PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Cerita masa lalu


__ADS_3

" Bu, kenapa ibu masih menyimpan foto perempuan itu?" Bisik Rio pelan setelah selesai makan. Anindya sudah masuk ke dalam kamar. Hanya tinggal mereka berdua yang masih di meja makan.


" Ibu lupa Rio, ibu minta maaf." Bu Hera memandang Rio penuh rasa bersalah.


Rio menghela nafas berat. Ingatannya kembali ke waktu lima tahun yang lalu. Waktu di mana ia merajut mimpi bersama seorang gadis cantik dan sederhana.


Seseorang yang ingin ia lupakan selamanya, tapi sekarang foto itu telah membuka file ingatannya kembali. Memaksanya kembali mengenang kebersamaan mereka.


Kenangan kenangan itu bak slide slide pendek yang terus berputar dari semenjak pertama kali bertemu sampai gadis itu pergi meninggalkannya demi sebuah ambisi.


Rio menerawang dengan tatapan ksong. Dimana dia sekarang, sedang apa, apa sudah menikah?


Rio menghembuskan nafas kasar. Apa perduli dia dengan gadis itu. Sudah tidak ada urusan lagi dengannya. Rio berusaha mengusir bayang bayang gadis itu dari ingatannya.


" Sudah lah nak, tidak usah diingat ingat lagi, maafkan ibu yang masih memajang fotonya." Bu Hera tertunduk sedih. Hubungan Rio dan gadis itu yang sudah begitu dekat membuatnya sangat menyayanginya. Bahkan sudah menganggap dan yakin kalau Rio akan menikah dengannya.


Jangankan Rio Bu Herapun merasakan sakit ketika mengingat gadis itu.


Rio beranjak dari ruang makan menuju ruang keluarga di mana foto tadi itu terpasang. Dia harus menyingkirkan foto itu segera sebelum Anindya bertanya macam macam.


Rio membawa foto itu ke dalam gudang, menyimpannya di antara tumpukan barang yang lainnya yang sudah tidak terpakai.


Tempatmu disitu Tania, bersama barang barang bekas yang sudah tidak mempunyai arti lagi.


Rio menatap sejenak foto gadis dengan senyum yang teramat manis itu. Menghembuskan nafasnya kasar.


Selamat tinggal.


Rio segera keluar dari gudang dan menguncinya kembali.


Anindya, dia baru teringat dengan Anindya. Bergegas masuk ke dalam kamar. Anindya terlihat sedang rebahan di atas tempat tidur.


" Habis makan jangan langsung tiduran dong sayang." Rio memijit betis Anindya pelan.

__ADS_1


" Aku kekenyangan kali ya,,, kok mataku langsung ngantuk." Anindya menggeliat dan berusaha untuk terbangun.


" Bangun dong... Mendingan kita ngobrol yuk biar gak ngantuk." Rio menarik tangan Anindya untuk bangun.


" Peluk dulu sini." Anindya malah menarik tubuh Rio dalam pelukannya.


Rio terjatuh di atas dada Anindya. Menatap lekat kedua mata istrinya.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di bibirnya. Rio terkejut dan tersenyum nakal.


" Istriku genit ya sekarang." Rio menggelitik pinggang Anindya hingga wanita itu tertawa kegelian.


" Genit sama suami sendiri kan gak dosa mas." Anindya mengerling manja.


" Dulu kenapa kamu menolak mas? Padahal mas incer kamu dari SMP loh." selidik Rio yang tertidur di samping Anindya.


" Kan udah bilang, aku gak mau pacaran dulu, itu masih SMP mas masa udah pacaran sih." Anindya memanyunkan bibirnya.


" Kapan mas bilang cinta lagi ke aku? Perasaan mas cuma anggap aku sahabat." Anindya menatap tajam mata Rio.


" Malah aku dengar mas sempat pacaran ya, sama siapa tu, aku lupa namanya. Mas sih gak mau ngenalin pacarnya ke aku." Anindya cemberut.


" Buat apa gak penting kok." Rio ketus.


" Gak penting sekarang, kalau dulu sih penting banget pasti." Anindya mencebikan bibirnya.


" Walaupun aku pacaran dengan perempuan lain, tetap kamu jadi prioritas utamaku kok sayang." Rio memeluk tubuh Anindya.


" Ah bohong." Anindya berusaha menepis tangan Rio, tapi laki laki itu malah memperat pelukannya dan menyelusupkan kepalanya ke rambut Anindya.


" Coba kapan mas menolak permintaanmu?"

__ADS_1


Anindya mengingat ingat semua kejadian di masa lalu dan memang benar Rio selalu ada saat ia butuhkan. Kapanpun itu Rio tidak pernah menolak keinginannya.


" Dan untuk itu semua kadang mas mengorbankan acara mas dengan pacar mas." bisik Rio.


" Ya Allah mas maafkan aku ya,,, aku gak tahu kalau kejadiannya seperti itu." Anindya mengusap lembut wajah Rio.


" Kenapa mas ngelakuin itu, kan kasihan cewek yang jadi pacar mas."


" Karena kamu akan terus jadi wanita spesial dalam hidup Anindya." Rio tersenyum manis.


" Terima kasih ya mas." Anindya memandang haru wajah Rio.


Rio tersenyum dan mengecup kening Anindya. Rahasia jodoh. Pacaran sama siapa nikah sama siapa.


Siapa yang menyangka dia akan menikahi sahabatnya sendiri, beberapa menit sebelum akad di mulai. Dreams come true mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Rio saat itu.


Terima kasih Yudistira karena sudah menjaga Anindya untukku.


Di saat luka hatinya belum mengering, Anindya hadir membalut luka itu dan mengobatinya. Walau awalnya tidak mudah tapi sekarang semuanya sudah terlewati dengan indah.


" Oh iya mas, foto siapa sih yang tadi?" tanya Anindya terlihat penasaran.


" Yang mana?" Rio pura pura lupa dan berusaha untuk tetap tenang.


" Yang tadi mas di samping tv."


" Oohh itu. itu.... anu... itu saudara jauh mas dari kampung." Rio sedikit gugup.


" Oohh,,, tapi cantik loh mas, wajahnya menjual cocok untuk jadi foto model." Ungkap Anindya.


Rio terhenyak, yang di katakan Anindya itu benar.Tania memang cantik dan fotogenik. Itulah kenapa agency agency itu yang justru menawarinya untuk bergabung. Bukan hanya sebagai foto model, tapi peragawati yang berjalan di atas catwalk.


Tania yang lugu dan sederhana berubah drastis. Waktu itu Tania jadi sedikit ambisius di banding sebelumnya.

__ADS_1


Rio masih bisa terima dengan itu semua. Tapi saat Tania pamit untuk berkarir di luar negeri, di saat itu pula Rio bertekad untuk menghapus namanya dari hatinya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2