
Beberapa pasang mata menatap Vino dan Cindy yang sedang makan malam di sebuah restoran yang terbilang cukup mewah.
Cindy dengan penampilan yang menawan cukup mengundang perhatian kaum adam. Vino bahkan merasa sedikit cemburu ketika ada beberapa laki laki yang mencuri pandang ke arah Cindy.
Vino melirik ke arah laki laki yang duduk di meja sampingnya. Dia terlihat geram saat laki laki itu menatap Cindy tak berkedip, bak harimau yang siap menyantap mangsanya.
Vino meraih tangan Cindy dan mengecupnya perlahan. Membuat gadis itu tersipu malu. Vino tersenyum penuh kemenangan saat terlihat laki laki itu memalingkan mukanya.
Jangan pernah memandangi wanitaku seperti itu.
" Kamu senang menjadi pusat perhatian para laki-laki itu." Vino cemberut.
" Hah?" Cindy tidak mengerti apa maksud Vino. Perasaan dia merasa biasa biasa saja.
" Ah sudahlah jangan di bahas." Vino tidak mau kalau ia ketahuan cemburu.
Iiih gak jelas banget nih orang.
" Kamu suka makanan disini?" tanya Vino saat mereka selesai makan.
" Enak aku suka." jawab Cindy mengangguk.
" Besok kalau bisa aku ingin ngajak keluarga besar kita makan malam bersama." Cindy tersenyum dan menunggu reaksi Vino dengan hati berdebar.
" Apa?"
" Kamu tidak setuju?" tanya Cindy.
" Bukan begitu, rasanya berbanding terbalik saja dengan usaha kita yang justru ingin membatalkan pernikahan." desah Vino.
Cindy terhenyak. Saat ini ia merasa sepertinya Vino berjalan berlainan arah dengannya
" Ya kalau kamu gak suka juga gak apa-apa." Cindy lirih dan sedikit kecewa. Ia jadi ragu dengan perasaan Vino yang mungkin saja tidak menyukainya.
" Boleh saja sih, menjaga silaturahmi dua keluarga kan tidak ada salahnya." Ucap Vino akhirnya.
Cindy menarik nafas lega. Tapi tetap saja ia merasa sedih.
Kenapa aku jadi berharap lebih pada Vino? Bagaimana kalau seandainya Vino tidak menyukaiku? Sadar diri Cindy.
Cindy bergumam dalam hatinya yang mulai merasakan keresahan menyelinap. Gadis itu melirik Vino sekilas.
Kenapa kegantengan Vino makin bertambah tiap harinya. Ya ampun aku semakin menggilainya.
" Ehem." Vino pura pura batuk.
__ADS_1
Cindy terkejut, ia memalingkan mukanya ke arah lain. Wajahnya terasa menghangat.
" Tidak usah di lihatin terus, aku memang ganteng." Ucap Vino menggoda.
Cindy memutar bola matanya. Ya ampun pede banget cowok ini.
" Awas nanti jatuh cinta loh." Vino mesem.
" Oh iya aku lupa, seganteng gantengnya aku kamu tetap gak bakal suka sama aku kan." Vino menarik nafas pelan.
Cindy terdiam dan menatap nanar wajah Vino. Andai Vino tahu kalau ia sudah berubah. Andai laki laki itu menyadari kalau ia telah jatuh cinta padanya.
Sebagaimana perempuan pada umumnya ia tidak punya keberanian yang cukup besar untuk menyatakan perasaannya. Ia takut kalau ternyata Vino menolaknya.
Sabar Cindy kamu butuh keyakinan kalau Vino juga menyukaimu
Cindy sendiri belum yakin dengan perasaan Vino padanya. Bisa jadi Vino tidak menyukainya sama sekali. Bisa jadi sikapnya sekarang adalah kamuflase yang hanya ingin menghargai perasaannya. Cindy tidak mau gegabah menyimpulkan.
" Kamu pernah menyukai lawan jenismu?" Tanya Vino hati hati takut menyinggung perasaan Cindy.
Cindy menarik nafas dalam. Pandangan matanya menerawang ke beberapa tahun silam.
" Kalau kamu tidak mau cerita, gak usah cerita." Vino mengusap tangan Cindy. Dia tidak tegas melihat wajah sendih Cindy.
" Aku pernah mencintai seseorang, bahkan kami sempat mau nikah. Tapi semuanya gagal, karena laki laki itu pergi membatalkan semuanya demi kekasihnya yang lain." Air mata Cindy menetes perlahan membasahi pipinya.
