
Rio masih belum masuk kerja. Menurut Vino Rio mengajukan cuti beberapa hari. Anindya merasa sedikit risih ketika teman teman kerjanya bertanya perihal cutinya Rio. Dasar manusia, jiwa keponya begitu tinggi tentang urusan orang lain. Dia bilang saja kalau Rio sedang pulang kampung karena urusan keluarga. Padahal ia sendiri tidak tahu di mana Rio berada sekarang.
" Ada urusan apa mas Rio pulang Nin?" tanya Gendis, manusia paling kepo tentang Rio.
" Urusan keluarga." jawab Anindya singkat.
" Ya apa? " tanyanya lagi makin penasaran.
Anindya memutar otak memikirkan kebohongan apalagi yg akan dia buat. Tidak mungkin kan kalau dia jawab tidak tahu. Sedangkan setahu mereka, dia dan Rio satu keluarga, tidak mungkin tidak tahu alasan Rio pulang kampung.
" Saudara Rio nikahan " jawab Anindya setelah berpikir beberapa detik.
" Kok kamu gak ikut?" Gendis mengernyitkan alisnya.
" Yang nikah saudara bapaknya Rio, aku kan saudara dari ibunya Rio. " jawab Anindya.
Ya ampun dia terkagum kagum dibuatnya oleh kemampuan dirinya berbohong. Kadang bakat itu muncul ketika tengah terdesak. Uppss untuk bakat yang satu ini sebaiknya jangan ditiru ya.
" Ooohhh..." Gendis mengangguk. Gadis itu sepertinya percaya dengan semua kebohongan Anindya. Anindya tersenyum geli.
Tiba tiba Anindya merasa mual. Kelenjar ludahnya seperti memproduksi air liur dua kali lipat lebih banyak. Untung di tas Anindya membawa bakal mangga muda yang ia sengaja beli tadi malam dari toko buah.
Anindya melahap potongan mangga muda seperti memakan potongan buah yang manis. Tak tampak sedikit pun raut muka keasaman dari rasa mangga muda tersebut.
Gendis sampai melongo melihat kelakuan Anindya. Dia sendiri yang cuma melihat merasa ngilu di buatnya.
" Nin,,,itu mangga muda kan?" tanya Gendis tak percaya dengan penglihatannya. Dia menelan ludahnya sendiri melihat Anindya melahap potongan mangga itu seperti kerupuk.
" Ini pizza sayang." Anindya nyengir.
__ADS_1
" Kamu kayak orang ngidam aja sih Nin." Gendis meringis merasakan ngilu di giginya. Dia tersugesti dengan pikirannya sendiri.
Anindya menghentikan kunyahannya. Dia sadar dengan cara seperti itu pasti orang orang akan curiga. Dan meyakini kalau dirinya benar benar hamil. Anindya dengan cepat memasukkan stok mangga mudanya ke dalam tas. Dia memutuskan hanya akan memakannya ketika ia mual dan sangat ingin memakannya.
" Memangnya hanya orang hamil saja yang makan mangga muda?" Anindya mencoba berkilah. Dia mencoba bersikap sesantai mungkin dan tidak ingin terlihat gugup agar kebohongannya tidak terbongkar.
" Iyalah,,,orang waras mana mungkin makan mangga muda selahap itu." jawab Gendis masih diliputi rasa penasaran.
" Jadi maksud kamu aku ini gak waras? wah parah kamu Dis ngatain teman sendiri gila." Anindya sengaja merajuk agar Gendis malas melanjutkan bahasannya tentang mangga muda. Dan berhasil Gendis sepertinya masuk dalam perangkapnya dan tidak bernafsu lagi mencecar Anindya dengan pertanyaan pertanyaan penuh selidik.
Anindya menarik nafas lega. Sepertinya dia baru saja keluar dari tekanan berat.
Masa masa menjadi ibu hamil memang cukup berat di rasakan Anindya. Apalagi dia harus menjalaninya sendiri. Paling menyiksa kalau ia sedang ngidam seperti saat ini.
