PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Anugerah terindah


__ADS_3

Anindya merasakan beberapa hari ini tubuhnya terasa lemas. Rasa kantuk juga sering ia rasakan. Kadang suka kesel sendiri ketika tengah bekerja tiba tiba saja rasa kantuk itu datang. Tidak biasanya ia seperti itu.


" Woooiii nguap mulu dari tadi." Gendis mengejutkan Anindya yg sedang menguap. Matanya memerah saking ngantuknya.


" iya nih ngantuk banget." Anindya mengucek matanya.


" Kamu begadang ya?" selidik Gendis.


Anindya menggeleng,boro boro begadang selesai sholat lsya pun dia langsung tidur.


" Y udh nanti kita makan siang bareng yaa." ajak Gendis.


" Aku nggak makan siang kayaknya,lagi males makan Dis." Anindya nyengir.


Gendis menggeleng, Anindya jarang makan sekarang. Dia lebih memilih tidur di Mushola kantor ketimbang makan. Bagaimana dia tidak jatuh sakit coba.


" Kalau begitu aku beliin aja ya,,,kamu harus makan Nin..." Gendis memaksa,dia tidak mau Anindya jatuh sakit.


" Gak usah Gendis sayang,,,aku gak laper." Anindya tersenyum. Gendis sangat baik padanya. Dia merasa terharu.


Gadis berambut panjang itu mengangkat bahunya. Dia menyerah dan akhirnya pergi makan siang sendiri.


Sepeninggal Gendis Anindya terpaku sendiri. Di otaknya tiba tiba muncul bayangan Rio, sepertinya beberapa hari ini Rio cuti. Tak pernah sekalipun ia melihat Rio muncul. Laki laki itu bahkan sudah tidak perduli dengan kepergiannya dari rumah. Bahkan menelepon pun tidak.


Anindya menelungkup diatas meja kerjanya. Rasa kantuknya datang lagi. Tidur sebentar sepertinya enak. Tapi air liurnya seperti keluar tiba tiba. Makan rujak sepertinya segar. Anindya bergegas turun dan membeli rujak yang mangkal di depan kantor.

__ADS_1


" Banyakin mangganya ya Bang" pinta Anindya.


Si Abang tukang rujak tersenyum. " Mbak lagi ngidam ya?"


Anindya terperangah mendengarnya. Tidak mungkin dia hamil. Emang orang hamil saja yang suka mangga muda.


" Enggak Bang saya memang suka mangga muda. " jawab Anindya santai.


" Tapi dari auranya kayaknya Mbak memang beneran hamil deh." lelaki yang berumur sekitar 25 tahun itu sepertinya yakin dengan pendapatnya.


Anindya mengerutkan alisnya. Masa iya dia hamil? Toh belum telat kok. Paling si abang ini cuma menebak.


" Ngarang ah si abang mah." Anindya nyengir sambil memberikan uang 10 ribu kepada si abang.


Air liurnya seolah tak tertahan lagi melihat rujak mangga di tangannya. Terngiang perkataan tukang rujak tadi. Anindya mencoba mengingat kapan terakhir dia haid. Tapi ternyata dia tidak ingat sama sekali. Setahu dia semingguan lagi jadwal dia dapat tamu bulanan. Ah peduli amat dia tidak mau memikirkan hal itu.


Pulang kerja Anindya mampir ke tukang sate untuk membeli makan malamnya nanti. Tapi baru saja dia masuk ke kedai sate tersebut asap dari bakaran sate tiba tiba saja membuatnya mual. Kepalanya terasa pusing. Anindya mengurungkan niatnya. Dia bergegas pergi dari situ.


Sambil berjalan menuju kostan Anindya terus berpikir. Mungkinkah dia benar benar hamil? Kalau memang benar hamil apa yang harus ia lakukan sekarang? Ya Tuhan apa Rio akan percaya kalau dia hamil karenanya? Atau ini malah akan memperburuk situasi antara dia dan Rio.


Anindya masih menimbang tespek yang sudah ia beli tadi. Hatinya masih ragu untuk melakukan tespek. Teringat beberapa kemungkin buruk yang mungkin nanti akan terjadi.


Anindya menarik nafas pelan. Kenapa nasib pernikahannya seperti ini. Dia tidak mungkin mengatakan hal ini kepada kedua orang tuanya. Dia tidak ingin jadi beban pikiran orang tuanya lagi.


Dengan langkah gontai ia berjalan ke kamar mandi. Mudah mudahan saja dia tidak hamil. Setidaknya untuk saat ini lebih baik dia tidak hamil dulu. Bukan tidak mau di beri anugerah itu, jujur dia pun sebenarnya ingin sekali mempunyai anak secepatnya. Tapi situasi saat ini tidak memungkinkan dia untuk hamil.

__ADS_1


Anindya memejamkan matanya. Dia tidak berani melihat langsung hasil tespek yang baru saja ia gunakan. Dengen sedikit membuka matanya dia mengintip hasil dari alat tespek tersebut.


Kedua matanya terbelalak. Tidak percaya dengan dua garis merah yang terlihat jelas di situ. Tubuhnya mendadak lemas. Hatinya berkecamuk. Antara bahagia dan juga sedih bercampur jadi satu.


Bukan ini yang ada dibayangan dia. Harusnya sekarang Rio memeluknya dan mengucapkan selamat atas kehamilannya. Tapi sekarang dia malah tidak punya nyali sedikitpun untuk memberi tahu Rio tentang kabar kehamilannya.


Anindya meremas rambutnya. Matanya berkaca-kaca. Dia mengelus perutnya.


" Terima kasih kamu sudah hadir nak...Ibu janji akan mempertahankan kamu,berjuang demi kamu." gumamnya lirih.


Anindya berjalan limbung keluar dari kamar mandi. Pantas saja akhir akhir ini badannya sering lemas, tidak nafsu makan dan sering ngantuk. Ternyata ada kehidupan baru di rahimnya yang harus ia jaga.


Anindya meraih ponselnya. membuka kontak Rio. Di tatapnya foto profil Rio yang ada di WhatsApp. Dia merasakan perasaan kangen yang membuncah. Dia kangen laki laki itu. Air matanya keluar perlahan di sudut mata. Tak pernah ia merasakan nelangsa seperti ini.


Aku hamil Rio. Anak kamu. Anak kita. Apa kamu masih mempercayaiku?


Anindya nengusap air matanya. Mencoba untuk tegar. Bagaimana pun dia tidak boleh stres. Anak yang masih dalam rahimnya bisa merasakan kalau dirinya banyak pikiran.


Anindya kembali memejamkan matanya. Ia harus istirahat. Tidak boleh terlalu larut dalam perasaanya yang sekarang.


Tapi tiba tiba perutnya terasa mual, seperti ada logam di taruh dalam lidahnya. Setengah berlari dia pergi ke kamar mandi mengeluarkan semua isi perutnya. Ya Tuhan ternyata hamil muda itu seperti ini rasanya,batin Anindya dengan tubuhnya yang terasa lemas.


Andai saja dia dan Rio masih baik baik saja, pasti saat ini laki laki itu sedang memijit pelipisnya, memberi semangat dan menenangkannya. Ah dia butuh Rio saat ini. Dia ingin di manja seperti biasanya.


Anindya menangis tersedu. Merasakan sesak di dadanya. Ia ingin sekali berhambur ke pelukan suaminya itu. Tapi dia tidak tahu apakah Rio masih mau menerimanya atau tidak.

__ADS_1


***BERSAMBUNG


Jangan lupa vote, like dan komen nya ya readers tercinta 😘***


__ADS_2