
Hubungan Rio dan Gendis sudah semakin akrab. Anindya berusaha untuk tidak cemburu karena dia yakin Rio hanya mencintainya. Tapi tetap saja ketika tidak sengaja melihat kedekatan mereka hati Anindya seperti teriris.
Seperti hari ini, dia melihat Rio dan Gendis terlihat bahagia saat mereka pulang dari makan siang. Senyum mengembang di bibir masing masing. Sesekali terdengar Rio menggoda Gendis dan terlihat Gendis tersipu malu dibuatnya. Sungguh pemandangan yang menjengkelkan bagi Anindya.
" Kenapa? Kamu cemburu ya? " sebuah suara mengagetkan Anindya. Dia menoleh ke arah sumber suara.
" Vino. " desisnya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Vino. Terakhir mereka bertemu itu pas saat di pesta beberapa minggu yang lalu.
" Rio jadian ya sama Gendis? " tanyanya lagi dengan mata yang ikut mengawasi gerak gerik Rio dan Gendis. Jendela dari lantai atas memang tepat mengarah ke area parkir tempat Rio baru saja memarkirkan mobilnya selepas makan siang.
" Iya. " jawab Anindya pendek.
" Kamu cemburu? " selidik Vino
" Buat apa cemburu? Dia saudaraku. " Anindya menegaskan walau hatinya sendiri tidak menerima.
" Tapi mata kamu tidak bisa bohong loh. " Vino dengan tampang serius.
Anindya mengernyitkan alisnya. Berusaha untuk mengendalikan suasana hatinya.
" Kamu kaya peramal. " Anindya berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Aku peramal cinta. " Vino cengengesan.
" Eh nanti terlihat sama karyawan lain bisa jatuh pamor kamu. " Anindya tertawa dan mengingatkan Vino akan kedudukannya sebagai direktur perusahaan.
" Tidak apa apa asal bisa dekat dengan wanita secantik kamu. " Vino malah menggombal.
Anindya melotot. Ia mendorong tubuh Vino menjauh darinya. Sebentar lagi waktu istirahat siang akan segera habis. Ia khawatir karyawan lain akan segera masuk, dan dia tidak ingin karyawan lain memergoki dia sedang berduaan bersama Vino seperti saat ini.
Tapi terlambat Rio sudah melihatnya. Rio melihat Anindya dengan tatapan nanar. Matanya menyiratkan kecemburuan yang sangat.
" Selamat siang Pak Vino. " Rio sedikit membungkukkan badannya saat melewati tempat mereka berdiri.
__ADS_1
" Siang Rio. " Vino tersenyum tipis
Rio melangkah pergi tanpa memperdulikan Anindya yang terlihat salah tingkah. Hatinya sudah terlanjur panas.
" Oh iya,,, aku pinjem sepupumu untuk menemani aku makan malam ya. " teriak Vino membuat langkah Rio terhenti. Anindya terbelalak mendengar ucapan Vino yang tanpa persetujuan darinya.
Rio membalikan badannya. Melihat kearah mereka berdua.
" Silakan bawa sesuka hati bapak. " jawaban Rio sungguh membuat Anindya melongo. Dia tidak menyangka Rio akan sekasar itu terhadapnya.
Vino tersenyum puas. Dia menatap Anindya yang masih melongo.
" Bagaimana Nona cantik? Jadi kita makan malam hari ini? " tanya Vino bersemangat.
" Ah, jangan malam ini ya Vin. " mendadak Anindya merasa hatinya tak karuan. Dia baru sadar kalau mungkin ini juga yang Rio rasakan saat dia minta untuk makan malam bersama Gendis tiba tiba.
" Oke baiklah, besok malam aku jemput kamu ke rumah yaaa" Vino tersenyum dan meninggalkan Anindya yang masih mematung.
*****
Drrrttt.
Rio mengecek ponselnya,sebuah pesan dari Anindya masuk.
Jangan salah paham aku dan Vino tidak ada apa apa, aku juga menolak ajakan makannya malam ini.
Rio mendengus kesal. Tetap saja penjelasan Anindya tidak meredakan rasa cemburunya.
