PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Kacau Balau


__ADS_3

Anindya membuka pintu dengan sedikit malas. Terlihat Vino berdiri di depan pintu. Sepertinya laki laki itu sedikit tergesa.


" Ada apa? " Anindya mempersilakan Vino untuk duduk di kursi teras.


" Kamu tidak apa apa Nin? " Vino terlihat khawatir melihat keadaan Anindya yang lebih banyak terdiam.


Anindya tertunduk lesu. Dia menyadari kalau saat ini dia memang sedang kacau.


" Rio sudah tahu, ada yang mengirim dia foto saat kita sedang tertidur di hotel kemarin. " jelas Anindya lirih.


Vino terhenyak wajahnya terlihat geram. Siapa sih orang yang tega berbuat begini pada mereka.


" Aku sudah suruh orang untuk menyelidiki kasus ini. " ungkapnya dengan wajah serius. Vino terlihat jelas tidak terima ada orang lain yang menjahili dirinya.


Anindya mengangguk. Dengan kekuatan Vino yang di dukung finansial yang memadai pastilah ia mampu menyewa detektif sekalipun untuk menelusuri kasus ini.


" Pokoknya kamu jangan sedih aku pasti bisa membersihkan namamu,,, nama kita. " Vino memegang tangan Anindya yang terlihat sedih. Bagaimanapun ia merasa bersalah pada gadis itu.


Vino menatap kedalaman mata Anindya. Dia tahu gadis itu sedang resah. Mungkin Rio memarahinya habis habisan gara gara foto itu. Dan mungkin Anindya merasa tidak enak sama Rio gara gara ini.


" Aku akan bicarakan ini dengan Rio, aku akan jelaskan semuanya" Vino meyakinkan Anindya.


" Jangan... " Anindya terperangah ketika Vino berkata ingin bicara dengan Rio. Untuk saat ini lebih baik diam saja. Rio sedang kalut. Dia takut Rio akan emosi dan kehilangan kendali ketika berhadapan dengan Vino.


" Kenapa? " tanya Vino mengernyitkan dahinya.


" Belum saatnya... " Anindya tergagap.


Mata Vino menyipit. Sepertinya ada yang disembunyikan Anindya, duga Vino.


" Baiklah kalau begitu aku turutin kamu. "Vino menarik nafas panjang.

__ADS_1


" Sudah malam sebaiknya kamu segera pulang,gak enak dilihat tetangga. " Anindya mengingatkan.


" Ya sudah aku pamit dulu kalau begitu. " Vino pamit dan diiringi tatapan Anindya.


Semoga orang suruhan Vino bisa membongkar masalah ini dan menyelesaikan kesalah pahaman antara dia dan Rio.


Anindya berbalik badan untuk kembali masuk ke dalam rumah, tapi urung karena terdengar mobil Rio memasuki pekarangan rumah.


Rio turun dari mobil dengan wajah yang terlihat sedikit Marah. Apalagi ini? Batin Anindya.


" Ngapain lagi Vino kesini? " Tanya Rio


" Hmm,,, ada sedikit urusan, jangan salah paham dulu" pinta Anindya yang menyadari kecurigaan Rio padanya.


Rio tidak menjawab lagi. Dia terus ngeloyor masuk ke dalam kamarnya. Ia kembali menempati kamarnya yang dulu. Anindya tertegun di depan pintu kamar Rio. Percuma kalau ia memaksa masuk saat ini. Rio tidak akan mau diajak bicara sekarang.


Anindya memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia pun butuh istirahat untuk menenangkan jiwanya yang sedang terluka saat ini.


" Nin,,, kamu sakit? " Tanya Gendis terlihat sedikit khawatir.


Anindya terperangah. Badannya memang sedikit lemas Tak bertenaga. Maghnya pun sering kumat. Mungkin akibat banyak pikiran akhir akhir ini.


Bagaimana tidak, Rio mengacuhkannya. Walaupun hidup serumah tapi keadaan mereka bagai berada di dua kutub. Tak pernah bertegur sapa, apalagi bersenda gurau seperti biasa, senyum diantara merekapun bahkan hilang bagai di telan bumi.


Anindya menggeleng lemah. Bagaimanapun ia tidak ingin orang lain tahu tentang keadaanya. Apalagi permasalahannya sekarang.


" Lebih baik istirahat saja kalau kamu sakit Nin. " bujuk Gendis.


" Aku baik baik saja kok, hanya sedikit masuk angin dan maghku lagi kumat. " Anindya mencoba untuk tersenyum. Menutupi kesedihan hatinya.


" Ya udah kalau begitu kita makan siang bareng ya. " Gendis tersenyum.

__ADS_1


Anindya mengangguk. Sudah seminggu ini dia memang selalu makan siang bareng Gendis. Rio tidak pernah mengajaknya makan siang lagi. Bahkan untuk keluar makan pun sepertinya tidak.


Matahari bersinar cukup terik. Udara terasa panas menerpa kulit. Membuat siapa saja yang keluar siang itu mengeluh gerah dan panas. Tapi tidak dengan Anindya badannya malah terasa dingin. Di tengah terik matahari seperti ini dia malah menakai jaket tebal. Aneh.


" Nin,,, kamu tidak salah? " Gendis nengernyitkan dahinya menatap tubuh Anindya yang tertutup jaket tebal.


" Kenapa? " tanya Anindya heran.


" Ini Bekasi Non bukan kutub utara. " Gendis cekikikan.


" Aku kedinginan Dis, badanku rasanya gak enak. " Anindya nyengir menyadari tingkah anehnya.


" Apa mau ke klinik aja? " Gendis menawarkan, sepertinya temannya itu benar benar sakit.


" Enggak ah,,, aku masih bisa tahan, istirahat yang cukup juga nanti sembuh. " Anindya menolak, ia memang merasa tidak perlu ke dokter. Pulang kerja nanti ia akan istirahat saja.


" Oke kalau begitu " Gendis mengangkat bahunya dan bergegas melaju motornya untuk makan siang.


Sore harinya sepulang kerja Anindya langsung masuk ke dalam kamarnya. Badannya makin terasa tidak enak. Sepertinya dia meriang. Dia hanya bisa berbaring di tempat tidur tanpa berani memberi tahu Rio tentang keadannya. Dia takut kalau Rio malah tidak perduli keadannya sekarang.


Dia tidak sanggup menerima kenyataan kalau Rio akan tetap acuh meskipun dia tahu kalau dirinya sakit. Anindya menggigil. Badannya terasa dingin tapi dia merasa kalau suhu tubuhnya justru naik.


Cklek!


Terdengar suara gagang pintu kamar terbuka. Mungkinkah Rio yang masuk? Anindya seperti tidak punya tenaga lagi bahkan sekedar untuk membuka matanya. Kepalanya terasa sakit bahkan bola matanya seperti mau keluar.


Tangan itu meraba dahinya. Membalikan tubuhnya perlahan. Anindya berusaha membuka matanya. Samar terlihat wajah Rio yang terlihat cemas.


" Rio " panggil Anindya lirih seiring pandangan matanya yang semakin kabur. Samar terdengar Rio memanggil namanya tapi Anindya tak bisa lagi bertahan.


**BERSAMBUNG

__ADS_1


Minal aidzin walfaizin buat para reader's semua. Mohon maaf Author baru bisa update lagi setelah minggu kemarin sibuknya luar biasa. InsyaAllah ke depannya di usahakan update tiap hari. Terima Kasih sudah bersedia menunggu. Mohon maaf lahir batin 🙏🙏**


__ADS_2