PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
TETANGGA YANG MANIS


__ADS_3

Pagi ini udara terasa agak dingin, maklum semalam hujan turun cukup deras. Anindya mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Sementara Rio baru saja keluar dari kamar mandi dengan masih memakai handuk di tubuhnya. Dia segera memakai baju yang sudah disiapkan Anindya. Hari ini dia ingin berangkat kerja lebih pagi karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor.


" Mas pulangnya beliin aku sate padang ya." Anindya membantu Rio memasang dasi di lehernya.


" Oke sayang." Rio sibuk mengancingkan lengan kemejanya.


Setelah sarapan Rio pamit untuk berangkat kerja. Anindya menatap kepergian Rio hingga mobil Rio menghilang di balik pagar.


" Nak Anin, kapan pulang dari kampung?" Suara Bu Riyanti menghentikan langkah Anindya yang hendak masuk kembali ke dalam rumah.


Anindya mengerutkan dahinya. Dia tidak merasa habis pulang kampung, tapi kenapa wanita itu berpikir ia pulang dari kampung. Ah,mungkin Rio yang bilang seperti itu.


" Oh iya bu, saya baru pulang dua hari yang lalu." Anindya tersenyum bingung.


" Yang sabar ya mbak Anin, namanya rumah tangga pasti ada saja masalahnya. " nasehat Bu Riyanti.


Anindya tersenyum mendengarnya, ia mengangguk meski bingung dengan sikap bu Riyanti itu.


" Makanya jadi perempuan itu harus nurut apa kata suami, jangan ngebangkang terus, bikin suami jengkel saja." celetuk Hani di belakang ibunya.


Anindya terdiam. Ini sebenarnya ada apa sih. Kok tiba-tiba Hani memarahinya seperti itu. Menyebalkan. Rio ngomong apa sih kok bisa Hani menuduhnya istri pembangkang. Pikiran itu berkecamuk di kepala Anindya


Tetangganya yang satu ini selalu berhasil membuat kepalanya sakit. Ada saja celetukannya yang membuat ia emosi. Untung dia dan Rio tidak terlalu ambil pusing. Kalau dulu ia masih bekerja hanya sesekali saja mereka bertemu dalam sepekan. Tapi sekarang setelah resign pastinya ia akan bertemu mereka setiap hari. Anindya sudah bisa membayangkan rasanya seperti apa nanti. Gadis itu memijit pelipis.


" Jangan mentang mentang cantik terus bisa seenaknya sama suami." Celetuk Hani lagi.


Anindya sudah tidak tahan mendengar omongan Hani barusan. Ia pun buru buru masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Terdengar sayup sayup Bu Riyanti mengomeli Hani anaknya perihal perkataannya barusan.


Anindya menarik nafas pelan. Mengaturnya, hingga emosinya yang tadi sudah memuncak perlahan mereda.


Ya ampun bisa bisanya Hani bicara seperti itu. Tidak sopan sama sekali. Beda sekali dengan ibunya yang baik. Anindya mendengus kesal. Ia harus segera konfirmasi tentang hal ini ke Rio.

__ADS_1


" Aku tidak bilang apa apa ke mereka." Rio yang masih dalam perjalanan ke kantor bersikeras tidak bicara macam-macam sama tetangganya itu.


" Tapi kenapa Hani seperti itu ngomongnya? Ngeselin tahu gak?" Anindya sewot, terngiang kembali di telinganya kata kata Hani barusan.


" Masa sih Hani kayak gitu?" Rio seperti tidak percaya kata kata istrinya.


" Ya Ampun mas jadi kamu nuduh aku yang bohong sekarang?" Anindya mulai tersulut emosi.


" Sabar sayang sabar, bukan itu maksudku. Aku tidak menyangka saja Hani punya sifat seperti itu, padahal kalau di depanku dia itu baik banget." jelas Rio menenangkan Anindya.


" Jelas lah orang dia suka sama kamu." Anindya manyun.


Terdengar Rio tertawa. Anindya makin manyun, dia cemburu.


" Aku cuma bilang, kamu sedang pulang kampung saat kamu menghilang dulu, sudah itu saja, selebihnya aku tidak bilang apa apa lagi. Itu paling hanya asumsi Hani saja yang mengira kita sedang berantem, terus kamu pulang kampung ninggalin aku."


