
Anindya masih bersimpuh di lantai dengan berderai air mata tatkala Rio pergi keluar rumah untuk menenangkan diri. Kenapa hatinya sesakit ini. Bagaimana kalau pernikahannya hancur gara gara kejadian ini? Siapa yang tega menjebaknya?
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikirannya, membuat rongga dadanya semakin terasa sesak. Dia mencoba berdiri menopang tubuh lunglainya yang terasa tak bertenaga sama sekali. Kepalanya terasa sakit akibat dari terus terusan menangis. Entah sudah seperti apa rupanya kini.
Drrrttt...
Sebuah pesan masuk dari ponsel yang diletakkan diatas nakas. Dengan enggan Anindya mengambil ponselnya.
Kamu baik baik-baik aja kan?
Pesan dari Vino. Anindya melempar ponselnya ke atas kasur. Dia menutup mukanya dan terisak kembali. Tak ada yang akan baik baik saja setelah mengalami kejadian ini.
Anindya menghela nafas berat. Dia harus bisa berfikir jernih sekarang. Dia harus selidiki siapa orang yang sudah menjebaknya. Dan apa maksud dari semua ini. Anindya menggemeretakan giginya menahan emosi.
*****
Taman kota sore ini terasa lumayan ramai. Terlihat beberapa anak kecil berlarian kesana kemari diselingi teriakan dari kedua orang tuanya yang khawatir anaknya akan jatuh.
Beberapa pedagang asonganpun tak mau kehilangan kesempatan untuk mengumpulkan pundi pundi rupiah dengan berusaha menjajakan dagangannya ke setiap pengunjung sore itu.
Angin berhembus semilir. Terasa sejuk menerpa kulit. Penduduk Bekasi yang tidak sehedonis penduduk ibukota, disini sesama orang baru kenalpun bisa bercengkrama dengan santai. Ada juga yang menjadikan taman kota ini sebagai tempat untuk berkumpul sekelompok akhwat untuk sekedar bersantai atau berkumpul membahas ilmu agama.
Rio termenung sendiri di bangku taman. Berada di tempat ramai tak membuat ia merasa senang, keresahan di hatinya selalu muncul.
Duk!
Sebuah bola mendarat di pangkuannya. Seorang anak kecil laki laki menghampirinya. Dia lucu sekali.
"Om bolanya. " anak itu meminta bola di tangan Rio.
Rio memberikan bola tersebut sambil mencubit hidung anak itu dengan gemas. Anak laki-laki itu tersenyum girang bolanya kembali.
Teringat mimpinya dengan Anindya, ia ingin segera memiliki momongan. Tapi apalah daya insiden ini sudah memporak porandakan mimpi mereka. Hancur lebur di buatnya. Anindya sudah menghianati kepercayaannya, cintanya. Lantas apalagi yang mesti di pertahankan. Kalau pada akhirnya Anindya lebih memilih Vino.
" Nih. "
__ADS_1
Sebuah tangan terulur dengan sebotol minuman ringan. Rio mendongak, terlihat Gendis tersenyum kearahnya dan duduk di samping Rio.
Gendis menatap anak anak kecil yang tengah asyik bermain bola di hadapannya. Rio masih diam membisu, tapi minuman pemberian Gendis sudah ia habiskan setengahnya.
" Tumben sendirian? " Tanya Gendis membuka percakapan.
Rio menghela nafas. Tangannya memainkan botol minuman.
" Anindya gak ikut? " tanyanya lagi.
" Aku sendiri,,, lagi pengen sendiri tepatnya. " gumam Rio lirih dengan tertunduk.
Gendis mengangguk,mungkin saja kehadirannya membuat Rio terganggu. Gendis bangkit dari duduknya bersiap untuk meninggalkan Rio. Tapi tangannya di tarik Rio,gadis itu duduk kembali di posisnya tadi.
" Jangan pergi. " suara Rio datar. Gendis menatap Rio yang masih tertunduk. Dahi gadis itu berkerut. Dia melihat kegaulauan yang besar di diri Rio.
" Ada apa? " tanya Gendis hati hati. Dia takut kalau perkataannya menyinggung Rio.
Rio tak bersuara. Pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong. Gendis makin tidak mengerti dengan sikap Rio.
