PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
KABUR


__ADS_3

Anindya mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya sedikit pusing dan badannya terasa lemas. Kini ia sudah terbaring di kasur di dalam kamarnya. Hanya sendirian, tidak ada Rio di sampingnya.


Anindya mencoba bangkit dari tidurnya. Terdiam sejenak memikirkan nasib dirinya kini. Bahkan disaat dirinya pingsan sekalipun Rio tidak ada menemani. Anindya mengusap air mata yang perlahan mengalir di pipinya. Hatinya terasa perih, mengingat dirinya yang sudah tidak dipedulikan lagi oleh Rio.Untuk apa ia terus berada di rumah ini toh apapun yang terjadi Rio sudah tidak mau tahu lagi.


Anindya perlahan berdiri dengan sisa kekuatan yang ada. Dengan langkah limbung dia membuka lemari pakaiannya. Dimasukan satu persatu baju bajunya ke dalam tas besar. Lebih baik ia pergi dari rumah ini daripada ia semakin kehilangan harga dirinya.


Air mata terus mengalir deras. Anindya tak kuasa lagi menahan perih yang terasa menyayat hatinya. Pernikahan ini tdak di dasari pondasi yang kuat,jadi sedikit saja angin berhembus akan langsung bisa meluluh lantakan bangunan cinta yang sudah susah payah di bangun.


Untuk apa ia bertahan kalau sudah tidak ada lagi kepercayaan diantara mereka. Anindya memilih pergi, setidaknya untuk menjaga harinya agar tidak terluka lebih dalam lagi.


Selesai mengemas pakaian, ia mengambil ponsel dan menelpon Vino. Dia butuh bantuan laki laki itu untuk mencari tempat kost.


" Kenapa kamu tiba tiba pindah?" tanya Vino sambil menyetir.


" Aku ingin sendiri dulu." jawab Anindya pelan.


Vino melirik ke arah Anindya yang duduk di sampingnya. Wajah gadis itu terlihat pucat dan lesu. Sepertinya dia sedang tidak enak badan. Selama perjalanan diapun lebih banyak diam tidak bicara kalau tidak di tanya.


Vino jadi merasa bersalah. Secara tidak langsung dia lah yang membawa gadis itu ke dalam masalah seberat ini. Diapun belum mendapat kabar dari orang yang ia suruh mrnyelidiki kasus mereka.


Mobil Vino memasuki sebuah komplek kost kostan yang lumayan padat. Rata rata kostan itu di huni mahasiswa dan karyawan. Sebenarnya Vino ingin menyewa sebuah apartemen untuk Anindya. Tapi gadis itu menolak pertolongan Vino. Bagaimana pun Anindya tidak ingin terlalu banyak berhutang budi pada Vino. Jadi dia lebih memilih kostan sederhana untuk ia tempati.

__ADS_1


Satu kamar kostan tersisa di ujung lorong. Bagi Anindya itu lebih baik ,jadi dia tidak akan terlalu terganggu dengan hiruk pikuk tempat kost nya.


Anindya memasuki kamar kostnya. Cukup nyaman dengan perabotan yang tidak terlalu banyak . Hanya ada satu tempat tidur dan lemari baju dengan ukuran kecil.


" Kamu yakin akan tinggal disini?" tanya Vino yang terlihat sedikit prihatin dengan kamar kost itu.


" Yakin." Anindya mengangguk, dia tersenyum kecil memahami kalau Vino tentu saja tidak terbiasa dengan keadaan ini.


" Ya sudahlah kalau itu sudah jadi maumu." Vino mengangkat bahunya. Dia tidak bisa berbuat apa apa lagi. Anindya menolak semua pertolongannya.


Anindya mulai menata semua barang yang ia bawa. Termasuk alat mandi dan peralatan lain yang ia beli tadi dari supermarket.


Anindya sudah membulatkan tekad untuk bisa hidup mandiri tanpa Rio. Ia yakin dia bisa sendiri. Kini ia hanya perlu menata hatinya kembali untuk sedikit demi sedikit melupakan hubungan yang sudah terjalin antara dia dan Rio.


" Iya,,, sekarang kamu cepat pulang sana...aku mau istirahat." Anindya mendorong pelan tubuh Vino keluar kamar kostnya.


" Ya sudah aku pulang dulu ya,,," Vino sebenarnya tidak tega meninggalkan Anindya di kostan sumpek seperti itu. Tapi apa boleh buat,ini semua sudah jadi keinginan Anindya sendiri.


Vino melangkah pergi meninggalkan kostan Anindya. Gadis itu masih berdiri di depan pintu hingga punggung Vino tak terlihat lagi menghilang di ujung lorong.


Anindya merebahkan badannya di atas kasur, matanya menerawang ke atas langit-langit kamar. Teringat Rio yang mungkin kini sudah mengetahui kalau dirinya pergi dari rumah. Apakah Rio akan mencarinya? Atau justru bahagia mengetahui dirinya sudah tidak ada di rumah lagi.

__ADS_1


*****


Rio tergopoh membuka pintu depan. Setengah berlari dia membuka pintu kamar Anindya. Dia terperanjat ketika melihat tempat tidur yang sudah kosong. Kemana Anindya? pikirnya.


Pintu kamar mandi terbuka tapi Anindya tidak ada disitu. Ke dapur juga tidak ada. Seperti orang kesetanan Rio berlari masuk ke dalam kamar lagi dan membuka lemari baju.


Deg! Rio terduduk lemas di depan lemari baju. Beberapa butir obat jatuh dari genggamannya. Kedua matanya berkaca-kaca. Dia hanya pergi sebentar ke apotek untuk membeli obat demam untuk Anindya minum tapi gadis itu telah pergi.


Pikiran aneh mulai berkecamuk dalam dirinya. Mungkinkah Anindya pergi dengan Vito? Mungkinkah Anindya lebih memilih Vito di banding dirinya?


"Aaaaahhhhh" Rio berteriak mengeluarkan gemuruh yang ada di hatinya. Kini ia hancur. Hidupnya benar benar hancur. Satu satunya perempuan yang ia cintai kini sudah pergi entah kemana. Rio meremas rambutnya, kepalanya seperti mau pecah.


Anindya kamu dimana? Rio menatap foto Anindya yang sedang tertawa bahagia saat liburan bulan lalu di ponselnya. Perih terasa mengiris jantungnya. Bagaimana pun ia tidak bisa merelakan begitu saja Anindya dengan laki-laki lain.


*Anindya pulanglah,,,aku rindu.


BERSAMBUNG


Kita baru merasa kehilangan saat orang yang kita sayangi sudah tidak ada. Begitulah hukumnya*.


Maafken kalau baru bisa update lagi Author habis bertapa dulu nyari wangsit 😂😂

__ADS_1


Semoga bisa mengobati rasa kangen kalian readers kesayangan 😘😘


__ADS_2