
Cindy membuka matanya. Sesaat ia seperti menyelidiki siapa orang yang memapahnya. Ia merasa itu bukan Vino. Tapi aroma tubuhnya sudah sangat ia hapal. Aroma ini sudah tidak asing baginya. Cindy berteriak kecil saat ia tahu siapa orang di sampingnya itu.
"Dewi...." Cindy membuka matanya lebih lebar saat sudah sangat jelas ia mengetahui siapa gerangan orang itu.
Sementara orang yang di panggil Dewi tidak berkata apa-apa. Dia sudah sangat sibuk menjaga tubuh Cindy agar tidak ambruk.
" Kok kamu kesini tidak bilang bilang sih?" tanya Cindy dengan sisa kesadarannya.
Dewi tidak menjawab. Ia mulai memapah tubuh Cindy keluar dari club.
Vino tidak bergerak. Dia baru tahu kalau orang berpenampilan seperti laki laki itu ternyata adalah seorang perempuan.
Huuuhh... Vino menghembuskan nafasnya kuat kuat. Rasanya sedikit sesak melihat Cindy di bawa oleh perempuan itu.
Bruk!
Akhirnya tubuh Cindy benar benar terkapar. Rupanya Dewi tidak sanggup lagi menyangga berat tubuh Cindy yang lunglai.
Reflek Vino segera menghampiri Cindy yang tergeletak di lantai. Dewi terlihat berusaha sekuat tenaga membangunkan tubuh Cindy agar berdiri kembali.
Tapi usaha Dewi sia sia Cindy tetap terkulai lemas. Bibirnya sudah meracau tidak jelas. Entah apa yang dia katakan.
Vino berusaha untuk membantu Dewi. Tapi gadis itu menepis tangan Vino. Matanya melotot pada Vino. Dewi sepertinya sangat membenci Vino.
Cis, rasanya tidak percaya kalau dirinya kini sedang berebut seorang gadis dengan perempuan ini. Mimpi apa kamu Vino harus mengalami ini semua. Vino tak henti menggerutu sendiri dalam hatinya.
Vino kembali membiarkan Dewi mengangkat tubuh Cindy. Terlihat susah payah karena tak di pungkiri tenaga perempuan tidak sekuat laki laki.
Berkali kali usaha Dewi gagal. Keringat mulai membasahi keningnya. Cindy sudah meracau minta di angkat dan segera ingin pergi dari situ.
" Iya sabar sayang, kita akan segera pergi dari sini." Dewi kembali berusaha untuk mengangkat tubuh Cindy, tapi masih belum berhasil.
Vino sudah tidak tahan melihatnya. Ia mendorong tubuh Dewi menjauh dari Cindy. Dalam satu hentakan Vino berhasil mengangkat tubuh Cindy dalam gendongannya.
" Berikan padaku." Pinta Dewi bersiap menerima tubuh Cindy.
" Tidak akan" suara Vino datar.
" Tapi Cindy milikku." ucap Dewi penuh penekanan.
Vino tersenyum. Dia tidak menggubris ucapan Dewi barusan. Dia melangkah keluar membawa Cindy pergi.
Dewi mengejar Vino dari belakang. Gadis itu menghadang langkah Vino dan berusaha merebut Cindy dari gendongan Vino.
" Cindy, ikut aku, ayo kita pulang sayang." Cerocos Dewi berusaha membangunkan kesadaran Dewi.
__ADS_1
Tapi di luar dugaan Cindy malah mendorong tubuh Dewi menjauh.
" Gak mau, aku mau pulang sama Vino." Ucap Cindy dengan suara mendayu menandakan dia masih di kuasai minuman keras.
Dewi terdiam. tak percaya kalau Cindy berkata demikian. Berani menolaknya mentah-mentah seperti ini.
Vino menyeringai merasa menang. " Kamu dengar apa yang di bilang Cindy barusan? Aku rasa telingamu masih normal untuk mendengarnya."
Vino melanjutkan langkahnya menuju mobil. Meninggalkan Dewi yang masih mematung.
Cindy sudah duduk di samping Vino yang mengemudi mobilnya keluar dari pelataran parkiran club.
Sepanjang mengemudi dia berpikir harus kemana membawa Cindy pergi dalam keadaan mabuk berat seperti ini. Tidak mungkin ia mengantarkan Cindy pulang saat ini. Apa yang akan di katakan orang tua Cindy melihat anaknya di ajak mabuk seperti ini.
Cindy terus meracau tak karuan. Sesekali tubuhnya menggeliat membuat fokus Vino sedikit berkurang.
Rok selutut yang di kenakan Cindy sudah naik hingga menampakkan kulitnya yang putih bersih.