Vino tidak menyangka kalau ternyata Cindy menyimpan luka yang begitu dalam selama ini. Dia kira, hanya dia yang mempunyai cerita kelam di masa lalu.
Vino menggeser posisi duduknya kesamping Cindy, memeluk tubuh perempuan itu. Mengusap rambutnya dengan lembut.
" Maafkan aku sudah membuka luka lamamu." gumam Vino.
Cindy masih terisak. Dadanya masih terasa sesak mengingat kejadian itu. Tapi Cindy segera berusaha mengendalikan hatinya agar kembali tenang.
" Tidak apa apa Vin, semuanya cuma masa lalu. " Cindy berusaha tersenyum dan mengusap air matanya agar tidak terus mengalir. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Vino sudah tidak perduli lagi.
" Jadi itu yang kemudian membuatmu berubah?" tanya Vino perlahan.
Cindy mengangguk sedih. Vino terdiam, dia baru mengerti semuanya kini.
" Kamu tidak ingin sembuh?" tanya Vino lagi.
Aku sudah sembuh Vin, aku sudah mencintaimu.
Cindy terdiam dan berpikir sejenak. Kata hatinya menginginkan untuk jujur kalau ia ingin menikah dengan Vino, tapi harga dirinya masih menahan dia untuk jujur. Cindy tidak bisa berkata apa, dia sendiri bingung harus bilang apa.
__ADS_1
" Kok diam?" Vino melirik ke arah Cindy di sampingnya.
" Selalu ada keinginan untuk kembali menjadi aku yang dulu. Tapi ketakutan itu selalu muncul, aku juga takut salah pilih lagi menitipkan hatiku pada orang lain." Cindy lirih.
Dalam hatinya berkecamuk perasaan galau yang sulit di gambarkan dengan kata kata. Apalagi saat tersirat penolakan Vino dari setiap perkataannya.
Vino menyesap jus mangga di hadapannya. Sambil mencoba memikirkan semuanya. Ada keinginan di hatinya untuk menjadi penyembuh luka itu. Tapi dia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Ia takut mengecewakan Cindy lagi dan membuat luka itu semakin dalam.
" Jangan takut tidak semua laki laki jahat. masih banyak laki laki yang baik yang akan memperlakukanmu dengan baik." Bisik Vino dia kembali menarik Cindy dalam pelukannya.
Dan kuharap laki laki itu kamu Vin.
*****
" Sayang coba dengarkan ini." Rio masuk ke dalam kamar dengan membawa ponselnya. Suara murottal terdengar merdu.
Anindya tersenyum melihat suaminya muncul dari balik pintu. Rio yang terlihat santai dengan hanya memakai t-shirt dan celana boxer.
" Apa yang di dengar ibu di dengar juga oleh Dede bayi, semoga anak kita jadi anak yang shaleh ya." Rio mengelus perut Anindya.
Anindya tersenyum. Teringat saat dokter kandungan yang memeriksanya memberi tahu kalau anak mereka laki laki.
" Monas pak." kata dokter waktu itu.
Rio celingak-celinguk tak mengerti.
" Maksud dokter?"
Dokter itu tertawa. Pasangan muda ini memang masih belum mengerti apa apa tentang istilah plesetan yang sering para dokter gunakan.
" Anak Bapak lnsyaAllah laki laki."
Rio baru mengerti dan tertawa mendengar dokter mengatakan monas. Dia kira apa tadi.
" Alhamdulillah, keinganan saya terkabul dokter." Rio terlihat sumringah.
Anindya ikut senang mendengarnya. Walaupun ia kalah taruhan dengan suaminya. Dulu saat sebelum di ketahui jenis kelamin anak yang di kandungnya mereka pernah bertaruh, Rio bertaruh untuk laki laki dan Anindya bertaruh untuk perempuan. Siapa yang kalah harus menuruti semua permintaan pemenang.
Kini Anindya yang kalah dan harus mengikuti keinginan si pemenang.
" Sayang kamu ingin minta apa dariku?" tanya Anindya sambil bersandar di dada Rio.
" Nanti saja, permintaanku masih rahasia." Rio mengecup kepala Anindya.
" Jangan yang aneh aneh ya." pinta Anindya.
__ADS_1
" Hemmm lihat nanti saja." Rio tersenyum nakal.
Anindya mengerling manja.