
Cindy sangat menikmati perlakuan istimewa dari mamanya Vino. Perempuan paruh baya itu begitu baik padanya. Bahkan memperlakukannya seperti anaknya sendiri.
Berulang kali Vino berdehem saat ibunya bersikap berlebihan. Mungkin efek karena dari dulu mamanya itu ingin sekali mempunyai anak perempuan.
Cindy hanya tersenyum melihat Vino yang sepertinya iri melihat perlakuan mamanya terhadapnya.
"Segeralah kalian menikah, mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu."
Cindy tersipu malu mendengarnya, melihat ke arah Vino yang sepertinya terlihat cuek tanpa menanggapi sepatah katapun. Menyebalkan.
Cindy mengusap lengan ibunya Vino yang duduk di sampingnya. Menatap netra coklat perempuan itu. Terlihat sebuah harapan besar tersirat di situ. Cindy merasa tidak enak dibuatnya.
" Cindy ikut saja Tante, kapanpun Vino akan menikahi Cindy, Cindy siap." Kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Cindy, membuat Vino terperangah. Jangan kan Vino, Cindy pun tidak percaya kalimat itu keluar dari bibirnya sendiri.
Cindy menutup mulut dengan tangannya, dia menoleh ke arah Vino yang tengah menatap tajam ke arahnya. Kesepakatan yang telah mereka buat sepertinya akan menemui kendala yang cukup berat. Vino terlihat geram karena dengan pernyataan Cindy barusan posisinya akan terpojok. Jika ia membatalkan pernikahan pastilah ia akan menjadi pihak yang di salah kan oleh kedua belah pihak.
Cindy terlihat salah tingkah mendapat tatapan geram dari Vino. Tapi pelukan dari ibunya Vino menyelamatkannya sementara waktu.
Perempuan itu sepertinya senang sekali mendapat lampu hijau dari Cindy. Tugasnya kini membujuk Vino agar segera menikahi Cindy secepatnya.
Vino beranjak keluar rumah. Dia sudah tidak kuat menahan marahnya. Dengan telunjuknya ia menyuruh Cindy mengikutinya keluar rumah.
Cindy menggeleng pelan takut hal ini di ketahui mamanya Vino. Sekaligus ia juga takut Vino pasti akan memarahinya habis habisan.
Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Batin Cindy.
Omongan Mamanya Vino hanya di jawab seperlunya karena pikirannya kini telah terbagi.
Drrrrtt....
Ponselnya bergetar. Terlihat di layar Vino memanggil. Cindy sudah terlihat pucat. Habislah ia.
__ADS_1
Aku tunggu di taman belakang, cepat kesini!
Cindy membaca tulisan di layar ponselnya. Rasanya mau kabur saat itu juga. Tapi kalau ia melakukannya pasti akan menambah kemurkaan Vino padanya.
Dengan langkah gemetar Cindy menghampiri Vino yang sudah berdiri di tepi kolam renang. Laki laki itu masih membelakanginya. Terlihat punggung yang begitu kekar. Jantung Cindy berdegup kencang, antara tegang dan kagum dengan tubuh atletisnya Vino.
" Maafkan aku Vin?" ucap Cindy perlahan. Bibirnya mendadak kelu karena menyadari kesalahannya barusan.
Vino mendengus kesal. Bisa bisanya wanita seperti Cindy menantangnya untuk menikah.
" Kamu mau cuci tangan dengan menimpakan semua kesalahan padaku hah?" tanya Vino geram.
" Bukan,,, bukan begitu maksudku." jelas Cindy tergagap.
Cindy bingung harus menjelaskannya bagaimana. Dia juga tidak tahu kenapa ia bisa sampai bicara seperti itu. Mungkin ia terbawa perasaan melihat ibunya Vino yang sangat ingin seorang cucu dari Vino.
Vino mendorong tubuh Cindy ke tembok di samping kolam renang. Gadis itu terlihat sedikit ketakutan tapi berusaha untuk tetap tenang melihat kilatan amarah di mata Vino.
Cindy yang terpojok bersandar di tembok dengan Vino yang berdiri dekat di hadapannya. Tangan kanan Vino menempel di tembok tepat di samping telinga kirinya.
