PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Lemah, letih, lesu


__ADS_3

Anindya tertidur di lahunan Rio. Badannya yang terasa letih menuntut ia untuk segera beristirahat. Rio tak henti mengusap usap kepala Anindya. Perasaan sayangnya naik berlipat lipat ganda dari sebelumnya.


" Nak Rio pulang saja, biar ibu sendirian yang menjaga Hani. " ucap Bu Ranti di depan pintu kamar ruang rawat, Ia tak tega melihat Anindya yang sepertinya sudah sangat mengantuk itu.


" Ibu tidak apa apa sendirian?" tanya Rio sedikit khawatir.


" Tidak apa apa nak Rio, terimakasih sudah mengantar ibu dan Hani malam malam begini. " Bu Ranti sedikit membungkukkan badannya. Rio menjadi sedikit risih.


" Ya sudah kalau begitu. InsyaAllah besok kami kesini lagi untuk menjenguk. " Rio pamit. Ia lalu membangunkan Anindya yang tengah terlelap. Gadis itu kaget dan terbangun spontan. Rio sempat tertawa melihat Anindya yang celingukan setengah sadar dari tidurnya.


*****


Sebuah usapan lembut di pipinya membangunkan Anindya dari tidurnya. Dengan susah payah ia membuka matanya yang masih terasa lengket,akibat semalam tidur sangat larut.


" Rio... " ucap Anindya lirih, ia kembali memejamkan matanya. Rasa kantuk tak bisa ia kendalikan. Namun lagi lagi tangan Rio tidak mau diam. Kali ini tangannya menyelusup ke dalam piyama Anindya.


" Rio,,, aku ngantuk. " Anindya berusaha tak menggubris kelakuan Rio. Tapi Rio malah makin menjadi dia mencium bibirnya bertubi tubi.


" Sebentar saja sayang. " bisik Rio di telinga Anindya. Tangan Rio terus bergerilya menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya. Perlahan naluri wanitanya bangkit.


" Kamu Nakal pagi pagi sayang. " Anindya mencubit hidung Rio. Suaminya itu tersenyum dan melanjutkan aksinya seperti semalam.


Rio dan Anindya benar benar menikmati malam pertama mereka yang tertunda. Rio seperti kerasukan membuat Anindya benar benar tak berdaya.


*****


Hari ini di kantor Anindya benar benar merasa lelah. Matanya pun terasa ngantuk sekali. Bagaimana tidak, Rio benar benar mengerjainya semalam, pulang dari rumah sakit, bahkan sesaat sebelum mereka bangun pagipun Rio masih minta jatah. Anindya merasa kelelahan karena ulah Rio.


" Anindya kamu sakit? " Gendis menatap wajah Anindya yang kuyu dan pucat.


" Hah,,, enggak kok aku baik baik saja. " Anindya terkejut, benarkah wajahnya terlihat seperti orang sakit? Duh memalukan sekali.


" Itu leher kamu kenapa? " tanya Gendis lagi melihat ke arah leher Anindya yang merah.

__ADS_1


Astaga dia lupa kalau semalam Rio memberi kissmark di lehernya. Bodoh kenapa bisa sampai lupa. Anindya menutup bekas kecupan Rio dengan tangannya. Mudah mudahan Gendis tidak menyadari kalau sekarang dia sedang sangat gugup.


" Aahh iya ini di gigit semut, gatal sekali jadi aku garuk deh eeh malah merah kayak gini. " Anindya berbohong,mudah mudahan saja Gendis percaya.


" Oohh. " mulut gadis itu membulat. Sepertinya ia mempercayai kata kata Anindya. Buktinya ia tidak bertanya lagi.


" Huuhh. " Anindya menarik nafas lega. Ia berusaha menutupi tanda merahnya dengan rambutnya. Hari ini semuanya kacau. Serasa semua orang menatap aneh ke arah dirinya. Entahlah mungkin juga hanya perasaannya saja. Yang jelas hari ini tubuhnya benar benar lelah dan ingin sekali beristirahat.


" Anindya kok kaya lemes gitu sih? Kamu habis kerja berat apa semalam? " tanya pak lmam menimpali.


Anindya kaget. Kerja berat? Ya dia sudah kerja berat banget semalam. Bahaya banget ini kalau sampai mereka tahu. Anindya menjadi salah tingkah. Dia berusaha untuk terlihat baik baik saja.


" Ada apa? " Rio tiba tiba muncul dan menangkap semua kekacauan ini. Dia sadar semua mata penghuni ruangan ini kini tertuju ke arah Anindya.


