
" Kamu sudah berubah Cin." Dewi mengeluh. Dia menyadari perubahan sikap Cindy yang kini lebih dingin padanya.
"Apa karena laki-laki itu?" Selidik Dewi.
Cindy masih terdiam. Ia pun bingung harus mengatakan apa pada Dewi.
" Cin, jawab aku." Dewi meraih tangan Cindy dalam genggamannya.
Cindy perlahan menarik tangannya dari genggaman Dewi, entah kenapa perasaan risih tiba-tiba muncul di hatinya. Dewi menatap nanar penolakan Cindy.
" Maafkan aku Dewi." ucap Cindy pelan. Ia tertunduk tak berani menatap netra coklat mata Dewi yang tengah memandang tajam ke arahnya.
" Jadi benar laki laki itu penyebabnya?" tanya Dewi lagi.
Cindy tertunduk, ia seperti seorang pesakitan yang tengah di adili. Tak tahu harus berkata apa dan tak tahu harus bagaimana.
" Aku ingin sembuh." ucapnya lirih.
Dewi membuang nafas kasar. Dia mengepalkan tangannya menahan kesal. Kalau saja Vino ada di depannya sekarang ingin sekali ia menghajar pria yang menurutnya telah merebut kekasihnya itu.
" Jadi kamu mau ninggalin aku?" tanya Dewi kalut.
"Cin, semua cowok itu sama. Egois, penghianat, kamu tidak ingin masuk ke lubang yang sama dua kali kan?" Dewi bangkit dari duduknya.
" Pikiran sekali lagi Cin, jangan sampai kamu menyesal." Dewi berusaha meyakinkan.
Cindy mulai terisak. Ia juga sempat ragu sebelumnya. Tapi hatinya tidak bisa di bohongi kalau sekarang ia sudah jatuh cinta pada Vino. Ia ingin memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk mencoba lagi mencintai laki laki. Ia akan menerima semua resiko yang ada nantinya, termasuk untuk merasakan sakit hati kembali. Ia sudah siap dengan semuanya.
" Maaf Dewi kalau aku sudah menyakiti hati kamu. Kamu benar aku memang memilih untuk berubah menjadi aku yang dulu. Tolong ikhlasin aku." Cindy memegang lengan Dewi berusaha menenangkan perempuan itu.
Dewi mengibaskan tangan Cindy, sekilas menatap tajam ke arahnya. Lalu pergi dengan perasaan hancur. Meninggalkan Cindy yang tengah terisak sendirian di apartemennya.
Dewi berjalan keluar dengan perasaan hampa. Tidak menyangka kalau hubungannya kembali kandas. Cindy yang ia harapkan akan menemaninya sampai tua ternyata malah pergi meninggalkannya
Sepeninggal Dewi, Cindy termenung. Keresahan menggerogoti hatinya. Apakah tindakannya sudah benar, atau hanya emosi sesaat.
Cindy hanya bisa berdoa dalam hati agar keputusannya kali ini tidak salah lagi.
Cindy menatap bayangan wajahnya dalam cermin. Mengusap kedua pipinya dengan lembut. Kali ini ia berhak bahagia. Bayangan masa lalu perlahan ia singkirkan dari ingatannya.
Drrttt.
Seseorang menelponnya. Terlihat tulisan Vino terpampang di layar ponselnya. Hatinya mendadak berbunga.
" Ya hallo Vin."
"Kamu di mana?"
" Aku di apartemen."
" Aku kesitu sekarang."
__ADS_1
" Iya, aku tunggu." Cindy tersenyum senang. Entah sejak kapan perasaan ini muncul dan berkembang hingga sejauh ini. Vino yang sedikit arogan tapi berhati lembut telah mencuri hatinya.
Selang setengah jam pintu apartemen di ketuk dari luar. Cindy segera membuka pintu. Terlihat Vino berdiri dengan memakai kemeja dan jasnya. Rupanya pulang kerja Vino langsung menemuinya.
" Masuk Vin." Cindy mempersilahkan Vino untuk masuk ke dalam.
Vino tanpa pikir panjang segera masuk dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Wajahnya memancarkan keresahan.
" Ada apa?" tanya Cindy penasaran.
Vino menghembuskan nafas kasar. Ia menyandarkan kepalanya ke sofa lalu melirik ke arah Cindy yang tengah duduk di sampingnya.
" Gawat Cin..." ucap Vino lesu.
" Kenapa?" Cindy makin penasaran.
" Papa bilang akan mempercepat pernikahan kita Cin." ucap Vino terlihat bingung.
