
Rio menghembuskan nafas kesal. Hari ini dia bertekad mencari Anindya sampai ketemu. Ponsel Anindya dari kemarin tidak bisa di hubungi. Ini membuat Rio semakin frustasi.
Rio bersandar di kursi kerjanya. Pikirannya benar benar kacau. Rasanya ia tidak ingin mengerjakan tugas tugasnya yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Sayang ia hanya seorang pegawai di kantor ini bukan bos seperti Vino,yang tentu saja bisa lebih bebas dari dia di saat seperti sekarang ini.
Pikiran Rio berkecamuk. Dalam benaknya timbul beberapa praduga. Kenapa Anindya seperti menghindarinya? Bahkan ponselnya tidak aktif dari kemarin. Jangan jangan dia sengaja mengganti nomor hp nya?
Tak sabar ia menanyakan kepada Gendis lewat chat.
Dis, sudah berapa hari Anindya tidak masuk?apakah dia sakit?
Rio tidak sabar menunggu balasan dari Gendis.
Baru kemarin dia tidak masuk, memang mas Rio tidak tahu kalau Anindya sudah mengundurkan diri?
Rio terhenyak. Begitu banyak kejadian mengejutkan sepeninggal dia liburan. Dia tidak menyangka kalau semuanya akan sekacau ini.
Laki laki itu berkali-kali mengacak rambutnya frustasi. Dia sungguh menyesal telah mengambil cuti selama ini. Tadinya dia berharap keadaan akan membaik setelah mereka berdua mengambil waktu untuk berpikir. Tapi kenyataan yang terjadi malah sebaliknya.
Apa benar Anindya sudah tidak mau berhubungan lagi dengannya dan lebih memilih Vino? Apa benar Anindya sedang mengandung anak Vino?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergema dalam gendang telinganya. Seolah terus berbisik dan membuat Rio menduga-duga sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
***
Gendis mengernyitkan dahinya. Dia heran perihal Rio yang justru tidak tahu tentang pengunduran diri Anindya. Bukan kah kedua orang itu begitu dekat sebelumnya? Bahkan orang yang tidak tahu kalau mereka bersaudara pasti akan mengira kalau mereka itu sepasang kekasih.
__ADS_1
Ah ya sudahlah,toh bukan urusan dia. Gendis tersenyum menatap foto profil Rio di kontak WhatsApp nya. Kenapa pria itu begitu manis. Sikapnya yang sopan dan selalu baik selalu membuat dia terpikat. Walau sedikit cuek dan dingin Gendis tetap suka. Justru sikap seperti itulah yang membuatnya makin penasaran.
Teringat kejadian kemarin sore yang mempertemukan mereka di sebuah mall tanpa sengaja. Kala itu Rio tengah membeli keperluan pribadinya dan dirinya pun tengah mencari kado untuk keponakannya yang akan berulang tahun. Mereka berpapasan pas saat mereka selesai mencari barang yang di butuhkan. Gendis sangat senang dan Rio sedikit terkejut ketika bertemu dirinya.
Pertemuan itu berakhir dengan makan malam yang bagi Gendis sangat romantis. Ya,,,makan bareng dengan orang yang di sukai di manapun tempatnya pasti akan terasa romantis. Malam itu dia bisa bermanja pada Rio. Tidak seperti biasanya Rio yang bersikap dingin hari itu tidak menolak ketika dia bergelayut manja di tangannya. Entahlah karena memang Rio suka atau justru enggan menggubrisnya yang membuat dia tiba tiba saja bersikap seperti itu. Yang jelas Gendis merasa sangat bahagia. Malam itu adalah malam paling berkesan dalam hidupnya.
***
Anindya masih terbaring di ranjang rumah sakit. Hanya sendirian. Kata dokter ia harus bedrest karena kandungannya sedikit lemah. Dia hanya boleh ke kamar mandi, dan selebihnya semua aktivitasnya hanya boleh di lakukan di atas kasur. Aktivitas apalagi di atas kasur selain tidur.
