PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Telor Rasa Cinta


__ADS_3

Anindya memarkirkan motornya di halaman rumah. Perjalanan dari kantor ke rumah terasa sangat melelahkan. Di tambah jalanan yang sedikit macet pada saat jam pulang kantor membuat Anindya sedikit menggerutu di jalan tadi.


Rio menyambut kepulangannya di depan pintu. Dia tersenyum sumringah.


" Cape ya? "


" pegel " jawab Anindya sambil melepas helm yang ia pakai.


" Cepet masuk aku sudah masak buat kamu."


" Masak apa? Emang kamu bisa masak? " tanya Anindya tak percaya.


" Bisalah... " Rio cengengesan.


Setelah mandi dan berganti pakaian Anindya langsung menuju dapur. Terlihat makanan sudah tersedia. Rio memasak telor ceplok dan sayur bening bayam. Anindya terharu atas usaha Rio yang dia tahu tidak bisa masak sama sekali.


" Cobain deh masakan ala chef Rio. " dia memberikan piring pada Anindya.


" Waaahhh kayaknya enak nih. " Tak sabar Anindya mencicipi sayur bayemnya. Dan rasanya,,,, hambar. Di cicip lagi telor ceploknya, rasanya asiiiiiiiinnn sekali. Membuat mata Anindya merem melek.


" Gimana rasanya? " tanya Rio terlihat tegang.


" Hmmmm ini makanan beda banget sama yang lain Ri. Enak kok. " Anindya tidak mau mengecewakan Rio yang sudah bersusah payah menyiapkan makanan untuknya. Kemudian dia menyendok nasi ke atas piringnya mencampurkan sayur bayem dan telor ceplok. Perpaduan dari sayur bayem yang tidak ada rasa dan asin dari telor ceplok lumayan bisa menjadikan selaras rasanya, pikirnya.


Rio terlihat senang masakannya Anindya sukai. Ia pun ikut mengambil makan dan melahapnya. Tiba tiba mata Rio mendelik. Buseeeett asin banget ,kenapa Anindya bisa makan dengan lahap begitu?


Rio mengambil piring nasi yang tengah di makan Anindya. Gadis itu menatap heran.


"Kenapa? "


" Jangan di makan. " Rio menggeleng.


" Loh kenapa, siniin aku lagi makan. " Anindya berusaha merebut kembali piringnya. Tapi Rio tetap bersikukuh.


" Ginjal kamu bisa rusak kalau makan makanan yang terlalu asin begini. "

__ADS_1


" Nggak kok, telornya enak. " Anindya masih berusaha merebut piringnya lagi. Tapi kali ini Rio malah membuang isi piringnya ke tempat sampah.


" Rio.... " Anindya terbelalak.


" Kita pesen Gofood aja. " Rio meraih ponselnya membuka aplikasi online langganan dia. Aplikasi karya anak bangsa katanya mah.


Rio memesan sate dan sup iga sapi 2 porsi. Anindya masih cemberut. Dia masih tidak terima makanannya Rio buang begitu saja.


" Maaf ya Nin, aku memang tidak bisa masak. " Rio menatap Anindya dengan perasaan bersalah.


" Tapi kenapa di buang kan mubazir. " Anindya masih menggerutu.


" Makanan itu tidak layak di makan manusia, aku ingin kamu makan makanan yang enak, yang terbaik,harusnya tadi aku langsung pesan saja tidak usah coba coba untuk masak sendiri. "Rio menepuk jidatnya sendiri.


" Tapi terimakasih banyak ya sudah susah payah masak buat aku, padahal kamu belum pulih banget."Anindya memeluk Rio yang masih duduk di kursi makan dari belakang, menaruh bahunya diatas pundak laki laki itu.


Rio tersenyum, dia bahagia sekali mendapat perlakuan seperti itu dari Anindya. Rio mengusap tangan Anindya yang melingkar di lehernya.


Ting tong...!


" Ini pak pesanannya. " driver ojek online itu menyerahkan dua kantong kresek berisi sate dan sup iga sapi. Jumlah pesanannya 100 ribu. Rio mengeluarkan uang 110 ribu dari dompetnya.


" Lebih 10 ribu pak. " driver itu mengembalikan uang sepuluh ribu milik Rio.