Shit!
Vino mendesis melihat pemandangan menarik di depan matanya. Pikiran nakalnya mulai mengembara kemana mana.
Tubuh Cindy yang ramping tapi seksi itu terlihat begitu menggoda. Pipinya merona merah akibat alkohol yang ia minum tadi.
" Diam Cyn jangan ganggu aku nyetir." suara Vino lirih penuh kegelian.
" Kamu tampan sekali sayang..." Cup Cindy mengecup pipi Vino.
Vino melirik sekilas ke arah Cindy. Sial dia mulai kehilangan konsentrasi kalau seperti ini.
Tangan Cindy merambat turun menelusuri dada bidang Vino membuka satu kancing kemejanya. Memainkan jarinya di sekitar situ.
" Hentikan gadis bodoh....!" Hardik Vino dengan wajah gelisah.
" Aku mencintaimu Vin." Suara Cindy parau masih di kuasai alkohol.
Vino terdiam. Kata kata Cindy barusan apakah benar adanya? Bukankah Cindy?
Vino menghentikan mobilnya di bahu jalan. Dia menatap gadis yang masih bersender di bahunya.
Cin,,, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan tadi?" Vino menepuk pipi Cindy beberapa kali.
Vino menghembuskan nafasnya menyadari kalau Cindy benar benar mabuk berat. Jadi apapun yang di katakannya tidak bisa di percaya.
Vino mengembalikan posisi duduk Cindy seperti semula. Gadis ini terlihat begitu tak perdaya. Pantas kalau banyak gadis berhasil di gagahi pria hidung belang saat mabuk seperti ini.
__ADS_1
Rok Cindy yang selutut itupun di benahi Vino agar tidak menggangu penglihatannya. Ia laki laki normal, wajar ketika melihat hal itu hasratnya bergejolak tak karuan.
" Diam ya anak manis, jangan bergerak terus, kalau kamu terus bergerak dan menggodaku aku takut kita tidak akan sampai ke tujuan." Vino bicara sendiri sambil merapikan rambut yang menutupi wajah Cindy.
Tiba-tiba tangan Cindy melingkar di pundak Vino menariknya dan mengecup bibir Vino dengan berani.
Vino terkejut merasakan bibir Cindy yang mulai bergerak perlahan.
" Kamu yang minta sendiri gadis bodoh." Vino membalas lebih panas. Keduanya saling berpagutan tanpa henti. Vino mulai merasa badannya mulai gerah. Darah seakan mengalir lebih cepat.
Beberapa menit berlalu. Posisi duduk mereka sudah tak karuan. Nafas mereka pun sudah memburu.
Tok tok tok...!
Sebuah ketukan di kaca mobil menghentikan aktivitas mereka. Vino segera merapikan kemejanya yang sudah berantakan. Cindy pun berusaha untuk duduk dengan benar. Vino membantu membetulkan atasan baju Cindy yang hampir terbuka tadi.
Setelah di rasa semua aman Vino membuka kaca mobilnya. Terlihat dua orang polisi lalu lintas berdiri dan memberi hormat padanya.
"Selamat malam Pak!"
" Malam pak."
"Tolong perlihatkanlah SIM dan STNK nya pak."
Vino segera mengeluarkan Sim dan STNK nya dari dalam dompet. Polisi memeriksa sebentar setelah itu memberikannya kembali pada Vino.
" Kenapa berhenti disini Pak, area disini di larang parkir." Jelas polisi sambil menunjuk rambu jalan tepat di depan Vino.
Shit!
Vino memejamkan matanya kesal, kenapa ia begitu bodoh. Sudah jelas ada rambu di larang parkir disitu.
" Maaf pak, tadi saya ngantuk sekali, dan tidak melihat adanya rambu itu." Vino memberi alasan.
" Ya sudah kalau begitu lebih baik bapak cari penginapan terdekat, silakan lanjutkan perjalanan jangan berhenti disini." Polisi mempersilahkan Vino untuk menjalankan mobilnya pergi dari situ.
Vino menurut,ia segera menstarter mobilnya pergi dari hadapan polisi itu.
" Hahaha,,, Vino bodoh apa yang kamu lakukan." Vino tertawa menyadari kekonyolannya.
Ia mengacak rambut Cindy dengan gemas karena gara gara dia hampir saja ia di tilang polisi. Vino tersenyum ke arah Cindy yang kini sudah tertidur pulas.
**BERSAMBUNG...
Jangan pelit like dong author gak minta apa apa dari kalian cukup sematkan jempol kalian yang manis itu, karena itu akan sangat membantu author. Kalau boleh votenya sekalian hihihi...😁😁😘**
__ADS_1