Anindya menarik nafas jengah. Sungguh ia merasa bosan luar biasa. Apalagi di kamar ini ia hanya sendirian. Tidak ada yang menemani. Kemarin sih Vino menemaninya seharian tapi hari ini dia izin untuk masuk kerja karena ada meeting dengan klien penting perusahaannya.
Anindyapun membolehkan karena dia juga sebenarnya tidak ingin merepotkan Vino terlalu sering. Pikirannya menerawang ke langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih. Teringat akan sosok Rio yang entah di mana kini. Apakah dia sudah pulang dari cutinya.
Dengan sedikit kesusahan dia meraih tas yang berada di atas nakas. Dia mengambil ponselnya dari tas itu.
Anindya memejamkan matanya dengan hati yang dongkol. Dia merutuki dirinya sendiri yang lupa membawa power Bank. Padahal benda itu salah satu benda yang wajib ia bawa ketika hendak bepergian.
" Selamat sore Anindya!" Vino datang mengejutkan Anindya yang hampir terlelap dalam tidurnya yang menahan jengkel.
Anindya tersenyum. Dia mengucek matanya menghilangkan kantuk yang sudah bergelayut di matanya.
"Aku membawa makanan buat kamu. Makan ya aku suapin." Vino membuka bungkusan makanan dalam kotak. Sepertinya Vino sengaja mampir ke restoran untuk membeli makanan itu.
Dia membeli dua bungkus, satu untuknya dan satunya lagi untuk Anindya.
__ADS_1
"Tidak usah aku makan sendiri saja." Anindya menggeleng.
" Ya sudah aku bantu kamu duduk,,,pelan pelan..." Vino membantu Anindya duduk dengan gerakan yang sangat hati hati.
Vino menyodorkan makanannya disambut uluran tangan Anindya menerimanya. Dengan sedikit kepayahan Anindya berusaha melahap habis makanannya. Dia ingin anaknya mendapatkan asupan makanan yang bergizi walaupun selama makan tak jarang ia menahan keinginannya untuk muntah.
Vino tersenyum senang melihat Anindya yang makan dengan lahapnya. Mungkin keadaan gadis itu sudah jauh lebih baik.
"Oh iya Vin, kamu bawa power bank gak? aku pinjam." Anindya teringat ponselnya yang mati.
Vino mengangguk dan mengeluarkan power bank dari dalam tas kerjanya. Anindyapun segera mengecas hpnya agar segera bisa di hidupkan lagi.
"Apa Rio sudah masuk kerja?" tanya Anindya pelan, walaupun ia tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Vino terdiam sebentar. Dia berpikir kalau Anindya mungkin sangat merindukan Rio. Terlihat dari matanya yang sangat ingin tahu tentang kabar Rio.
" Iya sudah,hari ini dia mulai masuk." Jawab Vino lirih. Dia pun berusaha menyembunyikan gejolak perasaannya yang tidak karuan. Antara rasa bersalah dan rasa ingin memiliki, menjadikan Vino merasakan kebimbangan yang sangat.
Anindya terlihat sumringah. Kedua bola matanya berbinar bahagia. Rasa rindunya yang membuncah pada Rio menjadikannya ingin segera bertemu dengan lelaki itu. Entah Rio akan menerimanya atau tidak nanti ia tidak perduli. Yang jelas dia sangat ingin melihat wajah Rio secara langsung.
Vino sengaja pura pura batuk untuk membuyarkan lamunan Anindya. Dan benar saja gadis itu sedikit terkejut.
"Ada yang ingin aku omongin mengenai Rio." wajah Vino berubah serius.
Anindya mengerutkan dahinya. Suasana hatinya berubah tegang. Ada kabar apa yang Vino bawa berkaitan dengan kekasih hatinya? Perasaannya mendadak tidak enak. Ya Tuhan mudah mudahan bukan kabar buruk,doanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk budayakan like, komen atau votenya ya,,,agar author tetap semangat. Viewrs novel ini lumayan banyak tiap harinya tapi yang ngasih jempolnya cuma dikit,,,ayolah jangan pelit ngasih likenya 😘😘