PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Hampir saja


__ADS_3

Leher jenjang Anindya jadi sasaran selanjutnya. Anindya cuma bisa menangis sejadi-jadinya dan berdoa supaya ada keajaiban datang padanya saat ini.


Laki laki itu sudah seperti kerasukan iblis. Tangannya terus menjamah beberapa bagian tubuh Anindya. Anindya menangis kencang dan terus memohon laki laki itu untuk menghentikan aksi bejatnya. Dia bahkan memberi tahu kalau dirinya tengah hamil.


Laki laki itu tertegun sejenak. Tapi sejurus kemudian dia menyeringai memperlihatkan sebaris giginya yang kekuningan akibat asap rokok dan kopi.


" Kata orang berhubungan dengan wanita hamil itu lebih nikmat mari kita buktikan sayang." Laki laki biadab itu mulai membuka ikatan kaki Anindya.


Kesempatan itu tidak disia-siakan begitu saja. Secepat kilat Anindya menendang kantung menyan milik laki laki bertampang ngeselin itu.


Laki laki itu terhuyung ke belakang sambil memegangi miliknya yang serasa mau pecah. Anindya yang kakinya sudah bebas segera berlari kearah pintu. Dengan tangan yang masih terikat di kursi ia berusaha membuka pintu. Namun sayang pintu di kunci dari luar.


Anindya terpojok di samping pintu. Terlihat laki laki itu sudah bisa berdiri tegak lagi walaupun wajahnya masih sedikit meringis menahan sakit.


" Kurang ajar,,, dasar perempuan tidak tahu diri, minta di hajar kamu ya?" Laki laki itu menghampiri Anindya yang berdiri ketakutan di sudut ruangan.


Tubuh Anindya bergetar seakan sudah bisa membayangkan rasa sakit yang akan dia terima nanti.


PLAK...!


Sebuah tamparan keras ia terima. Telinganya berdenging seketika. Darah segar kembali mengucur dari sudut bibirnya. Kini laki laki itu menjambak rambutnya dan mendorong kepalanya ke tembok. Anindya hanya bisa pasrah tenaganya tidak akan cukup kuat jika melawan laki laki sebesar itu. Lagipula badannya sudah terasa lemas dari tadi.


Anindya cuma bisa menjerit dalam hati. Kalau memang hari ini adalah hari terakhirnya melihat dunia, orang yang paling ingin dia temui adalah kedua orang tuanya. Dia ingin meminta maaf karena belum bisa menjadi anak yang berguna yang bisa menjadi kebanggaan orang tuanya.


Air mata keluar deras dari sudut mata Anindya. Seumur hidupnya baru kali ini dia mengalami kekerasan fisik yang teramat kejam. Bahkan seingat dia orang tuanya pun tidak pernah mencubitnya sekalipun.


Kepala Anindya menempel di tembok. Daun telinganya pun terasa sangat sakit dan perih. Entah kekerasan apalagi yang akan dia terima nanti. Mata lelaki itu memerah pertanda dia sudah marah besar.


Duk...!


Laki laki itu membenturkan kepala Anindya ke tembok. Sakit. Seketika mata Anindya berkunang kunang dan tubuhnya ambruk di lantai.


Laki laki itu membuka ikatan tangan Anindya. Menyeret tubuh lunglainya ke tengah ruangan.


"Coba dari tadi kamu pasrah seperti ini, aku pasti tidak akan menyakitimu. " Lelaki itu bergumam dengan nafas sedikit memburu.

__ADS_1


Breeettt...


Dia merobek baju bagian atas Anindya. Pakaian dalam gadis itu terlihat jelas. Pandangan pria itu makin bernafsu melihat dada Anindya sedikit menyembul keluar.


Anindya terlentang tak berdaya karena pingsan. Lelaki itu bersiap hendak melepas pakaian bawahnya tapi terdengar suara gaduh di luar sana.


"Apalagi sih ini Jamal!" teriaknya.


Dia urungkan niatnya yang ingin menggagahi Anindya.


"Buka pintunya Jamal."


Cekrek.


Pintu terbuka tapi apes sebuah tinju langsung mendarat di hidungnya. Cuuurr darah langsung keluar dari lubang hidungnya. Laki laki itu terhuyung beberapa centi ke belakang. Sambil memegangi hidungnya yang berdarah laki laki itu menoleh pada sosok yang memberinya bogem mentah.


"Siapa kamu?" teriaknya.