" Temani aku disini. " pinta Rio lirih. Dia butuh seseorang untuk sedikit melepaskan penatnya.
" Kamu bisa kok cerita ke aku, siapa tahu aku bisa bantu masalahmu. " Gendis berkata lirih, mengusap lembut tangan Rio yang sedang menggenggam erat jemarinya.
Rio menoleh, memperhatikan bola mata bening yang sedang menatap penuh keprihatinan padanya.
" Maaf aku sudah cuekin kamu selama ini. " Rio merasa bersalah atas sikap tak acuhnya pada Gendis. Padahal gadis itu sangat perhatian padanya.
Gendis tersenyum. Tak apa lah,,, yang penting sekarang Rio sudah berubah manis dan itu sudah sangat membuatnya senang bukan main.
" Kamu mau jalan atau tetap disini? " tanya Gendis mengingat hari yang sudah mulai gelap.
Rio menatap langit sore yang mulai menghitam karena sang penerang matahari sudah bersiap kembali ke peraduannya. Mungkin sebaiknya dia yg pergi karena sudah berjam jam ternyata dia berada disitu.
" Kita cari makan ya. " Rio beranjak pergi diikuti Gendis yang berjalan di sampingnya.
__ADS_1
Hati gadis itu sangat bahagia. Mimpi apa dia semalam bisa jalan berdua dengan Rio seperti sekarang. Walaupun Rio sedikit tidak bergairah tapi tak jadi masalah baginya.
*****
Sementara di rumah.
Anindya berdiri di depan jendela. Sesekali matanya mengintip ke balik gordeng. Malam sudah mulai gelap. Berkali-kali ia cek ponselnya tapi tak ada balasan pesan dari Rio. Hatinya semakin merana. Kemana Rio pergi?
Makanan yang ia masak sejak tadi sore pun sudah dingin lagi. Berharap Rio pulang dan makan malam di rumah. Tapi sepertinya harapannya sia sia. Sudah jam delapan Rio tak nampak batang hidungnya.
Anindya meremas rambutnya. Seharusnya ia tak berharap besar pada Rio. Kesalahannya begitu fatal. Rio tidak mungkin bisa memaafkannya begitu saja. Mungkin Rio masih waktu untuk sendiri. Sampai kapan? Entahlah.
Oh Tuhan apa yang harus ia lakukan sekarang? Pikirannya sudah buntu. Dia tidak tahu harus bagaimana meyakinkan Rio sedangkan laki laki itu sudah tidak mau bicara lagi dengannya. Sedih ketika harus membayangkan Rio pergi meninggalkannya disaat sekarang, saat cinta sudah mengakar kuat dan tumbuh dengan subur di hatinya. Bagaimanapun dia tidak mau kehilangan suaminya itu.
Drrrttt
Anindya sumringah mungkin itu balasan dari Rio.
Nin kita harus bicara, penting! Aku jemput kamu sekarang.
Anindya mengernyitkan alisnya. Bicara penting apa sampai harus keluar malam malam begini. Kalau Rio sampai tahu bisa tambah berpikir macam macam saja dia. Anindya menggeleng.
Ngomong di telepon saja.
Anindya membalas pesan dari Vino. Suasana hatinya sedang buruk dia malas untuk keluar saat ini.
Vino tidak membalas lagi. Anindya menarik nafasnya dalam dalam dan bersandar di sofa. Dia memijit pelipisnya yang terasa sakit. Sedikit rasa penasaran muncul, hal penting apa yang ingin Vino sampaikan padanya?
Tin tin...
Anindya terperanjat, dengan cepat ia menyibak gordeng dan melihat keluar berharap Rio pulang.
Mobil Vino, Anindya sedikit kecewa. Mobil Vino sudah terparkir di luar.
**BERSAMBUNG...
__ADS_1
Maaf Updatenya tersendat karena Author lagi kejar tayang ngerjain pesanan kue lebaranππ Semoga kalian maklum ππ
Jangan lupa like komen dan votenya, inget vote itu gratis makanya jangan pada pelit ππ Ditunggu update selanjutnya ya,,, lnsyaallah habis lebaran updatenya dibanyakin lagi ππ**