*****
" Dia yang berinisiatif sendiri bilang gitu ke kamu. Kami tidak ada janjian sebelumnya. " jelas Anindya melihat Rio yang begitu marah. Anindya merasa sedikit takut melihat kilatan api cemburu di mata Rio.
" Dengar ya Anindya, semua permintaan mu sudah aku turuti. Tapi bukan berarti kamu bebas dengan Vino. " suara Rio meninggi.
__ADS_1
Anindya terdiam, baru kali ini ia melihat Rio semarah itu. Rasanya ia ingin menangis sejadi jadinya malam ini.
" Ingat Anindya aku ini masih suami kamu, suka atau tidak suka kamu harus mengakui aku sebagai suamimu. Ingat kedudukan kamu Anindya. " Rio menatap tajam Anindya yang sedang tertunduk diatas sofa.
" Aku dengan Gendis itu karena kamu yang minta, sementara kamu dengan Vino itu murni karena keinginan kamu kan? " bentaknya lagi. Membuat Anindya makin terpojok tak berdaya.
" Kamu sengaja kan mencari alasan untuk bisa bersama Vino? Akui saja itu Anindya, jangan berbohong kepadaku! "
Kata kata Rio membuat pertahanan Anindya jebol. Air matanya tak kuasa ia tahan lagi. Ia menangis sesenggukan. Hal itu membuat Rio bimbang antara meneruskan marahnya atau meredakan tangis Anindya yang membuat ia tidak tega.
" Aku tidak serendah itu Rio. " Anindya menatap Rio dengan mata yang di penuhi air mata.
" Tapi kamu mencintai Vino kan? " Rio kembali tersulut emosi, dia tidak ingin di bohongi lagi oleh Anindya. Baginya saat ini adalah penentuan nasib pernikahannya. Lanjut atau berhenti sampai disini. Tidak ada lagi yang bisa di pertahankan kalau pada kenyataannya Anindya lebih memilih Vino daripada dirinya.
Anindya sudah benar benar sakit mendengar kata kata Rio. Dia berlari ke kamarnya dan menjatuhkan badannya ke atas kasur. Dia tidak tahu lagi harus menghadapi Rio dengan cara bagaimana. Semua omongannya tidak ada yang Rio percaya satupun.
Rio masih diam membeku diatas sofa. Sebenarnya dia masih belum puas dengan jawaban jawaban Anindya. Dia ingin gadis itu benar benar yakin dengan setiap ucapannya. Tapi semua terasa mengambang bagi Rio. Gadis itu masih ragu dengan statusnya yang sudah sah menjadi istrinya. Walaupun akhir akhir ini Anindya sudah sering menunjukkan perasaan cinta terhadapnya tapi itu ternyata belum cukup untuk meyakinkan Anindya tentang perasaannya sendiri.
Rio ingin Anindya jujur dengan perasaannya. Rio ingin Anindya menyadari perasaan apa sebenarnya yang ada dalam hati gadis itu untuknya.
Rio melangkah memasuki kamar Anindya. Melihat gadis itu masih meringkuk diatas tempat tidur dengan badan yang masih sesekali berguncang menandakan dia masih menangis.
Rio berusaha membalik tubuh Anindya perlahan. Terlihat wajah itu sudah penuh bersimbah air mata. Kedua matanya memerah. Rio tidak tega melihat. Di peluknya gadis itu dengan lembut.
" Maafkan aku. " Bisik Rio perlahan.
" Aku mencintaimu Rio. Aku sudah benar benar mengananggapmu suamiku. " Bisik Anindya lirih diantara isak tangisnya. Rio terhenyak. Apa benar yang di katakan Anindya barusan? Rasanya Rio tidak percaya.
" Katakan sekali lagi. " Rio melepas pelukannya dan menatap tajam dua bola mata indah Anindya.
" Aku mencintaimu. " ulang Anindya. Rio terlihat sumringah. Dia tertawa dan menari nari tidak jelas di depan Anindya. Membuat gadis itu tertawa. Rio tidak peduli dengan Anindya yang mungkin berpikir ia gila yang jelas malam ini ia sangat bahagia.
*Terima kasih Anindya, setelah penantian panjang akhirnya kamu mencintaiku. Aku akan menjagamu dari orang orang yang akan merebutmu dariku.
__ADS_1
**BERSAMBUNG*** . . .