
Hari ini semua terlihat sibuk. Katanya perusahaan akan kedatangan tamu penting. Calon Direktur baru. Anak laki laki dari pemilik perusahaan ini.
Yang lain sangat penasaran dengan sosok direktur baru itu. Tapi Anindya biasa saja. Paling laki laki setengah baya beranak 1 atau 2 yang akan menjabat posisi itu. Anak muda mana mungkin di serahi tugas seberat ini. Pikirnya.
" Ayo kita sudah di panggil ke aula " Pak Imam mengingatkan.
" Ayo Nin, " Gendis menarik tangan Anindya yang masih bengong.
Anindya mengikuti langkah Gendis menuju aula kantor yang tak jauh dari ruangannya. Di sana sudah banyak para karyawan berkumpul. Dua gadis itu tidak kebagian tempat duduk. Jadilah mereka berdiri di antara kerumunan karyawan lain yang juga sama sama tidak kebagian kursi.
Rio berada di jajaran kursi paling depan menghadap ke arah para karyawan. Dia bersama jajaran direksi lainnya berkumpul disitu. Ada satu kursi yang masih kosong. Mungkin kursi itu diperuntukkan bagi Calon Direktur yang baru.
Suasana semakin ramai, kasak kusuk mulai terdengar. Dinginnya AC kalah dengan banyaknya manusia yang berkumpul di tempat itu. Anindya dan Gendis mulai kepanasan.
"Keluar aja Yuk, aku gerah nih. " Anindya mengipasi leher dengan tangannya.
" Tapi aku penasaran dengan Direktur baru itu Nin. " Gendis celingukan melihat ke arah depan.
" Ah nanti juga tahu. " Anindya berusaha membujuk Gendis untuk keluar dari ruangan. Keringat sudah mulai bercucuran di keningnya. Sementara acara masih belum juga di mulai.
Anindya sudah tak tahan. Dia menarik tangan Gendis ke luar ruangan. Sementara itu sesosok Laki laki muda memasuki ruangan. Dia memakai setelan jas yang sangat rapih dan elegan. Anindya yang tengah buru buru keluar menangkap sekilas sosok yang memasuki ruangan itu. Sosok yang sudah tidak asing lagi bagi dia. Tapi tidak begitu jelas,karena pandangan matanya tertutup oleh kerumunan karyawan yang berdiri di hadapannya.
" Uuhhhh. "Anindya merasa lega mendapati dinginnya udara AC dalam ruangannya.
" Padahal tadi udah masuk itu Direktur baru, kamu sih main tarik tangan aku ahh.... " Gendis masih terlihat kesal pada Anindya.
__ADS_1
Anindya jadi merasa bersalah pada Gendis. Rupanya gadis itu sungguh penasaran ingin melihat sosok direktur baru.
" Maaf deh,,, tapi kan nanti juga lambat laun kita bakal tahu seperti apa sosok direktur kita Dis. " Anindya berusaha menghibur.
" Tapi kan beda gregetnya Nin. " Gendis masih kesal.
" Iya maaf deh... " Anindya menghampiri Gendis dan memeluk gadis itu. Sungguh dia menyesal telah membawa gadis itu keluar bersamanya.
" Hei kalian udah di ruangan aja,jangan jangan kalian tidak hadir di acara tadi? " selidik Bu Shila yang baru saja memasuki ruangan itu bersama yang lainnya.
" Nggak sampai selesai bu, kita keluar karena gerah. " jawab Anindya.
" Ganteng ya Direktur baru kita. Masih muda sudah jadi direktur, Lulusan Harvard lagi. " celetuk Bu Endang menambahi. Kedua ibu ibu itu tampak antusias menceritakan kembali sosok direktur baru itu.
Gendis makin merengut. Anindya semakin menyesali perbuatannya tadi.
" Memang nggak Bu. " Anindya menggeleng.
" Ya ampun kalian ini ya... " Bu Shila menepuk jidatnya sendiri.
" Gendis aku minta maaf. " Anindya berusaha membujuk Gendis yang masih tampak kecewa.
" lya nggak apa apa udah terlanjur. Bener kata kamu lambat laun kita juga pasti akan tau siapa direktur kita itu. " Gendis berusaha tersenyum. Dia juga sebenarnya tidak mau membuat Anindya terus menerus merasa bersalah kepadanya.
" Syukurlah kalau kamu sudah tidak marah lagi. " Anindya mengelus dadanya lega.
__ADS_1
*****
" Direktur baru kita ganteng ya Nin." kata Rio ditengah perjalanan pulang.
" Aku nggak lihat. " Anindya menyenderkan kepalanya di jok mobil. Hari ini dia tampak lelah sekali. Tak ingin membahas sesuatu yang tidak penting.
" Kenapa? Kamu nggak datang tadi? " tanya Rio heran.
" Aku gerah jadi keluar sebelum Direktur itu masuk. "
" Waaahhh sayang banget loh Nin. "
" Apaan sih, dari tadi di kantor yang di bahas direktur baru,,, sekarang kamu juga ngebahas direktur baru, apa nggak ada topik lain, bosen tahu. " Anindya kesal. Seharian di otaknya penuh dengan sosok direktur baru yang tidak ia ketahui sama sekali. Menjengkelkan.
" Idih kok jadi marah. "
" Bodo. " Anindya mendengus kesal.
" Aku ada fotonya mau lihat nggak?" Rio mengeluarkan hapenya.
"Nggak Rio udah jangan bahas Direktur baru lagi, seharian ini aku pusing dengar semua orang ngomongin direktur baru. " Anindya menjerit pelan membuat Rio kaget.
" lya oke kalau kamu nggak mau lihat,,, iisshh. " Rio menaruh hapenya lagi.
Dia melirik gadis di sampingnya. Tampak lelah sekali. Pantas dia jadi sensitif hari ini. Anindya memejamkan matanya menikmati alunan musik yang Rio putar. Perlahan kesadarannya mulai hilang. Gadis itu tertidur.
__ADS_1
BERSAMBUNG ***