Laki laki yang baru saja menghadiahinya pukulan perkenalan langsung histeris melihat Anindya tergolek lemah dengan beberapa luka lebam di wajahnya dan pakaiannya yang sudah berantakan.


Disudut yang lain Vino tampak sibuk berduel dengan jamal. Rupanya Vino pun cukup lihai beladiri hingga dalam sekejap pria itu sudah bisa melumpuhkan jamal hingga meringkuk tak berdaya di sudut ruangan dalam pilinan tangan Vino.


Rio mendorong bos jamal yang bernama Burhan itu jatuh ke lantai dengan keras. Burhan nampak geram. Dia segera bangkit berdiri dan segera melancarkan serangannya bertubi tubi tanpa aturan. Sementara itu Rio pemegang sabuk hitam taekwondo cuma berkelit ringan menghindari setiap pukulan Burhan.


Dalam satu kesempatan Rio menangkis tangan Burhan dan memutar pergelangan tangannya hingga Burhan mengaduh kesakitan.


Krek!


Bunyi tulang yang retak. Burhan meraung kesakitan akibat pergelangan tangannya patah.


"Itu balasan tangan kotormu yang sudah berani menyentuh istriku." Rio melepaskan tangan Burhan yang sudah patah. Burhan mundur beberapa langkah sambil merasakan sakit yang hebat pada tangan kanannya.


Rio menarik kerah jaket Burhan dan menyeretnya ke arah jamal. Rio mendorong tubuh Burhan hingga ia tersungkur di samping tubuh Jamal yang keadaannya tak kalah menyedihkan dari Burhan.


Dua kawanan penjahat itu saling pandang. Mereka tidak menyangka kalau hari ini akan berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Vino dengan mata yang hampir keluar karena kesal.


" Telepon dia sekarang,suruh kesini,cepaat...! Kalau tidak kami tidak akan segan membuat kalian lebih menderita lagi dari ini." hardiknya lagi.


"Ba...baik Pak."


Burhan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Kemudian dia menghubungi sebuah kontak.


"Loud speaker!" Teriak Rio.


Burhan segera mengikuti perintah Rio.


"Hallo! Bagaimana misi kalian? Apa berjalan lancar?" tanya suara perempuan dari ujung telepon.


" Maafkan kami Bu,,,ada sedikit masalah disini ibu harus segera kesini" Suara Burhan tampak bergetar.


" Kenapa? Apa sandera kabur? atau apa? Ceritakan padaku!" perempuan itu mulai terdengar panik.


" Ti,,,tidak. Pokoknya sebaiknya ibu segera kesini." jawab Burhan di bawah tekanan Rio yang bersiap memelintir tangannya lagi.


"Oke aku segera kesitu. Burhan langsung menutup telepon.


Tak berselang lama sebuah mobil memasuki pekarangan Vila tua yang sudah tidak di pakai lagi. Betuntung Vino memarkir kendaraannya agak jauh dari situ.Hingga tidak menimbulkan kecurigaan.


Seorang perempuan turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam bangunan Vila. Dia memakai jena hitam di padu t-shirts warna putih serta jaket kulit hitam. Kacamata hitam bertengger di matanya. Rambutnya panjang terurai tertiup angin dan membuat anak rambutnya menutupi sebagian wajahnya yang terlihat cantik.


" Burhan!" teriaknya memanggil orang suruhannya. Rio menyuruh Burhan diam dengan isyaratnya.


Perempuan itu merasa ada yang aneh melihat keadaan ruangan yang sepi. Dia belum melihat kalau ternyata dua otang suruhannya sudah terkapar tak berdaya di sudut ruangan.


" Welcome Rina." Teriak Vino sembari bertepuk tangan.


**BERSAMBUNG...


Hai readers terima kasih atas dukungan kalian untuk novel ini. Semoga kalian terhibur. Dan jangan lupa untuk selalu like di setiap babnya agar performa karya ini cepat naik. Berikan komentar yang membangun jika ada saran dan kritik boleh kalian ungkapan tapi tolong dengan kata2 yang bijak ya,,,kita belajar saling menghargai disini. Disini author masih pemula, masih harus banyak belajar. Jadi mohon maaf bila ada yang kurang berkenan di hati kalian readers tercinta. Oh iya dukungan vote juga author harapkan dari kalian. Pokoknya salam cinta untuk kalian semua eeemmmuuaaaahhh**.....

__ADS_1


__ADS_2