" Terus?"
" Kok terus? kita harus gimana?" Tanya Vino mulai panik.
" Ya... gimana lagi." Cindy menjawab tidak jelas karena memang dia sebenarnya bahagia.
" Hei,,, kamu tidak bermaksud menyetujui pernikahan ini kan?" selidik Vino.
" Ah,,,a,,aku ikut kamu saja." jawab Cindy gugup.
Bagaimana aku bisa berpikir Vino kalau kenyataannya aku justru senang kalau akan menikah denganmu.
" Vin..."
" Apa?" Vino menatap Cindy dengan tajam.
" Ah,,, tidak jadi." Nyali Cindy tiba tiba ciut melihat Vino yang sedang sewot. Mungkin sekarang ini bukan saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya.
Bagaimana kalau ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Bagaimana kalau ternyata Vino menolaknya. Pikiran pikiran itu mulai berputar putar dalam otaknya. Membuatnya ragu untuk memulai semuanya.
Cindy pergi ke dapur untuk menyiapkan segelas coklat hangat. Siapa tahu dengan meminumnya membuat Vino sedikit relax.
" Minum dulu Vin." Cindy menyodorkan coklat hangat bikinannya.
Vino melirik, ia lalu mengambil dan meminum sedikit coklat itu. Terasa hangat di tenggorokan.
" Rebahkan kepalamu disini." Cindy menepuk lahunannya.
Vino terdiam,tidak mengerti maksud Cindy.
" Ayo tidur di lahunanku." Cindy tidak sabar dan menarik lengan Vino.
" Kamu mau apa?" Vino mau tidak mau menuruti keinginan Cindy.
__ADS_1
Cindy tidak menjawab melainkan mulai memijit kepala Vino dengan lembut. Vino memejamkan matanya merasakan pijatan Cindy yang lumayan enak.
" Kamu ada bakat jadi tukang pijat." goda Vino sambil tersenyum.
Cindy menyunggingkan senyum manisnya. la bersyukur Vino mulai terlihat santai dan menikmati pijatannya.
" Kalau aku jadi tukang pijat, maka aku akan jadi tukang pijat dengan tarif termahal di dunia." Cindy terkekeh.
" Waah bisa jadi pijat plus plus itu." Vino mencibir.
" Enak aja." Cindy mencubit lengan Vino membuat laki laki itu meringis kesakitan.
" Kalau tukang pijatnya secantik kamu aku rela bayar mahal." Vino tersenyum menggoda.
Cindy tertawa. la merasa bahagia mendengar gombalan Vino barusan. Walaupun ia tahu Vino hanya bermaksud menggodanya.
" Vin, aku lapar." Rengek Cindy.
" Ayo cari makan, kamu mau makan apa?" Vino duduk.
" Apa saja, aku bukan tipe cewek pemilih makanan." Jawab Cindy santai.
" Ya sudah, ayo pergi, aku juga sebenarnya sudah lapar."
"Sebentar ya aku ganti baju dulu." Cindy masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju dan memakai sedikit riasan di wajahnya.
Cindy tersenyum. Dia mengoleskan lipstik berwarna pink ke bibirnya yang seksi. Bersyukur pada Tuhan yang telah menganugerahkan kesempurnaan wajah untuknya.
Malam ini Cindy memakai Dress warna dusty pink selutut dengan bahu kirinya yang terbuka. Tubuhnya yang ramping menjadi kian seksi terlihat.
" Ayo." Cindy keluar dari kamar.
Vino yang tengah asik memainkan ponselnya sedikit terperangah melihat penampilan Cindy yang begitu anggun.
" Waaaahh dengan penampilan seperti ini rasanya aku harus membawamu makan di restoran mewah, padahal tadinya mau aku ajak makan di warung pinggir jalan." seloroh Vino yang tak mengalihkan pandangannya dari Cindy.
" Masa sih Vin, ya udah aku ganti baju lagi kalau gitu." Cindy terlihat kikuk dan hendak kembali ke kamar.
Vino segera menarik tangan Cindy, dan membawa lebih dekat dengannya.
" Jangan, kamu terlihat cantik seperti ini."
Cindy tersipu malu. Ia menundukkan pandangannya.
" Ayo berangkat."
**BERSAMBUNG
Yang kangen kisah Vindy ( Vino - Cindy) akan di hadirkan berselingan ya...
Terima kasih sudah mengikuti novel ini sampai sejauh ini. Jangan bosan untuk mendukung dengan cara like, komen, ataupun vote ya**.
__ADS_1