PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Cari perhatian


__ADS_3

" Duh maaf ya kami sudah banyak merepotkan nak Rio dan nak Anindya." Bu Ranti menerima parcel berisi buah buahan segar sebagai buah tangan saat menjenguk Hani. Gadis itu sudah tampak lebih segar dari malam kemarin.


" Bagaimana keadaanmu sekarang Han? "tanya Rio memegang tangan Hani yang terkulai lemas.


" Sudah lebih enakan mas. " Hani tersenyum tipis.


" Sambil di makan ya buburnya Han. " Bu Ranti mendekatkan sesendok bubur ke mulut Hani. Tapi Hani tetap mengunci mulutnya.


" Gak mau bu, mulut Hani pahit. " Hani menggelengkan kepala.


" Bagaimana mau sembuh Han, dari pagi kamu belum makan." Bu Ranti memijit pelipisnya pusing.


" Makan dong Han biar cepet sembuh. "ujar Rio.


" Aku pengen di suapi mas Rio " Hani memegang tangan Rio manja. Laki laki itu merasa serba salah. Sekilas ia melirik ke arah Anindya seolah meminta izin darinya. Anindya mengerti ia pun mengangguk pelan.


Rio menyuapi Hani dengan hati hati. Gadis itu menelan buburnya dengan susah payah. Walaupun begitu dia terlihat sangat berusaha untuk terlihat semangat memakan suapan demi suapan yang Rio kasih.


" Makasih ya mas, aku seneng banget bisa di suapin sama kamu. " Hani tersenyum manja dengan pandangan menggoda. Sesekali ia melirik Anindya yang duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Ini apa sih maksud anak ini? Anindya ngedumel dalam hati. Terus terang ia tidak suka dengan sikap Hani.


" Kamu harus makan yang banyak biar cepat pulih. " Rio menatap Hani sambil menyuapi sendok bubur terakhirnya.


" lya mas tapi aku baru semangat kalau ada mas Rio. " Hani merajuk manja, tangannya tak mau lepas dari jemari Rio.


" Kamu jangan gitu dong masa baru semangat kalau ada aku saja. "


" lya, makanya mas Rio kesini tiap hari sampai aku sembuh ya. " Hani memohon manja.

__ADS_1


" Iya Insyaallah. " Rio menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Anindya merasa sebal mendengar kesanggupan dari Rio. Lagian aneh aneh saja permintaan bocah itu. Anindya bukan wanita bodoh ia tahu kalau Hani cuma mau cari perhatian Rio saja. Uh dasar menyebalkan. Anindya melengos ke arah lain ketika Hani menatapnya dengan senyum kemenangan.


Anindya ingin segera keluar dari rumah sakit. Dia tidak tahan menahan rasa jengkelnya. Ya Tuhan apa Rio tidak sadar kalau Hani sedang memanfaatkan sakitnya untuk mendekati Rio?


" Kamu kenapa sih dari tadi diam saja? " Rio bertanya saat mereka di mobil menuju jalan pulang.


" Kenapa sih Hani kayak gitu banget sama kamu, centil tahu gak sih? " Anindya cemberut. Ia tak sanggup lagi menutupi perasaannya.


" Kamu cemburu?" Rio terbahak.


" Siapa yang cemburu, aku cuma tidak suka saja dengan sikap Hani ke kamu. " bibir Anindya makin monyong. Kesel malah di ledekin Rio.


" Memangnya kenapa sikap Hani? " Rio pura-pura tidak mengerti.


" Cuma megang tangan bukan yang lain. " Rio terkekeh melihat istrinya yang cemburu.


" Dasar laki laki buaya, kamu memang mau di pegang bagian mana lagi?" Anindya melotot kesal.


" Hahaha... Bercanda sayang. Aku cuma gak enak saja sama Bu Ranti dan Almarhum ayahnya Hani. Sebelum meninggal beliau menitipkan Hani sama aku. Jadi aku seperti menepati janji gitu loh sayang. " jelas Rio panjang lebar menceritakan alasannya.


Anindya terdiam. Dia baru tahu tentang janji itu. Tapi tetap saja ia tidak suka dengan kelakuan Hani.


" Tapi gak usah pegangan juga kali." Anindya memutar bola matanya.


" Iya nanti aku bilangin Hani. " Rio menyerah. Iya terlihat gemas dengan kecantikan istrinya itu saat lagi ngambek.


Mengetahui istrinya sedang cemburu, Rio berinisiatif untuk tidak langsung pulang ke rumah, tapi mampir dulu ke sebuah warung sate. Perutnya juga keroncongan dari tadi sore. Yakin Anindya juga pasti sudah lapar.

__ADS_1


" Udah dong jangan cemberut mulu. " Rio mencubit hidung Anindya sambil tersenyum. Meskipun istrinya itu terlihat cantik saat marah, tapi bukan berarti ia betah di cemberutin Anindya lama lama.


" Hmmm tahu gini mending tadi nemenin Hani di rumah sakit. " gumam Rio pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Anindya.


" Apa? " Anindya pura-pura tidak mendengar.


" Gak kok, ini satenya kok belum mateng ya, sudah keburu lapar nih. " Rio mengalihkan pembicaraan. Upayanya untuk memancing Anindya bicara berhasil.


Anindya memutar bola matanya. Dia tahu Rio berbohong. Menjengkelkan Rio. Gerutunya dalam hati.


Akhirnya sate kambing pesanan mereka datang. Rio makan dengan lahapnya. Anindya melihatnya dengan geli.


" Ish rakusnya. " cibir Anindya.


" Buat persiapan olahraga malam sayang, biar tenaganya cukup kuat. " Rio meyeringai dengan mengedipkan sebelah matanya.


Anindya bersemu merah. Dia tidak menyangka Rio berkata seperti itu. Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka dengan tatapan menggoda.


" lhh ngomongnya di jaga dong. " Anindya mencubit tangan Rio, hingga laki laki itu meringis kesakitan.


Rio malah cengengesan dengan wajah tanpa dosanya. Anindya semakin gemas dibuatnya.


" Kita pulang sekarang yuk. " Rio mengajak Anindya pulang. Sepertinya gadis itu juga sudah selesai makan.


" Aku sudah tidak sabar ingin makan kamu. " Rio berbisik di telinga Anindya.


Cerita orang tentang sate kambing bisa meningkatkan libido mungkin benar. Buktinya kini terasa. Makanya dia ingin cepat cepat sampai rumah.


Blush di pipi Anindya kembali memerah. Dia mendelik ke arah Rio yang tersenyum Nakal. Namun tak urang diapun mengikuti langkah Rio dengan penuh semangat. Dibenaknya kini muncul pikiran pikiran Nakal. Ah, Anindya ketularan Rio hmmm.

__ADS_1


__ADS_2