Anindya tertegun. Mengingat kejadian kemarin sebenarnya asumsi Hani benar juga. Kejadiannya malah lebih parah dari sekedar tebakan Hani.


Anindya menghela nafasnya. Ia sudah tidak seemosi tadi.


Bagaimana tidak stres kalau punya tetangga seperti itu. Anindya meringis frustasi.


"Ya sudah, kamu hati hati di jalan." Anindya menyudahi pembicaraannya lewat telepon.


" Jangan keluar rumah kalau tidak terlalu penting agar tidak bertemu dengan mereka." Saran Rio.


" Iya" Anindya mengangguk.


Anindya duduk di sofa depan televisi. Dia membayangkan betapa hari harinya akan membosankan tanpa kegiatan apa apa. Sekarang dia benar benar merasakan menjadi seorang ibu rumah tangga seutuhnya. Diam di rumah menunggu suami pulang kerja. Rio tidak mengizinkan ia kembali bekerja. Apalagi dalam keadaan hamil seperti ini.


Anindya mengusap perutnya yang makin membesarkan. Senyum tipis tersungging dari mulutnya. Beruntung sebentar lagi dia akan punya teman, tidak kesepian lagi. Dia hanya perlu menjaga bayinya agar tetap sehat dan berkembang sebagaimana mestinya.


Benar kata Rio dia tidak boleh stres dan banyak pikiran.

__ADS_1


Tok tok tok...!


Suara pintu di ketuk dari luar. Anindya mengintip sedikit dari balik tirai sebelum membuka pintu. Terlihat Bu Riyanti dan juga Hani berdiri di depan pintu.


Ya ampun mau apa dua orang itu kemari. Anindya mengacak rambutnya frustasi. Dia membuka pintu perlahan.


Bu Riyanti tersenyum ramah, di tangannya tertenteng sebuah rantang berisi sayur. Sebenarnya wanita itu adalah tetangga yang baik dan murah hati, tapi anaknya membuat Anindya stres bukan main.


" Ini sayur buat sarapan Nak Anin, ibu sengaja bikin banyak." Wanita itu menyodorkan rantang sayur pada Anindya.


" Terima kasih ya bu, maaf sudah banyak merepotkan ibu." Anindya berbasa basi.


" Tidak sama sekali nak Anin, eh iya nak Anin sudah tidak kerja lagi toh?" tanya Bu Riyanti heran karena Anindya tidak ikut berangkat ke kantor seperti biasanya.


" Sudah resign bu." Jawab Anindya singkat.


" Ooh begitu." Bu Riyanti manggut-manggut.


"Enak banget ya jadi istri mas Rio, tinggal ongkang-ongkang kaki saja kerjanya." Celetuk Hani lagi dengan ekspresi wajah tidak senang mendengar Anindya resign.


Anindya berusaha menahan emosi. Mulai lagi nih anak, pikirnya. Bu Riyanti mencubit lengan Hani, gadis itu meringis kesakitan.


" Jangan dengarkan Nak Anin." Bu Riyanti terlihat canggung.


" Tidak apa apa Bu, toh memang benar kok mas Rio menyuruh saya istirahat, dia tidak mengizinkan saya kembali bekerja, takut saya capek katanya." Anindya tersenyum melihat sekilas ke arah Hani yang tampak geram mendengarnya.


Bu Riyanti manggut manggut. " Tugas suami memang mencari nafkah nak Anin, tugas istri menuruti keinginan suami, kalau suami tidak mengizinkan kita kerja lagi ya harus kita tiruti."


Hani tampak makin tidak suka mendengar penuturan ibunya.


" Iya bu, Rio lebih suka saya mengurusi rumah dan anaknya yang sedang saya kandung ini." Anindya mengelus perutnya dan tersenyum.


Skak mat!!!

__ADS_1


Hani melongo mendengarnya. Raut kekecewaan tergambar jelas di wajahnya. Anindya tersenyum penuh kemenangan. Kali ini biar Hani merasakan kejengkelan yang selama ini dia rasakan. Dengan menghentakan kaki penuh marah Hani pergi meninggalkan rumah Rio, meninggalkan ibunya yang geram melihat kelakuan anak gadisnya itu.


Bersambung...


__ADS_2