" Anindya sepertinya sakit Pak Rio, dia terlihat lemas dan pucat begitu. " jelas Pak lmam.


Rio melihat wajah Anindya. Benar juga Anindya terlihat pucat. Tapi dia yakin ini semua bukan karena Anindya sakit, tapi karena perbuatannya semalam. Menahan tawa Rio masih memandang wajah Anindya yang bersemu merah sekarang.


" Iya nin, lebih baik istirahat dulu saja. " Pak lmam menimpali.


" Ya sudah aku antar yuk. " Gendis meraih tangan Anindya yang makin terlihat malu itu. Sekilas matanya menangkap Rio yang terlihat menahan tawanya membuat gadis itu gemes bukan main.


Gendis membawa Anindya ke sebuah ruangan kecil yang berisi dua buah ranjang kecil yang di khususkan untuk pegawai yang tidak enak badan di tengah pekerjaannya yang ingin beristirahat barang sebentar.


" Kamu tiduran dulu saja disini. " Gendis membantu Anindya untuk merebahkan badannya. Sungguh Anindya tidak enak hati karena berpura-pura seperti ini.


" Biar aku yang urus Anindya Dis, kamu kembali bekerja saja. " pinta Rio yang ternyata mengikuti dari belakang tadi.


" Baiklah Pak Rio. " Gendis mengangguk dan segera meninggalkan mereka berdua.


" Kasian sekali istriku,kecapean ya semalam?" Rio terkekeh. Anindya mendelik kesal. Bisa bisanya Rio tertawa saat ini, padahal ini sesuatu yang sangat memalukan bagi dia.


" Mau teh manis? " tanya Rio sambil memgenggam erat tangan Anindya. Dia duduk di kursi di sebelah ranjang. Menatap wajah Anindya yang terlihat pucat.

__ADS_1


" Mau " Anindya mengangguk manja.


Rio segera menelepon Dodo untuk segera membuatkan secangkir teh manis dan mengantarnya ke situ.


" Maaf ya sudah membuat kamu kayak gini. " Rio mencium punggung tangan Anindya yang berada di genggamannya.


Anindya tersenyum malu. Dia tidak menyangka akan mengalami hal ini setelah malam pertamanya. Sungguh memalukan.


" Tapi nanti malam masih bisa kan? " tanya Rio tersenyum Nakal dan di sambut cubitan kecil di pinggangnya.


" Kamu nakal banget sih. " Anindya melotot manja ke arah Rio.


" Kalau enggak nakal gak bakal bisa kaya gini sama kamu. " Rio tertawa kecil.


" Dasar genit. " Anindya mencubit pipi Rio gemas. Dunia serasa milik berdua bagi pengantin baru ini. Dimana pun dan kapan pun rasanya ingin berduaan terus.


" Tadi kamu mau apa masuk ke ruanganku? "


" Kangen kamu... Gak kuat pengen lihat kamu. " Rio menggoda Anindya dengan senyum manisnya. Membuat gadis itu terkesiap, tidak menyangka akan merasakan rasa cinta yang begitu membuncah pada Rio seperti sekarang ini.


" Ihhh gombal deh. " Anindya mengerlingkan matanya.


Rio terlihat semakin gemas melihat wajah cantik istrinya. Suasana sepi hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Terbersit pikiran Nakal di otaknya. Kenapa tidak memanfaatkan situasi ini.


Anindya melotot mengetahui apa yang ada dipikiran suaminya ini. Dia hanya terpejam ketika Rio mulai mendekatkan wajahnya. Merasakan hembusan nafasnya mulai menerpa pori pori wajahnya. Bibir mereka sudah menempel satu sama lain ketika tiba tiba terdengar gagang pintu di buka dari luar. Refleks Rio memundurkan badannya segera. Sementara Anindya menahan tawanya. Terlihat Dodo membawa segelas teh manis diatas nampan.


" Ini pak teh nya. " Dodo menaruh gelas teh diatas meja kecil di pinggir tempat tidur.


" Cepet banget Do bikin tehnya. " Rio terlihat kesal hasratnya tadi terganggu.


" masa sih pak. " Dodo menggaruk kepalanya yang tak gatal, perasaan tadi dia sempat beli gula dulu keluar karena stok gula ternyata habis. Tapi Rio malah menilai dia cepat. Ini sindiran atau pujian? Dodo memilih cepat cepat meninggalkan ruangan itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2