
Hari ini Rio tidak mengajaknya makan siang seperti biasanya. Sejak pesta kemarin sikapnya berubah aneh. Dia lebih banyak diam dan mengacuhkannya. Anindya kesal dengan perubahan sikap Rio, seperti anak kecil pikirnya.
Gendis pun sudah pergi sejak tadi. Terus dia harus makan siang dengan siapa?
Ddrrrttt...
Makan siang yuk, aku tunggu di parkiran.
Sebuah pesan masuk. Dari Vino.
Hhuuufft.... akhirnya dia bisa juga pergi makan.
Anindya bergegas turun dan pergi ke parkiran. Di lihatnya mobil Vino sudah menunggu. Laki laki itu turun dan mempersilakan Anindya untuk masuk ke dalam mobilnya.
Nyesss... udara AC menerpa wajah Anindya dingin.
" Mau makan apa? " tanya Vino mulai menyetir.
" Apa aja. " jawab Anindya sedikit canggung.
Vino membawa mobilnya menyusuri jalanan yang terik. Anindya lebih banyak diam ia hanya menikmati pemandangan disisi kirinya.
" Sepertinya ada yang kamu pikirkan. " tanya Vino menyelidiki.
" ng... nggak ada kok Pak. " Anindya tergagap.
" Jangan panggil bapak ah, kan cuma ada kita berdua. " Vino tersenyum.
Anindya tersenyum dan menggangguk. Apa benar Vino menyukainya seperti yang di katakan Rio? Mana mungkin. Dia hanyalah gadis biasa, dari kalangan biasa sedangkan Vino?
Anindya melirik ke arah Vino sekilas. Wajahnya tampan,tegap dan berwibawa. Pastinya banyak gadis yang mengantri cintanya. Apalagi ia seorang yang kaya raya. Menambah nilai plus untuk dirinya.
Sadar ia di perhatikan Anindya dari tadi. Vino tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.
" Kenapa? aku ganteng kan. "
Anindya tersipu malu. Tak berani ia bersikap manja di depan Vino. Masih ada rasa segan di hatinya apalagi setelah mengetahui kalau Vino adalah Direktur perusahaannya.
" Ganteng tapi masih jomblo,,,, kamu mau daftar. " Vino tertawa.
__ADS_1
" Apa saja syaratnya? " Anindya ikut tertawa.
" Cukup foto kopi KTP, kartu keluarga dan surat keterangan lajang dari rt/rw. " Vino mengedipkan sebelah matanya ke arah Anindya. Gadis itu terbahak mendengar candaan Vino hingga suasanapun mencair.
" Vin, kamu tidak merasa malu berteman denganku yang cuma pegawai rendahan kaya gini?" Anindya tiba tiba.
" Asal jangan jadi cewek rendahan sih nggak masalah. " Vino malah berseloroh lagi membuat Anindya gemes.
" Vino aku serius. " Anindya memonyongkan bibirnya.
" Aku juga serius, aku nggak ada masalah dengan itu. " Vino tersenyum. Lagi lagi Anindya di buat terkesiap dengan senyum manis Vino.
Sadar Anindya kamu wanita bersuami.
Anindya memalingkan wajahnya tak mau menatap lama lama wajah Vino. Ia takut hatinya makin kepincut dengan ketampanan Vino.
Vino mengajak Anindya makan di sebuah restoran di dalam sebuah mall. Suasana dalam restoran cukup nyaman di tambah udara sejuk dari Air Conditioner menambah kenyamanan tempat itu.
Vino mengajak Anindya duduk di bangku pojok restoran itu. Dari tempat itu Anindya bisa melihat seluruh ruangan restoran yang tidak begitu luas itu.
Tak sengaja matanya menangkap dua sosok manusia yang begitu ia kenal. Mereka tampak gembira, sesekali terdengar tawa kecil dari bibir keduanya. Hati Anindya berdesir melihat pemandangan di meja tengah restoran itu. Rio dan Gendis. Mereka makan siang tanpa sepengetahuannya.
" Oohh ada Rio,,, kamu ingin kita gabung? " tanya Vino menawarkan.
" Nggak... nggak usah. " Anindya menolak. Dia tidak ingin merusak suasana diantara Rio dan Gendis. Tapi Vino mengetahui ada keresahan dalam tatapan gadis itu. Suasana jadi sedikit canggung.
