
" Sebenarnya kamu dari mana sih,,,malam malam jalan sendirian apa tidak bahaya bagi wanita secantik kamu?" cerocos Vino yang menyayangkan tindakan Anindya yang enggan untuk meminta bantuannya.
" Aku mau cari makan." sahut Anindya berusaha mengatur nafasnya yang masih tersengal.
" Emang kamu mau makan apa?" suara Vino melunak.
" Aku...aku pengen bubur ayam Vin." ucap Anindya lirih.
Vino mengernyitkan alisnya. Agak jarang sih tukang bubur ayam jualan malam malam begini.
" Apa gak bisa ditunda makan bubur ayamnya besok pagi? lebih baik kita cari makan yang lain sekarang." saran Vino. Dia juga sedkit malas kalau menu makan malamnya dengan semangkuk bubur ayam.
" Nggak mau aku maunya bubur ayam." rengek Anindya hampir menangis. Entahlah apa sampai begini rasanya ngidam. Bayangan bubur ayam sepertinya tidak mau hilang dari pikirannya.
Vino lagi lagi mengernyitkan alisnya. Anindya benar benar aneh malam ini. Rela berjalan jauh hanya untuk mencari bubur ayam. Apa gadis ini sudah gila. Haaaahh yang benar saja. Keinginannya seperti orang ngidam saja, benaknya.
Apa ngidam? Ah tidak mungkin Anindya ngidam. Menikah saja belum,hamil sama siapa? Vino berpikir keras. Pikirannya sedikit ngawur karena tiba tiba terlintas jebakan di malam itu. Jangan jangan tanpa sadar mereka benar benar melakukannya. Oohhh shit... kalau benar itu terjadi, dan Anindya beneran hamil berarti gadis itu hamil anaknya. Oh my gosh...
Vino mengacak rambutnya. Anindya terheran melihatnya.
" Kamu kenapa Vin? "
" Kita cari bubur ayam sampai dapat."
" Benarkah?" Anindya sumringah. Vino benar benar jadi dewa penolongnya malam ini.
Dengan bersusah payah nanya sana sini akhirnya ketemu juga tukang bubur ayam yang masih buka. Anindya terlihat senang sekali.
" Habis kan ya... penuh perjuangan nih nyarinya." Vino tersenyum puas.
Anindya menghirup aroma bubur dan bawang goreng. Harum. Tapi baru saja dia mencicipi sesendok bubur tersebut. Tiba tiba perutnya mual lagi. Please jangan sekarang, Anindya merutuk dalam hati. Ia merasa tidak enak sama Vino kalau harus muntah muntah disini.Tapi ternyata rasa mual dari dalam perutnya sudah tidak bisa di tahan. Ia berlari ke luar kedai.
__ADS_1
Vino panik dan mengikuti Anindya keluar. Disamping mobil Anindya muntah,tapi tidak ada yang bisa di keluarkan karena dari pagi ia hanya minum dan makan mangga muda saja.
Anindya bersandar di samping mobil dengan lemas. Tubuhnya benar benar-benar seperti kehilangan tenaga. Kedua kakinya gemetar. Telinganya tiba tiba berdengung. Ia melirik sekilas kearah Vino yang berhambur memeluk tubuhnya yang limbung.
" Kita ke rumah sakit." samar terdengar suara Vino yang panik. Selanjutnya Anindya tidak ingat apa apa lagi.
***
Vino tercengang ketika dokter memberi tahukan perihal kehamilan Anindya. Sedangkan gadis itu masih tertidur setelah di pasangi selang infus. Tubuhnya masih terlihatlah ringkih.
Vino masih tidak menyangka Anindya benar-benar hamil. Benarkah dirinya yang menghamili gadis ini. Kalau benar begitu dia merasa bersalah pada gadis itu.
Dua jam kemudian Anindya terbangun. Dengan memicingkan matanya dia melihat Vino tertidur di samping tempat tidur.
Anindya melihat sekeliling. Ternyata dia berada di rumah sakit. Badannya sudah terasa lebih segar sekarang. Tapi melihat Vino dia merasa tidak enak hati. Dia sudah banyak menyusahkan pria itu. Anindya mengusap lembut kepala Vino yang tertidur pulas.
Vino mengerjapkan matanya. Perlahan ia mengangkat kepalanya. Terlihat Anindya sudah terbangun. Vinopun tersenyum senang.
" Sudah lebih baik,,, terima kasih maaf aku sudah merepotkanmu."
Vino menggeleng dan mengelus rambut Anindya.
" Jangan di pikirkan, yang penting kamu segera sehat."
Anindya tak kuasa menahan air mata yang kini merembes di sudut matanya. Ia terharu dengan kebaikan Vino sekaligus juga sedih dengan nasib dirinya kini.
Harusnya Rio yang menemaninya kini. Tapi ia malah tidak tahu keberadaannya sekarang.
Vino mengusap air mata Anindya. Dia merasa trenyuh.
" Apa bayi yang kamu kandung itu anakku?" Vino berkata lirih.
__ADS_1
Anindya memalingkan mukanya. Kini ia sudah benar benar tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Sungguh ia merasa bersalah pada Vino yang sudah begitu baik padanya. Kebohongan ini pasti akan sangat menyakitkan baginya.
Anindya terisak. Hatinya pun terasa sakit. Maaf Vino.
Vino terdiam dia merasa bingung. Apa mungkin dia salah ngomong. Vino meraih tangan Anindya dan mengecupnya. Dia memang menyayangi gadis itu.
" Tidak usah di jawab, aku sudah tahu, aku akan tanggung jawab dengan semua perbuatan ku." Vino memgecup kembali tangan Anindya.
Gadis itu terperangah. Hatinya semakin sakit. Kenapa Vino harus sebaik ini. Ini semakin menjadikan Anindya merasa bersalah.
" Sudah jangan menangis, gak usah kuatir aku akan tanggung jawab. " Vino meraih wajah Anindya mengahadap ke arahnya.
Anindya menggeleng. Tidak seharusnya Vino memanggung kesalahan yang tidak dia perbuat.
" Aku minta maaf Vino." Anindya kembali berurai air mata.
" Ini bukan anakmu." lirih Anindya di sela isaknya.
Vino melepaskan tangannya dari wajah Anindya. Jantungnya terhenyak.
Anindya tidak sanggup menatap wajah Vino. Mungkin saat ini Vino tengah menganggapnya wanita murahan. Wajar karena laki laki itu belum tahu cerita sebenarnya.
" Terus...?" Vino menatap tajam Anindya menunggu penjelasan darinya.
Vino berusaha untuk tidak menduga duga sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
" Ini anaknya,,,,.RIO." bergetar bibir Anindya menyebut nama Rio.
BERSAMBUNG.
Jangan lupa vote,like dan komen nya ya... kritik dan saran juga Author tunggu untuk menambah semangat belajar menulis,,,semoga bisa lebih baik lagi ke depannya. Happy reading reader tersayang😘
__ADS_1