" Maafkan aku Vin." Bibir Cindy bergetar. Wajahnya pucat pasi. Dia tidak mengira Vino akan semarah itu.
Vino menatap lekat mata Cindy yang terlihat indah, bola matanya yang besar dengan bulu mata lentik dan lebat. Membuatnya terlihat seperti wanita timur tengah.
Vino menyadari wanita itu sudah ketakutan. Hati Vino yang sebenarnya lembut tidak tega melihat Cindy yang ketakutan seperti itu. Timbul keinginan untuk menggodanya.
Vino mendekat kan wajahnya ke arah Cindy. Wanita itu terlihat salah tingkah.
" Kalau kamu sanggup menikah denganku kapan saja, itu artinya kamu bisa mengandung anakku dan siap meninggalkan duniamu?" tanya Vino di telinga Cindy.
Cindy tertegun. Ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Namun tatapan Vino seakan membius dirinya.
__ADS_1
Vino menatap bibir merah menggoda milik Cindy. Kenapa ia begitu menyukainya. Sejak kejadian di hotel ia terus saja mengingatnya dan terus menginginkannya bila ada kesempatan.
Tatapan Cindy bergerak bergantian antara mata dan bibir Vino. Sepertinya ia menjadi gila kini. Saat saat di hotel kemarin begitu ia inginkan saat ini.
Perlahan gunung es di hatinya telah mencair. Entah dengan cara apa Vino telah membuka gembok di hatinya yang telah lama terkunci rapat.
Tatapan Vino mampu membuat Cindy hilang kendali atas dirinya. otaknya menolak tapi tubuhnya menerima dengan baik semua sentuhan sentuhan Vino.
Seperti saat ini, otaknya memberontak tapi tubuhnya malah meminta lebih. Ya Tuhan sihir apa ini, gumam Cindy dalam hati.
Vino kian mendekat. Nafasnya kita terasa menerpa di kulit wajah Cindy, membuat pipi gadis itu merona merah.
Cindy memalingkan mukanya saat bibir Vino hampir menyentuh bibirnya. Ini tidak bisa di biarkan. Berada di dekat Vino ia merasa menjadi orang lain. Kemana perginya Cindy yang dulu?
Vino kecewa, diraihnya pipi Cindy agar kembali menghadap ke arahnya. Kali ini tidak mau dilepas begitu saja. Vino langsung menyerang Cindy habis habisan, sampai nafas gadis itu tersengal sengal.
" Vino lepas." Jerit Cindy tertahan saat ada kesempatan bibirnya terlepas sesaat dari penguasaan Vino.
Tapi lagi lagi Vino seperti harimau yang rakus memakan mangsanya. Cindy di buatnya tak berdaya dan akhirnya menyerah pasrah menerima dan bahkan membalas perlakuan Vino. Tangannya kini bahkan melingkar di leher Vino. Tembok samping taman menjadi saksi dua insan yang baru saja berusaha menyembuhkan hati masing masing yang terluka.
Keasyikan mereka harus terhenti saat terdengar suara langkah mendekat. Vino segera melepaskan pagutannya dan menjauh dari Cindy.
" Ya ampun mama mengganggu ya." Ibunya Vino yang sudah terlanjur melihat adegan tak senonoh putranya segera berbalik badan dan tersenyum sendiri. Bayanganya untuk segera menimang cucu sepertinya akan segera terlaksana. Ah bahagianya, pikirnya riang.
Vino meremas rambutnya gelisah. Niatnya yang cuma ingin mengerjai Cindy berakhir di luar rencana. Sial, dia jadi kehilangan kendali oleh permainan yang dia ciptakan sendiri. Senjata makan tuan.
Sementara Cindy tertunduk malu. Ia masih merasakan bibirnya yang masih mati rasa dan basah akibat ulah Vino. Tapi ia juga merasakan bunga bunga yang mulai tumbuh bermekaran di atas kepalanya. Cindy merasakan jantungnya telah berdetak lebih kencang dari biasanya.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa like, komen dan Vote nya ya readersku tersayang😘**
__ADS_1