
Sudah seminggu tinggal di apartemen membuat Anindya merasakan ketenangan. Walaupun aktifitasnya cuma makan dan tidur yang sebenarnya membuatnya benar-benar bosan. Tapi demi bayi yang di kandungnya ia rela menjalani itu semua.
Tapi rasa rindu akan sosok Rio tak juga berkurang. Bayangan wajah Rio selalu hadir dipelupuk matanya. Tapi kini ia tidak bisa lagi menghubunginya. Vino sudah mengganti nomor handphone nya.
Vino benar bayi yang ia kandung lebih penting dari sekedar egonya sendiri. Lebih baik ia fokus dengan kehamilannya. Dan membiarkan Rio memilih jalan hidupnya. Mungkin dia sudah bahagia sekarang dengan gadis pilihannya. Gendis.
Anindya menarik nafas dalam. Berusaha menguatkan hatinya yang ternyata begitu lemah jika sudah teringat tentang Rio. Disatu sisi dia sangat marah dan benci pada laki laki itu tapi disisi lain dia sangat merindukan hadirnya untuk berada di sampingnya. Menemani masa kehamilannya yang cukup menyiksa.
Pandangan mata Anindya menatap kosong ke arah jendela. Semilir angin sore mengibaskan rambutnya pelan. Apartemen ini cukup besar untuk di huni seorang diri. Perabotan yang lengkap dan tergolong mewah memenuhi seisi ruangan. Vino selalu membawakan apapun yg dia butuhkan. Termasuk bahan makanan yang memenuhi isi kulkasnya. Hingga Anindya tidak usah repot repot keluar untuk membelinya.
Atau jika dia menginginkan sesuatu Anindya tinggal menelpon Vino dan laki laki itu langsung akan datang membawakannya. Atau jika dia tidak bisa pun Vino akan segera menyuruh sopirnya untuk membelikan.
Sungguh secara tidak langsung Vino mengurung Anindya di dalam apartemen itu. Tapi Anindya sendiri tidak menyadarinya.
Dering ponsel yang tergeletak di atas meja membuyarkan lamunan Anindya. Gadis itu menoleh ke arah ponsel terletak. Tertera nama Vino di layar.
" Hallo!"
"Gak usah Vin, aku sudah makan tadi."
__ADS_1
" Ya kamu bawa buat sendiri saja."
Anindya menutup pembicaraan. Vino menawarinya nasi goreng untuk makan malam mereka. Tapi Anindya sedang tidak ingin makan nasi goreng dan menolak tawaran Vino.
Di saat begini Anindya kangen sama kedua orangtuanya. lngin pulang tapi ia takut di tanyai hubungannya dengan Rio. Pulang sendirian justru akan menimbulkan kecurigaan orang tuanya.
Dia yakin Rio pun pasti belum cerita tentang masalah rumah tangga mereka. Setiap kali ia menelpon orang tuanya selalu saja menanyakan keberadaan Rio dan Anindya harus memutar otak untuk mencari alasan agar orang tuanya tidak curiga kalau sebenarnya mereka sudah pisah rumah.
Terdengar suara pintu terbuka. Vino masuk ke dalam dengan menenteng sebuah bungkusan. Anindya melihat sekilas kearah lelaki itu. Vino nampak tersenyum ke arah Anindya yang sedang duduk menonton televisi.
" Beneran kamu gak laper?" tanya Vino menuang nasi goreng ke atas sebuah piring.
" Aku udah kenyang,kamu makan sendiri saja." Anindya berteriak kecil dengan pandangan mata tetap tertuju ke arah layar televisi.
Vino membawa piring nasinya ke depan televisi dan duduk di samping Anindya. Gadis itu beringsut menjauhi Vino.
Vino melirik sekilas ke arah Anindya. Semula ia mengacuhkan kelakuan wanita itu. Tapi terlihat raut wajah Anindya yang ternyata tidak enak dilihat membuat Vino mau tidak mau bertanya dengan apa yang tengah terjadi.
" Kamu kenapa Nin?" Vino menghentikan makannya.
__ADS_1
Anindya diam saja. Dia sendiri tidak tahu kenapa moodnya bisa sejelek ini.
" Hei,,,apa ada yang salah denganku?" Vino makin penasaran melihat Anindya hanya terdiam.
" maaf ya Vin, aku ngantuk, aku mau tidur. " Anindya beranjak menuju kamarnya. Ada rasa bersalah hinggap dalam dirinya. Entah lah kenapa dia seperti ini. Mungkin lebih baik diam dan memilih meninggalkan Vino sendirian daripada sikapnya makin kelihatan jutek di depan Vino.
Vino hanya bisa melongo di tinggal Anindya masuk ke dalam kamarnya. Sederet pertanyaan memenuhi otaknya. Dia sudah tidak bernafsu melanjutkan makannya. Di letakkan piring yang masih di penuhi nasi goreng itu dengan kasar di atas meja. Hingga bunyinya sedikit mengagetkan Anindya yang sudah terbaring di atas tempat tidur.
Anindya merasa bersalah telah membuat Vino salah paham. Tapi biarlah besok saja dia jelaskan semuanya.
Sementara Vino masih berpikir keras mencoba mengingat kesalahan apa yang sudah dia perbuat hingga Anindya marah seperti itu.
***
Sementara di rumah lainnya.
Rio tak juga mampu terlelap meski ia sudah berusaha keras. Bayangan Anindya selalu muncul mengganggu tidurnya hampir tiap malam. Apalagi semenjak nomor Anindya tidak bisa di hubungi dia sudah seperti orang gila. Tiap pulang kerja selalu dia habiskan untuk berkeliling mencari keberadaan Anindya.
Bahkan baru pulang ke rumah setelah larut malam. Keadaan ini sungguh menyiksanya. Rasa rindu ini sungguh jadi hukuman terberat baginya. Andaikan waktu bisa di putar ulang ia akan memilih melupakan kejadian Vino dan Anindya. Dia akan memilih untuk pura pura tidak tahu dan membiarkan semua berlalu agar Anindya bisa tetap berada di sampingnya.
__ADS_1
Rasa penyesalan ini sungguh datang terlambat disaat semuanya telah hilang dari dirinya.
Bersambung