" Simpan buat Bapak saja. " Rio memaksa driver itu menerima uangnya. Dia berpikir uang itu pasti sangat berharga bagi mereka para ojek online. Memberi lebihan seribu dua ribu kepada mereka tidak akan membuat kita rugi. Justru membuat kita senang telah membantu sedikit meringankan beban mereka. Di banding kita harus pergi sendiri, mengantri cukup lama, uang segitu tidak ada artinya dengan waktu dan tenaga yang mereka keluar kan untuk kita yang hanya tinggal menunggu makanan datang di depan mata.


" Terima kasih banyak Pak. " lelaki yang berumur kira kira 30 tahun itu terlihat sangat senang. Dia meninggalkan rumah Rio dengan sangat gembira. Coba tiap pelanggan seperti ini,gumamnya dalam hati.


Anindya menata sate dan sup di atas piring dan mangkuk. Mereka kembali melanjutkan acara makannya yang tertunda tadi.


*****


Gendis tak berhenti menatap layar ponselnya sembari tiduran diatas ranjang. Pesannya belum juga di balas oleh Rio dari pagi. Padahal ia ingin sekali mendengar kabar laki laki yang dia sukai itu. Kenapa Rio jadi sedingin ini sekarang? Gendis mengeluh.


Gadis itu melangkah mengambil kamera digital miliknya. Dibuka dan terlihat beberapa foto dia dengan Rio pada saat makan siang dulu. Saat saat terindah dalam hidupnya. Dia berpikir saat itulah hubungan baru dengan Rio akan di mulai. Tapi saat ini dia merasa Rio malah semakin menjauh.

__ADS_1


Gendis menaruh kembali kameranya ke dalam laci meja riasnya. Dia melangkah kembali ke tempat tidur dan menghempaskan badannya di situ.


Hatinya mendadak resah. Bagaimana dia mengatasi perasaannya yang sudah terlanjur cinta sama Rio. Kalau laki laki itu beneran memilih pergi dan mengacuhkannya, bagaimana dia bisa menghapus rasa ini? Gendis menghentakan kedua kakinya di kasur menyesali kebucinannya terhadap Rio.


" Sadar Gendis, Rio itu tidak perduli sama sekali terhadapmu. " Gendis memukul mukul kepalanya sendiri. Mencoba mengusir bayangan wajah Rio dari pikirannya.


Drrrttt....


Udah mendingan, mungkin besok aku sudah bisa masuk kerja.


Gendis berbinar, akhirnya pesannya di balas oleh Rio. Gendis memeluk ponselnya di depan dada. Betapa hatinya berbunga bunga hanya karena melihat pesannya di balas oleh Rio. Benar benar bucin.


*****


Rio merebahkan badannya di atas kasur. Sudah mulai enakan. Badannya pun tidak selemas kemarin. Mungkin besok sudah mulai bisa kerja.


Anindya masuk ke dalam kamarnya. Membawa segelas air putih dan beberapa butir obat yang masih harus ia konsumsi.


" Minum dulu obatnya sebelum tidur. "


Ah Anindya benar benar merawatnya dengan baik. Kalau begini Rio merasa benar benar telah mempunyai seorang istri. Mana mungkin dia bisa begitu saja hidup tanpa Anindya, sementara selama ini Rio sangat tergantung pada pelayanannya.


Rio meraih obat yang di berikan Anindya dan meminumnya. Anindya menaruh gelas di atas nakas.


" Sekarang tidur ya, sudah malam. " Anindya mendorong tubuh Rio untuk kembali berbaring. Rio hanya menurut layaknya seorang anak yang menuruti perintah ibunya.


" Tidak ada kiss nigt kah? " Rio tersenyum menggoda.


Anindya mengerlingkan matanya manja.


Cup...! Anindya mengecup kening Rio. Laki laki itu tidak puas dia malah memonyongkan bibirnya. Anindya mencubit pinggang Rio membuat laki laki itu menggelinjang.


" Pamali. " Anindya beranjak pergi.


" Masa sama suami sendiri Pamali. " Rio protes, tapi Anindya tak menggubris, ia terus melangkah keluar dari kamar Rio yang tengah manyun.

__ADS_1


BERSAMBUNG * * *


__ADS_2