
Vino terkejut. Rio? Bukankah Rio saudara Anindya? Lalu kenapa Anindya bisa hamil anaknya Rio? Apa yang sebenarnya terjadi?
" Sebenarnya Rio suamiku." jelas Anindya lirih. Sudah saatnya Vino tahu kejadian sebenarnya. Tak ada gunanya lagi di tutupi toh semuanya sudah terbongkar sekarang.
Vino mengusap mukanya kasar. Dua orang yang ia percaya sudah tega membohonginya.Terlebih Anindya. Ada gurat kekecewaan di wajah Vino. Dia yang sudah terlanjur mencintai Anindya merasa sangat terpukul dengan pengakuan gadis ini.
Lebih baik dia yang benar benar menghamili Anindya hingga ia bisa memiliki gadis itu sepenuhnya. Persetan dengan perjodohan yang sudah orang tuanya rencanakan. Vino tidak peduli jika Anindya bisa ia miliki.
"Maafkan aku Vino.." Anindya terisak menatap nanar wajah Vino. Dia benar-benar merasa bersalah pada pria sebaik Vino.
" Lalu kenapa kamu sendiri di saat begini?" tanya Vino setelah menguasai dirinya.
" Entahlah,,,aku sendiri tidak tahu,,,aku pergi dari rumah karena semenjak Rio tahu foto kita, dia marah dan tidak perduli lagi padaku." jelas Anindya dengan bibir bergetar menahan sedih.
Vino memejamkan matanya. Semua ini salahnya. Vino semakin geram dengan orang yang menjebak mereka. Andai sudah tertangkap dia tak akan segan untuk menjebloskannya ke penjara.
Vino mendadak jengkel dengan sikap Rio yang dinilainya terlalu ke kanak kanakan. Seharusnya Rio mendengarkan penjelasan Anindya bukannya pergi begitu saja tanpa kejelasan. Kalau saja pria itu saat ini ada di hadapannya pasti sudah habis ia hajar.
" Maaf kan aku Vino, jangan pecat Rio, biarkan aku yang mengundurkan diri." Anindya memohon dengan penuh pengharapan. Tatapan matanya terasa sangat menghujam batin Vino. Ternyata orang yang ia cintai selama ini lebih memilih orang lain.
Vino menarik nafas berat. Bagaimana pun ini semua masih menjadi kejutan besar baginya.Batinnyan belum siap menerima kenyataan ini.
" Iya aku ngerti Nin,,," jawabnya lemah.
Peraturan perusahaan yang tidak membolehkan suami istri bekerja dalam satu perusahaan membuatnya harus memecatnya salah satunya. Tapi keadaan Anindya yang seperti ini pastilah akan sangat membutuhkan banyak biaya. Dan Vino tidak tega untuk memecat Anindya.
__ADS_1
Tapi tidak mungkin juga dia memecat Rio yang notabene pegawai terbaiknya saat ini. Aahh benar benar posisi yang menyebalkan.
***
Baru saja masuk kerja Rio sudah di panggil keruangan Vino. Orang yang sangat ingin ia hindari sekarang justru menyuruhnya untuk menghadap.
Pikirannya belum sepenuhnya fresh. Di tambah dari tadi dia belum juga menemukan sosok Anindya. Kemana gadis itu. Jujur dia kangen sekali dengan istri cantiknya itu.
" Masuk. " suara Vino terdengar dari dalam ruangan tatkala Rio mengetuk pintu ruangannya.
" Duduk."
Rio menurut perintah Vino. Sadar kalau Vino atasannya.
" Lepaskan Anindya." suara Vino terdengar berat, dia bicara sambil tetap menunduk. Tapi ada penekanan dalam kalimat yang keluar dari mulutnya.
Rio seketika bergetar, kedua tangannya terkepal. Emosinya tiba tiba memuncak. Atas dasar apa laki laki brengsek itu menyuruhnya meninggalkan istrinya sendiri.
Sementara Vino tidak begitu yakin dengan keputusan yang sudah ia ambil. Tapi kelakuan Rio yang ia lihat tadi sore berjalan mesra dengan seorang wanita di pusat perbelanjaan membuatnya geram. Entah siapa wanita itu, yang jelas perempuan itu berlaku sangat manja pada Rio.
Rio berdiri dan berbalik hendak meninggalkan ruangan Direkturnya. Dia sangat geram dengan kelakuan Vino. Dia tidak ingin amarahnya meledak di situ.
" Anindya hamil anakku."
Seketika langkah Rio terhenti. Giginya gemertak, tinjunya terkepal kuat. Rasanya ingin sekali ia meninju muka Vino saat itu juga. Tapi ini tempat kerja ia tidak ingin menjadi bahan gunjingan teman sekantor. Dengan langkah geram Rio meninggalkan ruangan Vino tanpa menoleh sedikitpun dan membanting pintu keras keras sebagai wujud dari kemarahannya yang membuncah.
__ADS_1
Vino tertegun. Sifat dasarnya yang memang baik tidak mengizinkan dirinya berbohong seperti itu. Tapi emosinya menyuruh dia melakukan itu semata-mata hanya ingin membuat Anindya bahagia. Bebas dari cengkeraman pria Playboy seperti Rio.
Vino menghembuskan nafasnya. Kini ia merasa serba salah. Ketidak biasaannya berbohong membuatnya gugup dan ketakutan sendiri. Dia bersandar di kursi besarnya. Mendadak kepalanya terasa sakit.
***
Rio masih tidak percaya dengan omongan Vino barusan. Anindya hamil anak Vino? Tidak mungkin.
Rio tertunduk memijit pelipisnya. Ah,begitu banyak masalah yang ia hadapi selama ini,tapi masalah yang satu ini benar-benar membuatnya tidak sanggup berdiri kokoh lagi. Membuat jiwanya rapuh. Dan segalanya terasa hampa kini.
Nafasnya tersengal. Dadanya seperti terhimpit beban berat yang membuat ia merasa sesak. Pundaknya berguncang air mata menetes di sudut mata. Rio benar benar sakit hati.
Tadinya ia ingin memperbaiki semuanya. Tadinya ia ingin langsung memeluk Anindya dan meminta maaf karena telah mengabaikannya selama ini. Tapi sekarang malah ia yang terkejut dengan berita yang sangat membuatnya terpukul.
" Anindya."
Bergetar bibir Rio saat menyebut nama kekasih pujaannya. Hatinya seperti teriris sembilu kala mengingat perkataan Vino tadi. Ia tidak rela melepas Anindya begitu saja. Tidak akan pernah rela.
**BERSAMBUNG
Hai readers semua yang Author sayangi. Terima kasih sudah mengikuti karya Author sampai episode ini. Kritik dan saran Author tunggu apabila ada yang kurang berkenan, maafkan karena author masih belajar untuk memperbaiki tulisan author.
Seperti biasa like,komen,dan vote apabila berkenan selalu author tunggu. Dukungan kalian sangat berarti agar author selalu semangat untuk menulis.
Terima kasih😘😘**
__ADS_1