" Aku ingin makan cumi asam manis Vin. " pinta Anindya mencoba mencairkan suasana yang dibuat canggung karena ulahnya.
" Oke. " Vino memanggil pelayan restoran. Dia segera memesan makanan yang diminta Anindya lengkap dengan minumannya tak lupa ia juga memesan makanan kesukaanya.
Sepasang mata mengawasi dari kejauhan. Mata itu mendadak murung melihat kedekatan yang terjalin antara Anindya dan Vino.
" Ada apa Rio?" gadis di depannya bertanya heran dengan perubahan sikap laki laki itu secara tiba tiba.
" Tidak apa apa. " laki laki itu menggeleng dengan senyum setengah di paksakan.
*****
" Kamu ini kenapa Rio? Seperti anak kecil tahu nggak? " cecar Anindya sesampainya di rumah sepulang mereka kerja.
__ADS_1
" Aku memang kecil kan di mata kamu. " jawab Rio ketus.
" Ya Tuhan Rio hentikan semua ini aku mohon. " Anindya memelas, dia ingin semuanya kembali normal, seperti dulu.
" Hentikan apa? Aku tidak berbuat apa apa kok. " Rio masih acuh, nada bicaranya pun masih tinggi.
Anindya menarik nafas dalam. Tidak ada gunanya bicara dalam keadaan yang masih sama sama emosi.
" Rio lebih baik kita hentikan semua ini. Kita sama sama lelah. Kita sama-sama egois. Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan dan kamu juga tidak tahu keinginanku. Kita cuma menyiksa diri sendiri. " Anindya terduduk lesu di atas sofa.
Rio terdiam mendengar perkataan Anindya. Kekhawatirannya benar benar terjadi. Gadis itu ingin pergi darinya. Ia lebih memilih Vino daripada dirinya. Ia sadar Vino jauh lebih baik darinya.
" Terima kasih sudah mau jujur. Aku akui Vino jauh lebih baik dari aku. Aku cuma pegawai yang miskin dan tidak punya apa-apa. " Rio menarik nafas.
" Hei sejak kapan kamu menilai aku sebagai gadis yang matrealistis? Sebagai orang yang sudah lama mengenalku mestinya kamu tahu sifatku. " Anindya kecewa.
Anindya tidak percaya Rio menilai dirinya serendah itu. Kata kata Rio barusan sangat melukai harga dirinya.
Rio masih terdiam. Ia menyesal dengan kata kata yang keluar begitu saja dari mulutnya. Ia tahu persis Anindya bukan perempuan yang menilai segala sesuatunya berdasarkan materi. Kalau memang Anindya gila harta tentu ia tidak akan memilih Yudistira yang belum mempunyai apa apa untuk jadi suaminya.
" Maaf. " cuma itu yang keluar dari mulut Rio. Ia seolah kehilangan kata kata yang tadi sempat memenuhi otaknya.
" Jangan jadikan Vino sebagai alasan supaya kamu bisa dengan Gendis... " Anindya berkata lirih.
" Aku dan Gendis... " ah pasti Anindya melihatnya tadi siang. Bodohnya aku.
" Cukup Rio aku menyadari semua ini. Kamu memang berhak bahagia. Pernikahan kita memang sudah salah dari awal. Seharusnya kita tidak memaksakan diri untuk tetap bertahan. " Anindya tersenyum kecut.
Rio menatap sedih wajah Anindya. Ada yang sakit tapi tak berdarah. Hatinya. Ia tidak cukup tahu kedalaman hati Anindya. Ia tidak mau menebak nebak lagi isi hati gadis itu. Yang ia tahu ia tidak rela kalau semua ini harus berakhir begitu saja.
BERSAMBUNG ***
**Vino atau Rio? siapa yang akan Anindya pilih? Ikuti terus kisahnya yaaa...
Maaf up nya agak lama. Maklum Author merangkap tugas sebagai bakul kue, nulis di sambi bikin pesanan kue lebaran.
Terima kasih sudah setia membaca sampai episode ini. Semoga kalian terhibur.
Selamat menunaikan ibadah puasa yaaađź’ťđź’ť**
__ADS_1