Sepulang kerja tadi dia langsung tiduran. Tubuhnya terasa lelah meskipun pekerjaannya di kantor tidak melelahkan sama sekali. Menjelang Maghrib dia baru terbangun dan tergesa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Semakin dibayangkan semakin kuat keinginannya untuk mencicipi semangkuk bubur ayam komplit itu. Serasa sudah di ujung lidah Anindya menelan ludahnya sendiri.
Harus mencari kemana malam malam begini. Mencari di aplikasi online pun tidak ada. Seandainya ada Rio.
Anindya meraih ponselnya. Biarlah, dia akan mencoba menghubungi suaminya itu. Barangkali saja dia sudah luluh. Sekaligus dia ingin tahu kabar dan keberadaannya sekarang.
Nomor yang ada tuju sedang tidak atif....
Anindya mencoba sekali lagi, tapi tetap hanya operator provider yang menjawab panggilannya.
Anindya mendesis kesal. Dia merasa Rio begitu kejam padanya.
Tahukah kamu Rio,aku sedang mengandung anakmu sekarang,dan aku ngidam bubur ayam hik hik hik...
__ADS_1
Anindya keluar dari kostnya. Dia akan coba mencari,siapa tahu di dekat kostnya itu ada tukang bubur ayam. Dengan semangat dia berjalan ke depan. Beberapa pasang mata anak muda memandangnya penuh takjub. Bahkan ada beberapa yang berani menggodanya. Anindya tidak peduli. Yang ada di otaknya hanya ada bubur ayam. Sepanjang jalan yang ia telusuri tak satupun ada kedai bubur yang buka.
Sampai kakinya terasa lelah dan capek. Tubuhnya terasa gemetaran. Anindya sudah tidak kuat lagi berjalan. Ternyata sudah lumayan jauh dia berjalan meninggalkan tempat kostnya.
Rasanya tidak mungkin dia kembali dengan jalan kaki lagi. Mau tidak mau dia menunggu taksi atau angkutan umum yang lewat.
Tapi tiba tiba sebuah mobil berhenti tepat d dekat ia berdiri. Mobil Vino.
" Ayo naik." Vino membuka kaca mobilnya.
Anindya tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam mobil. Vino jadi dewa penyelamatnya malam ini.
*****
Di sebuah Vila di kawasan puncak Bogor. Rio duduk termenung memikirkan nasib pernikahannya yang baru seumur jagung. Kebahagiaan yang baru saja di reguk harus hancur oleh kehadiran orang ketiga. Yang sialnya orang itu Direktur di tempatnya bekerja.
Ia sengaja mengambil cuti beberapa hari ini untuk menenangkan diri. Dan yang utama di malas bertemu Vino. Jabatannya sebagai menejer mengharuskan dia untuk selalu bertemu dengan Vino. Dan dia muak dengan semua itu.
Ia membayangkan isterinya tidur dengan laki laki itu dan membuatnya hampir gila karena menahan luapan emosi dalam dirinya. Untuk itu dia memutuskan beristirahat. Bahkan ponselnyapun ia non aktifkan karena benar benar merasa tidak ingin di ganggu.
Rio berdiri menikmati pemandangan hamparan kebun teh yang terbentang luas terlihat dari balkon vila tempatnya menginap. Suasana senja yang dihiasi lembayung berwarna jingga membuat langit tampak begitu indah. Sejenak dia lupa permasalahan hidupnya. Andai waktu bisa di putar ia tidak akan pernah mengijinkan Anindya pergi makan malam dengan Vino waktu itu. Mungkin saat ini dia tengah menikmati bulan madunya bersama Anindya di vila ini. Liburan yang sudah ia rencanakan jauh jauh hari sebelum kejadian itu menimpa.
Tapi kini ia hanya seorang diri menikmati pemandangan seindah ini. Seandainya ada Anindya di sampingnya saat ini. Ah,dia rindu sekali pada gadis itu. Sedang apa dia sekarang?
Rio mengambil ponsel yang ia taruh di atas meja. Bermaksud ingin melihat foto foto Anindya di dalamnya. Sebagai pengobat rasa rindunya.
Tapi niatnya ia urungkan seketika. Dia khawatir rasa rindunya akan semakin menjadi dan membuatnya segera ingin mengakhiri liburan ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1