalah karena tidak mampu menjaga istrinya sendiri dari perbuatan jahat orang lain. Rio memdang luka robek di sudut bibir dan pelipis Anindya. Membuat darahnya kembali bergejolak. Untung ia sempat mematahkan pergelangan tangan laki laki breng**k itu tadi.
" Bayi kami bagaimanapun dokter?" Rio teringat janin yang ada dalam rahim istrinya.
" Alhamdulillah bayinya baik baik saja. " Kata dokter yang masih memeriksa Anindya dengan teliti.
" Mohon di jaga untuk tetap tenang ya Pak, dan untuk Ibu Anindya jangan terlalu banyak pikiran, tenangkan diri yakin semuanya akan baik-baik saja. Sekarang sudah ada Suami ibu yang menjaga. Sudah tidak sendirian. Pikirkan bayi yang ada dalam perut ibu yang butuh ibu yang kuat dan sehat,,,Semangat ya ibu, jangan lupa untuk selalu bahagia." Dokter perempuan yang bertugas memberi nasehat panjang lebar untuk mereka berdua. Senyum manis selalu tersungging di bibirnya. Sedikit menenangkan hati Anindya dan Rio.
" Terima kasih dokter." ucap Rio.
" Sama sama Pak, saya permisi dulu." Dokter cantik itu pamit.
Rio menatap lembut wajah Anindya. Kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Bersyukur Tuhan masih menyelamatkan istrinya. Kalau telat sedikit saja entah apa yang akan terjadi padanya, Rio tidak sanggup membayangkan.
Vino memasuki ruangan. Sedikit kikuk melihat adegan di depan matanya. Dia bermaksud untuk kembali.
" Terimakasih Vino." Anindya membuat Vino menghentikan langkahnya yang ingin segera pergi dari situ.
" Iya Vino terima kasih sudah membantuku untuk menyelamatkan Anindya." Rio menimpali.
Rio menghampiri ranjang Anindya. Sebenarnya ia tidak tega melihat keadaan Anindya. Ingin sekali ia memeluk dan membelainya. Tapi kini ia harus benar-benar mundur dari mengejar cinta Anindya.
" Jangan pikirkan itu. Yang penting sekarang kamu harus segera sehat dan melanjutkan kehidupan rumah tangga kalian. Maafkan aku karena sudah lancang mengganggu kehidupan kalian." Vino meminta maaf dengan tulus.
Rio dan Anindya tersenyum mendengarnya. Ada rasa lega di hati mereka masing-masing. Kesalah pahaman yang terjadi diantara ketiganya kini sudah terselesaikan dengan damai. Semoga ini awal yang baik untuk mereka bertiga.
__ADS_1
BERSAMBUNG.